Penerapan New Normal: Lebih Baik Pakai Masker atau Face Shield?

Suara.com Dipublikasikan 16.03, 30/05 • M. Reza Sulaiman
Pelindung wajah buatan CIMEDs Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Selasa (24/3/2020). [ist]
Pelindung wajah buatan CIMEDs Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Selasa (24/3/2020). [ist]

Suara.com - Penerapan New Normal: Lebih Baik Pakai Masker atau Face Shield?

Beberapa negara di dunia sekarang sedang bersiap memasuki new normal, termasuk Indonesia. Dalam hal ini, pemakaian masker wajah tetap diberlakukan, demi mencegah melonjaknya kasus virus corona.

Namun, beberapa dokter, terutama di Amerika, mengatakan pamakaian masker saja masih kurang dalam upaya melindungi diri di kehidupan sehari-hari. Mereka pun mempertimbangkan apakah masyarakat perlu memakai pelindung wajah.

"Saya mengenakan pelindung wajah setiap kali memasuki toko atau bangunan lain. Terkadang saya juga memakai masker kain jika diminta oleh kebijakan toko," kata Dr. Eli Perencevich, dokter penyakit menular di University of Iowa and the Iowa City Veterans Affairs Health Care System, dikutip dari New York Times.

Dalam sebuah artikel opini yang terbit bulan lalu di JAMA, ia dan dua rekannya berpendapat pelindung wajah dapat membantu mengurangi penularan infeksi.

Idenya bukan hanya dari eksperimen pemikiran. Sebab, para guru di beberapa wilayah, seperti California, Philadelphia, dan Singapura, pun direkomendasikan untuk memakai pelindung wajah saat sekolah kembali dibuka bulan depan.

Seorang calon penumpang pesawat menggunakan pelindung wajah dan sarung tangan karet saat mengantre untuk lapor diri di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (10/5). [ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal]

Perencevich percaya bahwa pelindung wajah harus menjadi alat pelindung pribadi karena alasan yang sama seperti petugas kesehatan. Ini melindungi seluruh wajah, dan mencegah orang menyentuh wajah atau melindungi ketika tidak sengaja memaparkan diri terhadap virus corona.

Meski begitu, ia dan para ahli lainnya mengakui bahwa pelindung wajah memiliki batasnya.

Sama seperti masker, alat ini juga harus dilepas ketika makan. Dan studi mengenai seberapa efektif pelindung wajah melindungi seseorang dari penularan virus masih jarang dilakukan.

Bahkan dalam jarak dekat, bisa ada skenario di mana pelindung wajah tidak seefektif masker yang menutup penuh hidung dan mulut. Terutama ketika ada seseorang yang berbicara dari samping atau belakang, kata William Lindsley, seorang bioengineer di Institut Nasional untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

"Saya penggemar berat pelindung wajah. Tapi saya pikir kita belum bisa menukar masker dengan pelindung wajah dulu," jelas Saskia Popescu, spesialis senior pencegahan infeksi di Universitas George Mason di Fairfax, Virginia.

Perencevich dan rekan-rekannya berharap penelitian lebih lanjut akan menunjukkan pelindung wajah lebih unggul daripada masker, tidak hanya karena memberikan perlindungan penuh pada wajah, tetapi alat ini hampir mustahil untuk dipakai secara tidak benar.

Artikel Asli