Penting Mana, Hafal atau Paham Alquran

Tagar.id Dipublikasikan 23.06, 24/05
Penting Mana, Hafal atau Paham Alquran

Oleh: Syafiq Hasyim*

Saya sering mendapat pertanyaan, "Mengapa menghafal Alquran begitu marak di negeri kita dan apa yang menyebabkan fenomena semacam ini terjadi?" Jujur harus saya katakan di sini bahwa fenomena menghafal Alquran di Indonesia begitu dahsyat terjadi, paling tidak dalam kurun waktu 15 tahun terakhir.

Pesantren hafalan Alquran dibuka di mana-mana. Tidak hanya dibuka, juga diminati banyak kalangan di Indonesia. Dulu yang mengirimkan anak untuk menghafal Alquran adalah kalangan menengah ke bawah dan rata-rata dari masyarakat perdesaan. Kini orang-orang kaya di kota berbondong-bondong juga mengirimkan anak mereka untuk menghafalkan Alquran di pondok-pondok pesantren penghafal Alquran. Sudah barang tentu banyaknya jumlah penghafal Alquran itu merupakan hal yang menggemberikan bagi kita semua, namun lebih menggembirakan lagi apabila banyak juga yang memahami isi Alquran.

Mengkaji, memaknai, mencari rahasia hidup dan pengetahuan dan menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup yang tidak akan lekang. Tanpa kemampuan memaknai Alquran, sesungguhnya kita memiliki hidup yang kurang sempurna. Kita tampaknya banyak sekali penghafal Alquran, tapi sedikit sekali pengkaji Alquran.

Sayangnya, banyak penghafal Alquran yang tidak mengerti isi dan makna Alquran itu sendiri. Mari kita melihat sejarah pewahyuan Alquran. Alquran diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW dengan membawa dua hal penting.

Pertama, Alquran diwahyukan untuk membuka hati (fath al qulub) dan kedua, Alquran diwahyukan untuk membuka akal (fath al aql) orang-orang Mekkah dan Madinah saat itu. Mereka yang hati dan akalnya terbuka berhasil menerima dan menjadikan Alquran sebagai cara mereka berakhlak, menjalani hidup dan sekaligus menjadi benteng perlindungan bagi kehidupan mereka sehari-hari.

Mengapa banyak orang menghafal Alquran? Mari kita lihat pengertian dan definisi Alquran yang diberikan oleh para ahli dalam kitab-kitab mereka. Alquran mereka definisikan sebagai kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad yang membacanya kita sudah mendapat pahala (al mutaabbad bi tilawatihi).

fenomena menghafal Alquran di Indonesia begitu dahsyat terjadi, paling tidak dalam kurun waktu 15 tahun terakhir.

Karena dengan membacanya saja sudah mendapatkan pahala maka bisa dimaklumi apabila banyak umat Islam yang antusias membaca Alquran. Membaca di sini juga termasuk menghafal, karena menghafal adalah bagian dari membaca Alquran dalam pengertian luas yaitu membaca Alquran melalui hafalan.

Tradisi menghafal Alquran yang begitu meriah ini mestinya dibarengi juga dengan kegairahan untuk memahami isi Alquran. Kecintaan kepada Alquran itu tidak hanya diwujudkan dalam bentuk menghafal namun juga diwujudkan dalam bentuk mengkaji Alquran, memaknai kandungan Alquran, mencari rahasia hidup dan pengetahuan dan menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup kita.

Tanpa kemampuan memaknai Alquran, sesungguhnya hidup kita masih jauh dari sempurna. Negara seluas Indonesia dan tempat tinggal umat Islam terbesar di dunia, seharusnya menjadi tempat yang subur tidak hanya bagi tradisi tilawah dan penghafalan Alquran namun juga menjadi pusat pengkajian Alquran.

Selama ini keadaan di Indonesia timpang, kita melihat banyak sekali penghafal Alquran, namun kita memiliki tidak banyak penafsir Alquran. Keadaan yang timpang inilah yang menyebabkan sedikit sekali kita bisa memberi sumbangan pada pengembangan pada ilmu tafsir di tingkat global. Selain itu karena kurangnya para pengkaji Alquran sehingga marak pemahaman-pemahaman atas Alquran yang tidak didasarkan pada ilmu itu menjadi marak. Tidak hanya paham tapi juga marak gerakan-gerakan ekstrem yang didasarkan pada cara penafsiran Alquran yang pendek dan tak berdasar.

Rasulullah pernah menyatakan pada sebuah hadisnya: "Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian semua adalah seseorang yang membaca Alquran hingga terlihat kebesaran Alquran pada dirinya. Dia senantuasa membela Islam. Kemudian ia mengubahnya, lantas ia terlepas darinya. Ia mencampakkan Alquran dan pergi menemui tetangganya dengan membawa pedang dan menuduhnya syirik." Sahabat Hudzaifah bertanya: "Wahai Nabi Allah, siapakah di antara keduanya yang lebih berhak atas kesyirikannya, yang dituduh atau yang menuduh. Rasulullah menjawab: "Yang menuduh". (HR. Bazzar).

Idealnya seorang penghafal Alquran juga merupakan penafsir Alquran. Dia mengerti dan memahami makna setiap kata yang dia hafalkan. Namun pada kenyataanya tidak demikian adanya. Pesantren-pesantren hafalan Alquran biasanya hanya memfokuskan pada hafalannya. Para santri tidak terlalu banyak dibebani untuk belajar alat menafsirkan Alquran. Karenanya banyak kita jumpai para penghafal Alquran yang tidak paham makna dan kandungan Alquran. Mereka melakukan hafalan yang semata-mata untuk keperluan ibadah bukan keperluan tafakur atas wahyu Allah.

Taabudi bisa dicapai dengan hafalan. Namun tafakkur hanya bisa dicapai dengan belajar memahami kandungan Alquran. Di pusat-pusat hafalan Alquran, pesantren-pesantren tradisional, setelah menamatkan hafalan Alquran mereka melanjutkan belajar ilmu-ilmu keislaman seperti Nahwu, Shofo, Fiqih, Ilmu Tafsir, Ushul Fiqih dan lain sebagainya untuk meningkatkan pemahaman terhadap Alquran. Semua dipelajari agar mereka bisa memaknai, menafsiri dan memahami secara benar kandungan Alquran. Karenanya, keadaan yang sangat ideal bagi kita semua adalah apabila para penghafal Alquran juga mengetahui dan memahami isi Alquran.

Keadaan ini yang bisa membawa kita, umat Islam Indonesia, umat Islam terbesar memberikan sumbangan pada pengembangan kajian Alquran. Bukankah memahami Alquran adalah kunci kemajuan Islam.

*Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Wakil Ketua Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU), MA dari Leiden University, Belanda. Ph.D dari Freie University, Jerman.

Baca juga:

  • Benarkah Membantu Orang Beda Agama Tidak Dapat Pahala
  • Fatwa Ulama Dunia Cara Ibadah Islam Saat Wabah Corona
Artikel Asli