Pelaku Fetish Kain Jarik Dikeluarkan dari Unair, Begini Komentar Orang Tuanya

Merdeka.com Dipublikasikan 01.45, 06/08/2020

                Universitas Airlangga. ©panoramio.com
Terduga pelaku pelecehan seksual fetish kain jarik berkedok riset resmi dikeluarkan alias di-dorp out (DO) oleh pihak Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Begini komentar orang tuanya.

Terduga pelaku pelecehan seksual fetish kain jarik berkedok riset resmi dikeluarkan alias di-dorp out (DO) oleh pihak Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Langkah tegas ini ditempuh pihak universitas lantaran perilaku mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) yang berinisial G itu dianggap mencederai nilai-nilai yang diusung Unair.

Dikutip dari liputan6.com (6/8/2020), keputusan mengeluarkan G diambil setelah Rektor Unair Prof Mohammad Nasih menghubungi orang tua mahasiswa yang bersangkutan di Kalimantan secara daring. Setelah sebelumnya belum bisa dihubungi.

Respons Keluarga

©2020 Merdeka.com/Twitter @m_fikris

Ketua Pusat Informasi dan Humas (PIH) Unair Suko Widodo menjelaskan bahwasanya keputusan mengeluarkan mahasiswa dari sivitas akademika baru bisa diambil setelah pihak kampus mendengar pengakuan dari yang bersangkutan dan/atau wali.

"Merujuk pada azas komisi etik, keputusan baru bisa diambil saat bisa mendengar pengakuan dari yang bersangkutan dan atau wali. Karena orangtua sudah bisa dihubungi, maka pak rektor memutuskan yang bersangkutan di-DO atau dikeluarkan," kata Suko, Rabu, 5 Agustus 2020.

Pihak keluarga terduga pelaku, lanjut Suko, telah mengakui perbuatan sang anak dan menyesalinya. Mereka juga menarima keputusan yang diberikan pihak universitas terhadap anaknya.

Merugikan Unair

©2020 Merdeka.com/Twitter @m_fikris

Kasus mahasiswa berinisal G terduga pelaku fetish kain jarik itu dinilai merugikan nama baik Unair.

"Kasus G ini kami nilai sudah sangat merugikan nama baik dan citra Unair sebagai perguruan tinggi negeri yang mengusung nilai inti Excellence with Morality," lanjut Suko.

Keputusan mengeluarkan terduga pelaku fetish kain jarik diambil setelah memperhatikan pengaduan korban yang mengaku dilecehkan serta merasa direndahkan martabat kemanusiaannya.

"Kami juga mempertimbangkan putusan setelah mendengarkan klarifikasi dari keluarga G," ujarnya.

Diproses Kepolisian

©2019 Merdeka.com/Erwin Yohanes

Sementara itu, kasus dugaan pelecehan seksual tersebut masih terus diproses oleh pihak kepolisian. Pihak Unair sendiri masih membuka layanan konsultasi bagi para korban melalui Help Center Unair.

Selain Unair, Polda Jatim juga membuka posko pengaduan bagi korban kasus dugaan pelecehan seksial fetish kain jarik berkedok riset yang dilakukan oleh G.

Menurut penuturan Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, dibukanya posko pengaduan guna memberikan jalur khusus sehingga para korban bisa terlindungi. Korban tidak perlu khawatir karena identitasnya akan dirahasiakan sebagai program perlindungan saksi awal.

"Penyidik Ditreskrimsus Polda Jatim membuka layanan posko pengaduan secara langsung melalui nomor telepon 082143578532," tutur Trunoyudo di Mapolda Jatim, Senin, 3 Agustus 2020.

Aduan yang Diterima Unair

©panoramio.com

Universitas Airlangga (Unair) telah menerima 20 aduan terkait kasus dugaan pelecehan seksual berkaitan dengan fetish kain jarik berkedok riset yang dilakukan mahasiswa berinisial G.

"Sekitar 20-an tapi pelapor tidak sama dengan korban, kami harus verifikasi dengan cermat,” ujar Koordinator Help Center Universitas Airlangga (Unair), Dr Liestianingsih, Selasa, 4 Agustus 2020.

Ia menambahkan, pengaduan sudah dirilis sehingga banyak yang menghubungi. Tetapi belum tentu korban sehingga harus hati-hati. "Kami meneliti apakah pelapor memang korban," lanjutnya.

Meski demikian, tambah Liestianingsih, kasus dugaan pelecehan seksual terkait fetish kain jarik berkedok riset yang melibatkan G ini menunjukkan laki-laki dan perempuan sama-sama berpotensi menjadi korban pelecehan seksual.

Artikel Asli