Penjelasan Pakar Soal Maraknya Thread Pelecehan Seksual di Medsos

Merdeka.com Dipublikasikan 15.59, 07/08

                fetish kain jarik. ©2020 Merdeka.com/twitter @m_fikris
Menurut Diah, pelecehan seksual dapat menyebabkan korbannya merasa depresi, trauma, dan sulit untuk menjalin relasi yang intim secara fisik dan emosional. Pelecehan tersebut dapat membuat korban diam dan menyimpannya sebagai rahasia pribadi.

Akhir Juli lalu, masyarakat dihebohkan dengan thread atau rangkaian cuitan dari akun @m_fikris menceritakan pengalaman pelecehan seksual yang menimpa dirinya. Inti dari thread tersebut, pemilik akun @m_fikris merasa dilecehkan oleh seseorang yang bernama Gilang dan mengaku sebagai mahasiswa dari Universitas Airlangga serta sedang mengerjakan riset terkait bungkus membungkus manusia.

Psikolog dari Personal Growth, Diah Ayu Anggreni mengatakan, fetish sendiri muncul seiring perkembangan manusia. Meski demikian, ada fetish yang dianggap normal dan ada beberapa fetish yang dianggap menyimpang.

Berdasarkan buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), Fetishistic disorder termasuk ke dalam salah satu gangguan seksual atau disebut parafilia.

"Fetishistic Disorder adalah daya tarik seksual yang intens pada benda mati atau bagian tubuh tertentu yang pada umumnya tidak dipandang erotis atau tidak menimbulkan stimulasi secara seksual. Contohnya seperti tangan yang umumnya tidak dipandang secara seksual, tapi bagi yang mengidam fetishistic disorder hal tersebut dapat menimbulkan gairah seksual," kata Diah.

Dia mengungkapkan, terdapat 3 kriteria yang membuat seseorang didiagnosa mengidap fetishistic disorder. Kriteria yang pertama adalah ketertarikan seksual pada benda mati atau bagian tubuh yang tidak dipandang erotis selama lebih dari 6 bulan.

Kriteria yang kedua adalah fetish yang dimiliki menyebabkan distress yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari seseorang. Dan kriteria terakhir adalah obyek fetish yang dimiliki seseorang dengan Fetishistic Disorder bukanlah sesuatu yang dirancang untuk memenuhi gairah seksual.

Selain itu, Diah juga menduga adanya unsur Seksual Sadism dalam kasus yang beredar di Twitter tersebut. Dugaan ini muncul karena korban yang dibungkus akan merasa sesak napas atau menderita.

Secara umum seksual sadism adalah kondisi seseorang mendapatkan kepuasan seksual ketika pasangan atau korbannya merasa tersakiti atas tindakan si pelaku.

"Sexsual sadism sendiri ada cirinya, yang pertama adalah menyakiti korban sehingga korban merasa tidak berdaya secara fisik maupun mental, kemudian dilakukan minimal tiga kali tanpa adanya persetujuan dari korban. Kemudian juga fantasi seksual yang dimiliki mengganggu peran dan aktivitasnya sehari-hari," jelasnya.

Meski demikian, Diah menegaskan, dugaan-dugaan seperti mengidap Fetisistic Disorder dan Sexsual Sadism tersebut hanyalah dugaan semata jika melihat dari thread yang dibuat oleh korban. Sedangkan untuk benar-benar menyatakan seseorang mengidap gangguan seksual tertentu haruslah melalui konsultasi dan ditangani secara langsung oleh pihak yang ahli.

Maraknya Thread Terkait Pelecehan Seksual

Kasus terkait fetish kain jarik berkedok riset tersebut merupakan satu dari beberapa kisah pelecehan seksual yang kemudian menjadi trending di twitter. Belum lama ini, ada pula thread seputar pelecehan seksual yang melibatkan vlogger yang kemudian menjadikan nama dari vlogger tersebut masuk ke trending di twitter.

Menurut Diah, pelecehan seksual dapat menyebabkan korbannya merasa depresi, trauma, dan sulit untuk menjalin relasi yang intim secara fisik dan emosional. Pelecehan tersebut dapat membuat korban diam dan menyimpannya sebagai rahasia pribadi.

