Penggunaan Kalsium Oksida Bisa Kurangi Asap Karhutla

Media Indonesia Dipublikasikan 06.57, 17/09/2019 • http://mediaindonesia.com/
 Pengendara kendaraan bermotor melintas di jalan Soekarno Hatta ketika kabut asap pekat dampak karhutla menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau.

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berkolaborasi dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerapkan modifikasi teknologi untuk menghilangkan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Teknologi modifikasi cuaca itu menggunakan kalsium oksida atau kapur tohor aktif (CaO) yang bersifat mengeluarkan panas. Kapur tohor ditaburkan di gumpalan asap sehingga dapat mengurai partikel hasil karhutla dan gas di udara.

Tujuannya ketika asap perlahan menghilang, radiasi matahari bisa menembus ke permukaan bumi. Cahaya matahari dibutuhkan dalam proses modifikasi cuaca atau hujan buatan untuk mempercepat penguapan di awan.

"Radiasi matahari terhalangi kabut asap, jadi awan susah terbentuk karena penguapan terhambat. Dengan kapur tohor aktif ini diharapkan konsentrasi asap berkurang, awan terbentuk, dan garam bisa ditebar untuk hujan buatan," ujar Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Tri Handoko Seto di Jakarta, pada Selasa (18/9).

Ia menjelaskan kabut asap pekat dari karhutla menjadi faktor yang menghambat proses penguapan sebagai syarat terbentuknya awan. Asap karhutla tertahan dan melayang di angkasa sehingga sinar matahari tidak tembus ke bumi dan proses penguapan air terhambat.

Hingga saat ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terus memantau potensi pertumbuhan awan agar bisa disemai untuk modifikasi cuaca.

Pada proses modifikasi cuaca melalui hujan buatan, penyemaian garam (NaCl) diperlukan. Untuk membuat hujan buatan, kata Handoko, dibutuhkan awan yang mencapai minimal 80%.

Sementara itu, BPPT telah menyiapkan 40 ton kapur tohor aktif yang sudah disiagakan di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Setelah mendapat arahan, Handoko menyampaikan pihaknya bisa menerbangkan kapur tersebut ke beberapa provinsi terdampak karhutla seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi dan Sumatra Selatan.

Untuk menaburkan kapur tersebut, BPPT akan menggunakan tiga jenis pesawat yakni Cassa 212 dengan kapasitas 800 kilogram, CN 295 dengan kapasitas 2.4 ton dan pesawat Hercules C 130 dengan kapasitas 4-5 ton.

Permasalahan karhutla tidak bisa hanya ditangani dengan menggunakan pemadaman darat dan udara saja. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo menyampaikan, hujan bisa meredakan kabut asap akibat karhutla dan mengurangi jumlah titik panas.

Seperti yang telah diberitakan Media Indonesia, BMKG telah memprediksi musim hujan akan masuk di sejumlah wilayah Indonesia pada pertengahan bulan Oktober. Oleh karena itu, hujan buatan salah satu langkah untuk penanganan karhutla. (OL-09)

Artikel Asli