Pemerkosa dan Pembunuh Guru SD Sempat Bantu Warga Antar Mayat ke Rumah Sakit

Merdeka.com Dipublikasikan 06.23, 10/07

                Ilustrasi mayat. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock/forestpath
Tersangka AD diringkus tanpa perlawanan saat keluar dari rumahnya, Kamis (9/7) pukul 18.30 WIB. Kecurigaan muncul berdasarkan keterangan saksi yang mencurigai gelagatnya usai penemuan mayat korban.

Pemuda berusia 18 tahun berinisial AD alias AP ditetapkan sebagai tersangka tunggal tindak pidana perkosaan dan pembunuhan terhadap Efriza Yuniar alias Yuyun (50). Mayat guru SD tersebut ditemukan di dalam ember tanpa busana dan tangan terikat di kamar mandi rumahnya.

Tetangga korban, Triyana (52) mengungkapkan, tersangka menawarinya berboncengan motor menuju speedboat yang digunakan membawa mayat korban ke Rumah Sakit Bhayangkara Palembang. Dia tidak menyangka tetangganya itu justru pelaku pembunuhan.

"Waktu kami mau bawa mayat ke speedboat, dia (tersangka) ikut juga, dia malah tawari saya naik motornya. Waktu itu sikapnya biasa saja, namanya juga saling bantu sesama tetangga," ungkap Triyana, Jumat (10/7).

Dikatakannya, tersangka sehari bekerja di getek, kadang menjadi sopir kadang kuli angkut. Tersangka juga kerap berbuat onar di kampungnya.

"Rumah korban dan tersangka cuma berjarak belasan meter. Kabarnya dia pernah mencuri di rumah korban, tapi waktu itu cuma dinasihati korban saja, tidak tahu bagaimana selanjutnya," ujarnya.

Saat mayat korban ditemukan, dia dijemput anaknya untuk memberitahu polisi. Ketika itu dirinya masih berada di rumah, sementara istrinya, Juwita (51), menemani warga mencari korban.

"Yang menemukan pertama kali istri dan anak saya, terus ada tetangga lain. Saya kaget dengar kabar itu, saya tidak sanggup melihat kondisi korban," kata dia.

Diketahui, tersangka AD diringkus tanpa perlawanan saat keluar dari rumahnya, Kamis (9/7) pukul 18.30 WIB. Kecurigaan muncul berdasarkan keterangan saksi yang mencurigai gelagatnya usai penemuan mayat korban.

Dari penangkapan itu, ditemukan dua unit ponsel korban yang disimpan di saku celana tersangka. Tersangka akhirnya mengakui perbuatannya dan langsung digiring ke kantor polisi untuk pemeriksaan.

Pembunuhan tersebut berawal saat tersangka mengintip korban mandi di rumahnya di Jalur 5, Desa Marga Satwa Rahayu, Kecamatan Sumber Marga Telang, Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (8/7) sore. Tersangka masuk ke rumah dan menunggu korban di samping lemari es dekat kamar mandi.

Setelah korban keluar dari kamar mandi, tersangka mencekiknya dengan tangan yang membuat korban pingsan. Kemudian tersangka membawa korban ke ruang tamu dan diperkosa.

Korban tersadar. Dia sempat berontak dan meminta tolong.

Lalu tersangka menyumpal mulut korban menggunakan ikat rambut dan mengikat leher dengan ikat pinggang dan kabel charger ponsel. Tersangka juga mengikat tangan dengan tali rapia hingga akhirnya korban tewas.

Kemudian, tersangka kabur melalui pintu depan dan menguncinya dari luar. Kunci itu diselipkan tersangka ke dalam rumah melalui celah bawah pintu.

Warga yang penasaran keberadaan korban karena sulit dihubungi membuka rumah dan menemukan mayat korban di dalam ember berdiameter 60 sentimeter dengan kondisi telanjang dan tangan terikat tali rapia di perut, Kamis (9/7) pukul 09.00 WIB. Korban berstatus janda dan bekerja sebagai guru PNS di Sekolah Dasar Negeri 11 Muara Telang Banyuasin.

Artikel Asli