"Mereka (korban pelecehan seksual) enggak berani untuk cerita ke orang-orang. Jangankan kepada publik, bahkan kepada saudara terdekat dan orang tua saja mereka sangat membutuhkan keberanian untuk bisa menceritakannya. Jika dikaitkan dengan curhat yang dilakukan korban di media sosial kita mencari tahu terlebih dahulu terkait tujuannya," jelasnya.

Jika korban berani untuk menceritakan terkait pelecehan seksual yang mereka alami di media sosial, Diah menduga ada beberapa tujuan yang hendak dicapai para korban.

"Tujuan mereka yang curhat di media sosial bisa jadi pengen kasusnya tersebut ditindaklanjuti. Bisa jadi mereka yang menjadi korban sudah melapor ke polisi namun tidak ditindaklanjuti. Kemudian bisa juga mereka ingin mendorong orang lain yang mengalami pengalaman yang sama untuk speak up. Bisa juga tujuannya adalah untuk memberi pelajaran kepada pelakunya. Atau tujuan lain membuat masyarakat agar lebih aware."

Menurut Diah, menceritakan kasus pelecehan seksual yang dialami ke media sosial dapat membuat seseorang merasa lebih lega. Selain media sosial, dia juga menyebutkan, bercerita ke orang-orang terdekat seperti teman dan keluarga juga dapat meringankan beban bagi korban pelecehan seksual.

Jika korbannya sudah merasa sangat kesulitan dengan pelecehan seksual yang mereka alami, Diah menyarankan, untuk tidak ragu dan mencari bantuan ke psikolog klinis atau ke psikiater.

Selain perasaan lega, menceritakan seputar pelecehan seksual yang dialami kepada orang yang tepat juga sangat penting. Menurut Diah, jika korban yang menjadi depresi dan trauma setelah menerima pelecehan seksual tidak difasilitasi dengan baik, tidak menutup kemungkinan mereka akan menjadi pelaku di kemudian hari.

Hal ini dikarenakan asumsi yang diterima korban setelah mengalami pelecehan seksual dapat menyebabkan kekeliru dan jika korban tetap diam, ia akan terus membangun asumsi yang keliru tersebut tanpa mendapat penjelasan seputar asumsi yang tepat.

Menceritakan tentang pelecehan seksual yang dialami seseorang di media sosial tentu memberikan dampak bagi korban maupun pelaku. Selain korban dan pelaku, masyarakat yang membaca atau mengonsumsi thread tersebut juga kemungkinan mendapat dampak yang positif serta dampak yang negatif.

"Untuk masyarakat, dampak positifnya adalah mereka bisa lebih aware dan dapat dijadikan pelajaran jika nantinya mereka menghadapi kasus yang serupa yang sudah mencurigakan dari awal, mereka jadi sudah tau langkah antisipasinya seperti apa. Selain itu juga dapat meningkatkan empati terhadap korbannya. Selain itu juga membantu menekan yang berwajib untuk memberikan ganjaran yang setimpal kepada pelaku," jabarnya.

Meski dapat memberikan dampak yang positif bagi pembacanya, thread seputar pelecehan seksual juga dapat memberikan dampak yang negatif jika tidak ditanggapi dengan bijak.

Pembaca yang tidak bijak tersebut dapat melihat thread tersebut sebagai modeling dan nantinya meniru apa yang dilakukan pelaku. Oleh karena itu, penting bagi pembaca untuk memahami apakah thread yang mereka baca tersebut hal yang positif atau justru hal yang buruk.

"Bagi anak-anak yang sudah aktif di media sosial, orang tua perlu extra dalam pengawasan. Karena anak-anak masih belum matang cara berpikirnya, ditakutkan mereka salah memahami dan salah asumsi terhadap berita yang dibaca. Jadi orang tua juga harus memberikan edukasi apakah ini berita baik atau buruk. Jadi yang buruk tidak boleh ditiru," tutup Diah.

Artikel Asli