Pengusaha: Pariwisata Bali Belum Terasa Dampaknya, Semua Daerah Harus Dibuka

kumparan Dipublikasikan 13.08, 05/08 • kumparanBISNIS
Wisatawan beraktivitas di Pantai Tanah Lot, Tabanan, Bali. Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

Secara perlahan pariwisata di Indonesia yang sempat vakum karena virus corona sudah mulai dibuka lagi. Daerah yang secara resmi dibuka pariwisatanya oleh pemerintah adalah di Bali.

Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), Budijanto Ardiansjah, mengatakan memang sudah seharusnya Bali dibuka. Sebab, mayoritas masyarakat Bali mengandalkan kehidupannya di sektor pariwisata.

Namun, Budjianto menilai sudah dibukanya pariwisata Bali pada akhir Juli kemarin hingga saat ini belum berdampak banyak ke para pengusaha.

"Terasa sih belum, karena baru beberapa hari kemarin. Saya juga baru berbincang dengan kawan dari Bali memang masih sepi sekali Bali, kemarin baru beberapa penerbangan yang masuk," kata Budijanto saat dihubungi, Rabu (5/8).

Meski begitu, Budijanto tetap menyambut baik kebijakan pemerintah membuka pariwisata di Bali. Ia berharap langkah itu menjadi pemicu dibukanya pariwisata di daerah lain, sehingga dampak positifnya akan lebih terasa.

Ilustrasi junior milenial backpacking ke Bali Foto: Shutter Stock

"Kemudian trigger juga bagi pemerintah pusat agar memberikan relaksasi ke semua daerah untuk membuka kembali kawasan wisatanya, sehingga pariwisata domestik bisa berjalan, paling tidak pariwisata domestik dulu bisa berjalan. Ya kami harapkan seluruh daerah," ujar Budijanto.

Budijanto menjelaskan pariwisata seperti di Puncak dan di Bandung juga sudah mulai didatangi wisatawan meski belum dibuka secara resmi. Ia berharap masyarakat sudah mulai berwisata lagi di tengah pelonggaran yang diberikan pemerintah.

Budijanto mengakui saat ini memang sudah mulai ada permintaan dari masyarakat untuk pariwisata ke daerah-daerah. Namun, jumlahnya tidak signifikan.

"Sekarang ini memang permintaan sudah ada tapi belum terlalu banyak. Kita berharap masyarakat yang menjalankan pariwisata agar menggunakan jasa biro perjalanan, jangan nge-book langsung ke airline, ke hotel, supaya semua perekonomian bisa bergerak gitu," katanya.

Artikel Asli