Pelangi Asagaya

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 21/09/2019 • Hazuki Seika
Foto: Unsplash
Foto: Unsplash

Aku duduk lesehan di pelataran sebuah kuil bernama Shin Mei Guu, sekitar 7500 kilometer jaraknya dari kampung halamanku. Shin Mei Guu artinya Kuil Dewa yang Terang Benderang. Angin awal musim panas terasa hangat bertiup semilir, sehangat angin yang biasa kunikmati di daerah katulistiwa. Musim semi telah benar-benar pergi. Berat aku menghela nafas mengingat kuntum-kuntum sakura lenyap dihembus hawa panas. Namun, hal itu tak mengusik kebahagiaan ribuan penduduk Asagaya untuk menikmati serunya Tanabata Matsuri atau festival Tanabata yang berpusat di tempat saat ini aku berada.

Sebuah Haribote atau boneka besar Kokin chan menjadi ikon yang dipilih sebagai tema dekorasi atau Tanabata Kazari. Kebahagiaan para pelajar semakin bertambah, karena libur musim panas telah datang. Keriuhan musik diwarnai dengan tawa riang anak-anak yang menikmati es serut bercampur sirup dengan warna-warni yang mencolok. Mereka menamakannya Kakigoori. Tanabata Matsuri Asagaya tahun ini sungguh-sungguh meriah. Sangat cocok untuk menenggelamkan kesepian yang melandaku sepanjang tiga tahun terakhir.

Sebelum sampai di Shin Mei Guu, aku melewati Pearl Shopping Street dimana banyak sekali yang menjual makanan disepanjang koridornya. Hasilnya adalah orkestra keharuman dan kelezatan yang menyeruak hidungku tanpa ampun. Perutku bersenandung seperti keroncong tanpa irama. Aku menjatuhkan pilihanku pada kue panggang imut berupa ikan yang rasanya manis. Isinya kacang merah yang telah dihaluskan dan dimasak dengan gula, seperti isi kue dorayaki tradisional. Taiyaki di Asagaya adalah salah satu makanan kesayanganku. Aku membeli dua bungkus Taiyaki. Karyawan toko kue memberiku sepotong kartu untuk menuliskan keinginanku tahun ini. Kartu dari pelanggannya disusun menjadi balon ikan besar yang digantung di depan toko. Persis serupa ikan terbang yang cantik. Sampai dengan malam ini sudah terkumpul 550 kartu yang membentuk badan ikan. Kartu itu menjadi bukti betapa banyak pelanggan toko Taiyaki ini. Es krim dan musim panas adalah pasangan yang paling cocok menurutku. Langkah kaki membawaku mendekati café es krim Sincerita yang berada di ujung jalan. Pilihanku jatuh pada gelato rasa pistachios dan coklat. Selera yang aneh, tapi aku suka. Makanan manis bagaikan obat anti galau yang dapat kubeli bebas tanpa resep dokter.

Setelah menghabiskan satu porsi gelatoku, aku mencicipi taiyaki yang masih panas, aku mencoba menggigitnya. “ Ooppps….panas!!”, sambal kukipasi mulutku dengan tangan. Sepotong taiyaki berhasil memenuhi mulutku. Aku mencecap rasa legit yang lembut. Ini semacam pesan yang bertubi-tubi kukirim ke otakku untuk mewujudkan kehidupanku semanis dulu. Betul, semanis gelato dan taiyaki. Kombinasi makanan ini cepat mengenyangkan dan memberikan asupan energi. Ya..aku perlu mengganti energi yang kuhabiskan sepanjang akhir pekan untuk mengingat perpisahan dengan belahan jiwaku.

Inilah aku, yang sejak tiga tahun lalu selalu mengurung diri setiap akhir pekan datang. Hidupku semacam pelangi yang monokrom dimana aku berjalan mencari ujungnya. Aku hanya mampu mengingat tentang kebutuhan jasmani sedangkan rohaniku kuacuhkan. Aku seperti burung Kolibri, burung paling kecil di dunia, yang berhibernasi di musim dingin untuk bertahan hidup. Aku merasa jiwaku kering dan sepi. Banyak yang berceramah dan berkhotbah bahwa kehidupan bukan hanya tentang mencintai separuh jiwa. Mereka mengingatkanku aku harus bersyukur pada Tuhan untuk segala berkat yang kuterima. Namun, otakku dan hatiku masih bebal untuk menerima semua perkuliahan panjang itu. Aku tahu itu bentuk perhatian mereka dan aku merasa tak layak meluapkan perasaanku dengan pernyataan “Tahu apa kalian tentang perasaanku saat ini?”. Namun, itu terlalu kejam bagi mereka yang tak bersalah. Seandainya mereka dapat melihat hancurnya perasaanku malam itu, ketika kesetiaan yang kubanggakan dan kupuja itu musnah.

