Pengunjung Masih Sepi, Pebisnis Ritel Mulai Keteteran

Kontan.co.id Dipublikasikan 02.59, 05/08 • Amalia Nur Fitri, Sandy Baskoro, Selvi Mayasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Belum ada tanda-tanda pandemi corona mereda dalam tempo singkat. Bahkan efek buruk Covid-19 kian masif dan menghantam berbagai sektor bisnis.

Kabar teranyar, para peritel fesyen global terancam tumbang. Bloomberg mencatat setidaknya 25 peritel utama di AS mengajukan perlindungan kebangkrutan sejak awal tahun. Bahkan 10 peritel di antaranya mengajukan perlindungan kebangkrutan dalam lima pekan terakhir.

Pemilik merek Mens Wearhouse yaitu Tailored Brands Inc dan pusat perbelanjaan Lord & Taylor mengajukan dokumen kepailitan Chapter 11 pada akhir pekan lalu.

Baca Juga: MNC Investama (BHIT) akan Restrukturisasi Global Bond Senilai US$ 231 Juta

Tekanan berat juga dialami para peritel di tanah air. Salah satu indikasinya tecermin dalam laporan kinerja keuangan selama masa pandemi.

PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) menderita kerugian bersih senilai Rp 407,93 miliar pada semester I 2020. Padahal di periode yang sama tahun lalu, MAPI masih mencatatkan laba Rp 499 miliar.

Baca Juga: Kinerja Kimia Farma (KAEF), Kalbe Farma (KLBF), dan Sido Muncul (SIDO) Moncer

"Kebijakan PSBB dan penutupan sementara pusat perbelanjaan sejak awal April berdampak pada kinerja keuangan kuartal kedua tahun ini," ungkap Ratih D. Gianda, VP Investor Relations & Corporate Communications MAP Group, dalam pernyataan resminya, kemarin.

PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) juga rugi Rp 358 miliar di semester I 2020. Manajemen LPPF mengakui corona mempengaruhi kinerja operasional mereka. "Sampai saat ini, kami telah menutup enam gerai format besar," sebut Terry O'Connor, Wakil Presiden Direktur Matahari, dalam keterangan resminya.

Baca Juga: Kinerja Emiten Ritel Terpapar Pandemi Corona, Begini Saran Analis

PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI), pengembang Pondok Indah Mall, juga mengakui bisnis ritel masih melemah. "Pengunjung mal mulai naik, namun masih jauh dari kondisi normal," ungkap Wakil Direktur Utama MKPI, Jeffri Tanudjaja, kemarin.

Dia mengakui tingkat kunjungan ke Pondok Indah Mall masih di bawah 50% dari kondisi normal. "Sampai saat ini, kami masih memberikan rental discount kepada para penyewa," tutur Jeffri, yang memproyeksikan pendapatan dan laba bersih tahun ini berpotensi menurun.

Baca Juga: Bank Danamon Merugi di Kuartal II, Begini Rekomendasi Analis untuk Saham BDMN

Direktur Utama PT Mega Perintis Tbk (ZONE), FX Afat Adinata Nursalim mengatakan, pandemi berefek besar ke bisnis ritel, terutama di masa PSBB ketika mal harus tutup. "Namun setelah mal buka kembali, secara bertahap bisnis ritel mulai bangkit," kata dia, kemarin.

Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah mengakui penurunan transaksi ritel memang terjadi.

Baca Juga: Kinerja Emiten LQ45 Terpapar Pandemi, Ini Saham yang Direkomendasikan Analis

"Bisnis ritel fesyen di Indonesia terpukul sejak awal tahun, dimulai dari banjir lalu korona yang berujung penutupan mal sejak Maret sampai Juni," kata dia.

Pebisnis mengharapkan pemerintah mengucurkan insentif. "Seperti pemerintah Singapura dan Malaysia, yang mensubsidi pengusaha ritel dengan menalangi gaji karyawan ritel dan bantuan sewa untuk pengusaha ritel maupun pemilik mal," kata dia.

 

Artikel Asli