Pengalaman Unik acehkini: Jika Kehilangan Handphone Saat Liburan ke Korea

kumparan Dipublikasikan 05.15, 09/08 • ACEHKINI
Kantor Pos di Seoul, tempat acehkini mengambil ponsel yang hilang. Foto: Khiththati/acehkini

Apa rasanya kehilangan dompet atau handphone saat sedang berlibur? Panik pastinya, terlebih bila di dalamnya terdapat barang berharga atau dokumen lainnya. Hal ini pernah dialami acehkini pada Oktober tahun lalu, saat berlibur ke Korea Selatan.

Beberapa hari sebelum balik ke Indonesia, saya memutuskan berkunjung ke Kota Gangneung sebuah kota dekat pantai yang berjarak 2 jam 30 menit dari Seoul, Ibu kota Korea Selatan.

Gangneung dikenal dengan lautnya yang indah dan beberapa objek wisata sejarah yang menarik lainnya. Salah satunya yang sering menjadi tujuan para turis adalah pantai Jumunjin yang menjadi lokasi syuting drama terkenal Goblin dan lokasi foto cover salah satu album BTS, salah satu boy band terkenal dari Korea.

Namun, liburan yang semula direncanakan dengan baik berakhir pencarian handphone. Saat mengunjungi lokasi wisata pertama, tanpa sengaja ponsel saya terjatuh. Setelah menutuskan mencari ke banyak tempat sepanjang perjalanan, dan penginapan, ponsel tak kunjung ditemukan.

Panik pastinya. Karena tidak mengaktifkan aplikasi GPS, lokasi terakhir ponsel juga tidak terdeteksi, hanya saat terakhir menggunakan wifi yang terbaca. Berjam-jam pencarian yang tidak membuahkan hasil, dan yakin bahwa handphone terjatuh di dalam taksi saat ke pantai Gyeongpo, Kota Gangneung.

Danau Gyeongpoho, Kota Gangneung, Korea Selatan. Foto: Khiththati/acehkini

Melaporkan polisi adalah pilihan terakhir yang dapat dilakukan terlebih saat itu, karena saya sudah memesan tiket kembali ke Seoul. Berurusan dengan polisi saat liburan, bukan sesuatu yang menyenangkan. Terlebih senja sudah datang.

Hal itu juga yang terbayang saat sudah berada di depan sebuah kantor polisi di kawasan Gangneung. Karena berurusan dengan polisi di negara sendiri juga jarang, dan kalau bisa dihindari apalagi bila di luar negeri. Namun perasaan ragu hilang seketika melihat sambutan bersahabat para petugas yang ada. Mereka saat itu sedang berkumpul sebelum apel terakhir.

Polisi yang bertugas mencatat semua kronologi kejadian tanpa menyela walaupun dengan kemampuan terbatas saya dalam berbahasa Korea. Setelah selesai, mereka baru bertanya beberapa poin yang tidak jelas dengan ramah. Bahkan untuk mengurangi rasa panik mereka meminta kami duduk sebentar sambil berpikir.

Setelah mencatat kejadian, ciri ponsel dan detail lainnya. Para polisi ini membagi tugas untuk menelepon perusahaan taksi, dan penyedia kartu kredit. Kebetulan saat itu, membayar taksi menggunakan kartu teman di Korea. Namun, karena tidak menggambil resi bukti bayar, polisi susah melacak taksi yang dimaksud, terlebih karena tidak mengingat detil warna taksi.

Di Korea sendiri warna taksi dapat menentukan perusahaan apa yang mengoperasikannya. Namun pencarian tidak mudah seperti yang dibayangkan. Setelah berada di kantor polisi selama 20 menit, mereka belum juga menemukan taksi yang dimaksud.

Setelah tahu acehkini akan segera kembali ke Seoul, petugas polisi menyarankan untuk segera ke terminal bus dan berjanji akan terus mencari. Petugas meminta nomor yang bisa dihubungi di Korea Selatan, dan saya memberi alamat dan kontak seorang teman di Gangneung.

