Penjualan tertekan, ini prospek saham emiten kertas Grup Sinarmas

Kontan.co.id Dipublikasikan 14.29, 13/08/2020 • Kenia Intan

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten pulp and paper Grup Sinarmas, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (TKIM) kurang memuaskan sepanjang enam bulan pertama 2020. 

Kedua emiten itu kompak mencatatkan penurunan penjualan bersih. Di semester I 2020,  INKP mengantongi penjualan hingga US$ 1,48 miliar atau turun 5,75% year on year (yoy). Sementara TKIM membukukan penurunan penjualan yang lebih dalam, hingga 22,09% yoy menjadi US$ 450,07 juta. 

Walaupun penjualannya menurun, INKP masih mampu mencatatkan kenaikan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk 38,2% menjadi US$ 203,23 juta. Akan tetapi laba bersih TKIM justru terkikis hingga 14,44% menjadi US$ 89,6 juta. 

Baca Juga: Penjualan Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) tertekan, tapi laba tumbuh di semester I

Laba bersih INKP terselamatkan keuntungan selisih kurs yang meningkat signifikan. Pada periode yang sama tahun lalu, INKP membukukan kerugian selisih kurs hingga US$ 16,3 juta. Kini, INKP mencatatkan keuntungan selisih kurs hingga US$ 13,47 juta. 

Sebenarnya TKIM juga mencatatan keuntungan selisih kurs neto hingga US$ 7,02 juta. Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya, TKIM menanggung kerugian selisih kurs neto hingga US$ 13,40 juta. Akan tetapi, kenaikan ini belum mampu mengerek bottom line TKIM. 

Baca Juga: Penjualan dan laba Pabrik Kertas Tjiwi Kimia (TKIM) terkikis hingga dua digit

Head of Investmnet Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menjelaskan, keuntungan selisih kurs masih akan menjadi pendongkrak kinerja keuangan INKP dan TKIM hingga akhir tahun 2020. Sebab, tren penguatan dolar diprediksi masih akan berlanjut hingga akhir tahun. "Jika mereka ekspor otomatis akan diuntungkan dengan dolar yang menguat," jelas Wawan kepada Kontan.co.id, Kamis (13/8).

Jangan lupa, kedua emiten mencatatkan kinerja dalam mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Adapun tren penguatan dolar akan berlanjut sampai ada pembalikan arah ekonomi, salah satunya dengan distribusi vaksin Covid-19 ke masyarakat dan penurunan kurva pasien. 

Asal tahu saja, sepanjang semester I 2020 ini, penjualan ekspor INKP mencapai 54,41% dari total penjualan atau setara US$ 807,49 juta. Sementara penjualan ekspor TKIM mencapai US$ 290,37 juta atau setara 64,51% dari total penjualan. 

Menurut Wawan, INKP dan TKIM lebih menarik karena potensi bisnis yang membaik akibat pembatasan plastik. Diharapkan hal ini akan mendorong minat pada penggunaan produk paper bag. Selain itu, adanya peningkatan transaksi perdagangan online akan mendorong kebutuhan kertas sebagai pengemasannya. 

Wawan melihat saham INKP dan TKIM masih menarik untuk jangka panjang. Akan tetapi untuk jangka pendek INKP dan TKIM saat ini kurang menarik mengingat valuasinya saat ini sudah cenderung mahal. 

Asal tahu saja, selama seminggu terakhir saham INKP telah terkerek hingga 14,83% menjadi Rp 9.875. Sementara saham TKIM terkerek 4,83% menjadi Rp 7.050.

Baca Juga: Sengketa hak waris keluarga Eka Tjipta, tuntutan Freddy Widjaja & aset Rp 737 triliun

Bagi investor yang memiliki orientasi jangka panjang kurang lebih tiga tahun, Wawan melihat kedua saham terebut bisa dilirik. Akan tetapi investor jangka pendek disarankan waspada terhadap kurs dan laporan keuangan kuartal III. Bagi yang sudah punya sahamnya bisa hold, sementara yang belum punya bisa menunggu adanya koreksi. 

Sementara, Analis Panin Sekuritas William Hartanto menjelaskan kedua saham itu masih menarik karena secara teknikal masih uptrend. Adapun harga bubur kertas dan kinerja kuartal III masih akan mempengaruhi pergerakan INKP dan TKIM ke depannya. 

"Rekomendasi buy dengan target INKP Rp 10.000, dan TKIM Rp  8.800," kata William kepada Kontan.co.id, Kamis (13/8). Adapun saran itu berlaku dalam jangka pendek atau hingga akhir bulan ini. 

Baca Juga: Warisan Eka Tjipta disoal, bagaimana dampaknya ke emiten Grup Sinarmas?

Artikel Asli