Pemerintah Targetkan Produksi Baterai Kendaraan Listrik di 2023

Kompas.com Dipublikasikan 11.02, 10/12/2019 • Ruly Kurniawan
The Guardian
Ilustrasi mobil listrik.

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia memiliki potensi untuk menjadi produsen baterai kendaraan listrik terbesar di dunia pada 2023 mendatang.

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, mengatakan, hal ini tercipta karena industri pengolahan dan pemurnian nikel menjadi baterai kendaraan listrik di dalam negeri bakal mulai beroperasi di 2023.

"Kita sudah sampai ke nikel metal, kita kejar sampai masuk baterai di 2023. Jadi sekarang kita sedang kerjakan, sudah masuk stainless steel, carbon steel, sementara baterai kendaraan listrik tiga tahun kemudian (2023)," katanya di Jakarta, Selasa (10/12/2019).

Baca juga: Jokowi Ingin Era Elektrifikasi Dipercepat, Ini Landasannya

Menurut Luhut, kebutuhan baterai kendaraan listrik akan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penggunanya, dan didukung oleh berbagai kebijakan untuk menghentikan penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil pada 2025.

"Kami berkoordinasi dengan GEM dan CATL (Contemporary Amperex Technology Ltd) untuk membangun pabrik baterai lithium ini. Kita harus cepat karena peluangnya besar," kata dia.

Adapun lokasi pabrik baterai untuk kendaraan listrik sendiri, direncanakan akan berada di Patimban, Jawa Barat. Perusahaan baterai asal China, GEM Co Ltd, berharap trial production bisa dimulai Agustus 2020.

Baca juga: PLN Juga Akan Produksi Baterai Kendaraan Listrik

Keunggulan Indonesia

Indonesia memiliki keunggulan untuk menjadi produsen besar baterai kendaraan listrik. Beberapa diantaranya ialah sumber daya nikel yang cukup banyak dan biaya angkut komoditas lebih murah.

"Kita memiliki keunggulan di sisi geografis juga, mengakibatkan biaya angkut lebih murah dibanding Australia," kata Luhut.

Kini, sudah ada beberapa investor yang tertarik membangun pengolahan bijih nikel menjadi baterai kendaraan listrik. Dua diantaranya ialah GEM dan CATL.

"Dampak dari produksi baterai kendaraan listrik di dalam negeri, kita bisa mengalami defisit neraca berjalan sebesar 31 miliar dollar AS. Ekspor juga akan meningkat cepat dengan ini," ujarnya.

Penulis: Ruly KurniawanEditor: Agung Kurniawan

Artikel Asli