“Kami tidak bisa berjanji ponselnya akan ketemu namun akan mencoba yang terbaik,” kata petugas sambil membungkuk saat acehkini pamit dari kantor polisi. Keramahan petugas polisi tersebut memberikan kesan yang hangat dan mengurangi kepanikan karena kehilangan ponsel.

Pantai di Kota Gangneung, Korea Selatan. Foto: Khiththati/acehkini

Beruntungnya, saat liburan itu acehkini membawa laptop sehingga dapat berkomunikasi dengan beberapa teman melalui sosial media dan berhasil menambah keamanan untuk ponsel, dengan menggunakan koneksi jarak jauh dari laptop.

Dua hari kemudian, pada malam hari saat menemani teman mencari kamera di pasar Namdaemun. Saya menceritakan kasus ini pada penjual kamera di pasar itu. “Di Korea kalau ponselnya tidak jatuh ke tangan penadah ilegal pasti akan ketemu,” kata penjual itu.

“Hanya saja banyak orang di sini malas berurusan dengan polisi, biasanya mereka akan membiarkannya tergeletak begitu saja kalau jatuh di jalan,” tambahnya lagi.

Karena proses tawar menawar sedikit lama, saya memutuskan meminjam komputer toko itu sebentar untuk mengunakan media sosial. Begitu membuka ada beberapa notifikasi pesan dari salah seorang teman Korea. “Apa kamu kehilangan ponsel di Gangneung,” tanya Kyoeng Soon Ni, teman saya. Ia mengirim beberapa pesan untuk segera menghubunginya.

Kyoeng Soon Ni bercerita seorang petugas di kantor pos Gangneung menghubungi, karena menemukan ponsel acehkini di kotak barang-barang yang ditemukan di kantor pos. Ia bertanya alamat kemana ponsel itu bisa dikirim. Namun karena berada di luar Seoul, ponsel baru dapat dikirim keesokan harinya.

Ia merasa bingung saat dihubungi oleh petugas kantor pos. Karena saya tidak pernah bercerita tentang kehilangan ponsel dan kontak terakhir yang kami lakukan sehari sebelum keberangkatan ke Gangneung melalui Kakao Talk, sebuah aplikasi media komunikasi milik perusaaan Korea. Nomor ponselnya bahkan tidak tersimpan di ponsel saya. Karena sibuk, dia hanya berpesan untuk menghubungi sendiri petugas tersebut.

Saat mencerita kejadian ini pada pemiliki toko kemera ia hanya tersenyum dan berkata “Kamu beruntung dan semoga betah di Korea,” kata pemilik toko.

Setelah mendapatkan nomor petugas kantor pos dengan bantuan teman di Gangneung, saya menghubungi dan membuat janji akan mengambil ponsel keesokan harinya. Karena kalau menunggu dikirim lewat pos, bertepatan dengan jadwal kembali ke Indonesia.

Sesuai dengan janji petugas kantor pos menunggu kami di kantornya, setelah menjelaskan kantor pos mana harus kami datangi. Kantor itu terletak di lantai dua. Saat kami masuk petugas itu sibuk menelepon. Ada beberapa barang yang harus segera ia cari pemiliknya. Di atas meja, saya sempat melihat beberapa dompet dan sebuah ponsel.

Ruangan di kantor pos Seoul, tempat acehkini mengambil handphone. Foto: Khiththati/acehkini

Setelah dipersilahkan duduk, dia membawa ponsel dan meminta acehkini memeriksa apakah ada yang hilang atau tidak. Beberapa kartu nama di kantong chasing ponsel masih lengkap bahkan bon makan sebelum ponsel hilang masih ada. Ponsel dalam keadaan mati dan masih lengkap dengan kode pengamanan jarak jauh yang beberapa hari lalu terpasang.

Ingin rasaya menanyakan bagaimana ia bisa menemukan kontak yang bisa dihubungi saat itu. Namun petugas hanya menjelaskan menemukan ponsel ini di kotak didepan kantor pos untuk barang yang ditemukan bersama barang-barang lain.