“Jangan-jangan kamu mau dinikahkan ya?” pertanyaan datar tanpa maksud. Kulontarkan hanya untuk menggodanya di suatu malam. Namun, pertanyaan itu berubah menjadi sehebat tsunami yang menelan kehidupanku dalam hitungan sepersekian detik saat dia menjawabnya dengan jujur. Dia datang khusus mengunjungiku untuk mengabarkan hari bahagianya. Aku adalah Sang Pemuja Kesetiaan. Pasangan yang selalu menginspirasiku adalah Bapak Habibie dan Ibu Ainun. Aku menginvestasikan kehidupanku dengan menjaga kesetiaan seperti emas murni 24 karat yang akan selalu bertambah nilainya dan tak akan pernah usang. Aku tak pernah takut dan menyerah pada sesuatu yang dianggap jahat, namanya “jarak”. Kepercayaan dan komunikasi kupercaya sebagai jampi-jampi yang menyalakan api kesetiaan kami. Sampai pada suatu masa, aku tahu kesetiaan yang kupuja itu bisa lenyap secepat kilat. Emosi telah menyerap semua asa dan energiku. Hampir sebanyak hitungan windu aku menemani pergantian tahun dengannya sejak tahun pertama aku kuliah. Hanya sebentuk kewarasan yang menjagaku bahwa hidup masih harus berlanjut karena jiwaku adalah milik-Nya.

Sejak tiga tahun yang lalu, kehidupan sewarna hitam putih aku jalani diantara hingar bingar kehidupan di kota super metropolitan ini. Senin sampai Jumat sudah menghabiskan seluruh energi dan pikiranku. Aku menyukai kota ini, dimana mereka tidak akan sempat bertanya siapa aku dan bagaimana hidupku. Pergumulan untuk hidup sudah demikian melelahkan. Aku hanya benci jika hari libur atau akhir pekan datang. Kota ini tak memiliki gravitasi yang cukup kuat untuk menarikku keluar dan mengagumi kemegahannya. Aku menikmati hariku dengan tidur sepanjang waktu. “Menikmati” sejatinya bukan ungkapan kata yang tepat, karena menurutku tidur adalah tempat pelarianku dari rasa sepi, sedih dan terluka. Aku berusaha mengubur kepedihanku sendiri.

Namun, malam ini berbeda, aku ingin menjadi saksi pertemuan dua bintang, Vega dari Rasi bintang Lyra dan Altair dari Rasi bintang Aquila. Inilah legenda malam perayaan Tanabata Matsuri. Dari kecil aku menyukai misteri langit dan bintang, hingga legenda Tanabata memiliki tempat khusus dihatiku. Ini adalah festival yang selalu kurayakan setiap tahun dengan penuh kebahagiaan, dulu. Tahun ini aku memberanikan diri menikmatinya sambil menepis kenangan masa lalu. Tanpa kusadari air mataku mulai menggenang. Susah sekali menahan air di pelupuk mata. Aku ingat kata Ibuku, “Tataplah langit pada saat kamu tidak dapat menahan tangis”. Aku hadapkan wajahku ke langit malam itu, mencari pertemuan indah bintang Vega dan Altair.

Tuhan Maha Sempurna dan Maha Baik, malam itu menghadiahkan pertunjukkan langit yang sempurna. Malam cerah bertabur bintang merayakan pertemuan Vega dan Altair. Kehangatan menjalar di hatiku. Bunyi gamelan tari yang sangat terkenal seantero negeriku sayup-sayup membawa kesadaranku kembali. Tari Kecak dari Bali yang mengiringi gerakan gemulai para penari di atas panggung mulai melembut. Aku merasa kejadian ini sangat unik, baru pertama kalinya aku menikmati tarian Bali di tengah Yomise atau pasar malam pada saat Tanabata Matsuri. Duduk lesehan menikmati kerlingan mata cantik para penari Bali yang sangat luwes seperti penari Bali sesungguhnya. Aku benar-benar tidak bisa membedakan apakah mereka penari asli dari Bali atau bukan. Mereka menari dengan sangat profesional. Aku menikmati gigitan Taiyaki yang terakhir sambil memberikan tepuk tangan sebagai ungkapan terima kasih atas penampilan mereka. Para penari turun dari panggung dan penampilan pun usai.

Aku bersyukur, sore ini aku mengiyakan ajakan seorang teman yang dikirim via LINE untuk keluar bersamanya. Kesadaranku kembali penuh, ketika dia menepuk halus pundakku seraya tersenyum. Dia bertanya “Sumimasen Hana-san, apakah kamu menikmati pertunjukan malam ini?”. Aku mengedip pelan dan tersenyum. Dalam hati aku mengucap, “Terima kasih untuk malam ini Tuhan, Engkau tidak membiarkanku sendiri. Inikah pesanmu untukku agar bersabar dan bertahan? Karena Engkau ingin aku melihat pertunjukanmu yang lain, pelangi kembar di Asagaya”. Dalam perjalanan pulang aku melihat serupa ikan berwarna-warni terbang perlahan, ratusan keinginan terbang bersamanya. Aku ingat menuliskan sebuah kata di kartu itu “MERDEKA”. Aku merasa langkahku semakin ringan.

Tentang Penulis:

Hazuki Seika, pengajar Bisnis Internasional, pecinta kuliner, travelling dan pemerhati budaya Jepang.