Pengamat penerbangan sebut maskapai tidak bisa bertahan lama dari rendahnya okupansi

Kontan.co.id Dipublikasikan 14.29, 05/07 • Amalia Nur Fitri

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengamat penerbangan, Alvin Lie mengungkapkan maskapai penerbangan tidak akan bisa bertahan lama dengan kondisi rendahnya okupansi penumpang. Jalan untuk melakukan perbaikan dengan menyusutkan operasional semaksimal mungkin, menjadi pilihan agar bisnis tetap bertahan.

"Ada empat hal yang bisa dilakukan oleh maskapai, pertama adalah melakukan penyusutan operasional pesawat, memaksimalkan rute domestik, memanfaatkan pengangkutan kargo, hingga mengurangi tenaga kerja, misal seperti pilot, awak kabin, teknisi, atau staff administrasi," jelasnya saat dihubungi Kontan, Minggu (5/7).

Baca Juga: Kurangi karyawan, Lion Group hanya operasikan maksimal 15% kapasitas normal

Alvin berkata, penyusutan biaya operasional pesawat bisa dilakukan dengan mengurangi pesawat berbadan besar seperti airbus 330 dan 747. Pesawat-pesawat yang sudah disewa ini pun kesulitan mengisi penumpang karena muatannya yang besar.

Selanjutnya, maskapai juga dapat memanfaatkan pengangkutan kargo, karena dengan terbatasnya pergerakan manusia di udara, perdagangan online meningkat pesat sehingga muatan kargo makin naik. Selain itu, rute domestik yang saat ini telah dibuka, bisa menghidupi maskapai walau agak terhambat adanya pemberlakuan syarat tes dan sertifikat COVID-19.

"Mengoperasikan penerbangan domestik ini cukup sulit. Saat ini rute domestik jadwalnya tidak reguler seperti dahulu. Lebih baik, maskapai tidak setiap hari melakukan penerbangan dan mengumpulkan dulu penumpang. Jika dipaksakan terbang, tetapi dengan jumlah penumpang 10 sampai 20 orang saja, bisa dikatakan rugi," lanjut dia.

Ia menyambung, dibandingkan dengan negara lain, rute domestik di Indonesia bisa dikatakan lebih ketat dengan adanya sertifikat tes anti COVID-19. Menurutnya, tidak ada negara lain yang memberlakukan hal tersebut.

Baca Juga: Citilink Indonesia targetkan 200 penerbangan setiap hari pada kuartal IV 2020

Alvin berkata, pemerintah dapat menghilangkan hambatan tersebut sebab hal itu mempersulit orang bepergian naik pesawat. Ia menilai, pemberlakuan tes ini tidak terlalu efektif dan hanya bersifat prosedural.

"Kalau mau mencegah, sebaiknya berlakukan saja protokol kesehatan kesehatan yang ketat, seperti pengukuran suhu tubuh, kewajiban memakai masker kesehatan, adanya sekat antar kursi dan pengurangan kontak dalam pelayanan," kata dia.

Ia menambahkan, di dalam pesawat juga sudah terdapat pipa yang efisien memfilter kuman, bakteri, dan virus. Ia berkata, jika dimudahkan maka penumpang domestik akan bergerak naik dan industri maskapai kembali hidup.

"Tetapi jika dibandingkan negara lain, hanya Indonesia yang sampai saat ini belum ada maskapai penerbangan gulung tikar. Ini sungguh luar biasa dan menjadi penanda kuatnya pasar angkutan rute domestik," ujarnya.

Artikel Asli