Karena petugas tersebut masih harus menghubungi yang lain, setelah mengucapkan terima kasih dan menghabiskan minum yang disediakan, saya pamit. Petugas itu bahkan tidak mengutarakan masalah biaya, dan segera kembali ke mejanya setelah membungkuk sambil tersenyum. Acehkini melangkah keluar dari kantor pos menuju terminal untuk segera kembali ke Seoul.

Aktivitas warga di Kota Seoul. Foto: Khiththati/acehkini

Berdasarkan data yang ada, hampir 70 persen ponsel yang hilang atau tertinggal di angkutan umum kembali ke pemiliknya di Korea Selatan. Saat ini, Korea Selatan mempunya tempat untuk ponsel yang hilang seperti di kantor post atau hubungi pusatlost and found untuk melacak kembali ponsel. Semua layanan diberikan gratis.

Kantor pos juga memiliki layanan kotak untuk barang yang hilang di seluruh negeri. Sehingga buat yang menemukannya, dapat mengembalikan ke kantor pos terdekat. Bahkan orang yang mengembalikan bisa mendapatkan sertifikat atas jasanya itu sebagai hadiah dari kantor pos. Nantinya kantor pos akan mencari pemiliknya.

Buat yang kehilangan juga dapat mencari informasi di situs lost112 yang dioperasikan oleh kepolisian Korea Selatan. Servis yang diberikan gratis dan terdapat beberapa pilihan bahasa seperti Korea, Jepang dan Inggris.

Apa yang terjadi jika kehilangan barang lainnya? Beberapa tahun lalu, Rini, rekan acehkini pernah kehilangan dompet dan paspor di stasion kereta bawah tanah di Seoul. “Panik dong saat itu apalagi ada paspor,” kisahnya. Lalu ia melaporkan segera kehilangan tersebut kepada petugas Subway.

“Setelah dilacak dan dilihat CCTV ketemu dong dalam waktu kurang dari satu jam dengan isi masih lengkap, padahal waktu itu sudah berfikir kalau balik dompet kosong juganggak apa-apa,” kisah Rini.

Menurutnya, yang membuatnya takjub adalah pelayanan para petugas yang ramah dan pelayanan gratis. “Pas bilang terima kasih, petugasnya malah bilang selamat datang di Seoul,” sambungnya lagi.

Suasana di Bandara Incheon, Seoul, Korea Selatan. Foto: Khiththati/acehkini

Tidak jauh berbeda dengan Rini, Liya juga pernah kehilangan barang saat berada di Subway. Ia lupa mengambil bawaannya saat turun dari kereta bawah tanah itu. “Habis belanja dan pas turun lupa ambil barangnnya,” cerita Liya.

“Setelah itu, ketemu lagi di Lost and Found subway,” katanya lagi.

Di Seoul Subway sendiri ada beberapa station yang menjadi tempat lost and found yang berada di stasiun besar seperti Wangsimni dan City Hall. Tidak hanya itu, semua transportasi publik di Seoul mempunyai layanan Lost and Found. Mulai dari bus, kereta api hingga taksi para penguna dapat menelepon atau mengunjungi web yang disediakan.

Selain itu, Kota Seoul juga mempunyai mobile phone lost and found yang dioperasikan oleh Korea Association for ICT Promotion dan 3 penyedia kartu ponsel. Ponsel yang ditemukan atau dikembalikan ke sana akan disimpan selama 9 bulan. Buat yang penah menonton drama Search: WWW pasti tidak asing dengan tempat ini, karena di sebuah adegan, pemeran utama menemukan ponselnya di sini.

“Yang paling penting, ingat dimana tertinggalnya, karena biasanya ada di lost and found terdekat,” kata Liya. Bahkan, Liya juga pernah menyimpan barang di loker penyimpanan yang tersedia di subway namun lupa menutup dengan rapat. “Alhamdulillah waktu itu nggak ada yang hilang, tapi ya pastinya kita jangan lalai karena tidak semua orang baik.” []

Artikel Asli