Pengembangan Wisata Halal di Indonesia Masih Banyak Tantangan

kumparan Dipublikasikan 06.10, 15/11/2019 • Angga Sukmawijaya
Suasana di Kawasan Halal Park Senayan, Jakarta, Senin (16/4). Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan

Industri wisata halal digadang-gadang menjadi alternatif pengembangan perekonomian nasional. Sebab, sektor ini relatif lebih stabil dan tak banyak terpengaruh gejolak global.

Ketua Umum Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI), Riyanto Sofyan, mengatakan satu-satunya sektor industri yang bisa tumbuh relatif cepat dan merata adalah pariwisata halal.

"Kalau wisata tidak tergantung dengan perang dagang, mau gimana aja orang tetap traveling," ujar Sofyan ketika ditemui di JCC Jakarta, Jumat (15/11).

Namun, dia menilai selama ini masih banyak kendala dalam pengembangan wisata halal. Terutama soal perspektif halal yang cenderung masih eksklusif sehingga bisa mempersempit pasar.

"Awareness pelaku pariwisata bahwa dengan halal, (harusnya) tidak ada masalah menyentuh ranah agama dan segala kebudayaan yang memang sudah ada," kata dia.

Selain itu, kata dia, Indonesia juga harus lebih sigap menangkap potensi pasar. Sebab, meski penduduknya mayoritas muslim, justru belum bisa mengoptimalkan jadi penggerak.

Ketua Umum Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI), Riyanto Sofyan. Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan

Ia menyebut, Indonesia perlu belajar dari negara-negara yang saat ini giat mengelola halal life style seperti di Thailand. Adapula, Jepang hingga Korea yang juga tak mau ketinggalan.

Riyanto mengatakan, hal yang penting diperhatikan selain konsep dan daya tarik wisata halal, adalah masalah aksesibilitas.

"Seperti Phuket, sudah ada direct flight dari Emirates, Doha, Qatar, Istanbul. (Sedangkan) Kita dari lombok direct flight cuma dari Kuala Lumpur. Itu menandakan aksesibilitas paling penting," .

Dari situ, Indonesia perlu menguatkan branding untuk pariwisata halal lebih luas dengan pengemasan yang menarik. Adapun, beberapa wisatawan potensial yang bisa digaet seperti Timur Tengah yang bisa menghasilkan USD 2.000-2.500 per kunjungan hingga negara-negara Asia terdekat dengan Indonesia.

"Dan eropa itu yang paling besar itu, dari Jerman, UK sama perancis. Dan mereka semuanya middle income up yang average income-nya kalau di Eropa bisa sampai 100 ribu euro. Jadi ini sangat potensial sebagai target kita," pungkasnya.

Artikel Asli