Para Kiai di Jombang Ingatkan Jokowi Pilih Menteri Bersih & Bebas Kasus Korupsi

Merdeka.com Dipublikasikan 15.53, 21/10/2019
Gus Ufik. ©2019 Merdeka.com/Erwin Yohanes
“Kita berharap Pak Jokowi selektif lah. Jangan sampai ada menteri yang memiliki rekam jejak yang buruk,” tambahnya.

Pasangan Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin telah dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024. Sejumlah kiai mengingatkan agar Jokowi lebih selektif memilih menteri. Salah satu indikatornya bebas dari rekam jejak korupsi.

"Kami berharap, Pak Jokowi harus memilih menteri yang benar-benar bersih. Jangan sampai memilih menteri yang memiliki rapor merah alias pernah tersangkut perkara korupsi," kata Ketua PCNU (Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama) Jombang, KH Salmanudin Yazid, Senin (21/10).

Dia menambahkan, jika nantinya terdapat menteri yang memiliki rekam jejak buruk, dikhawatirkan justru akan menghambat sendiri kinerja Jokowi di pemerintahan. Untuk itu, dia pun berharap Jokowi sangat selektif dalam memilih para calon pembantunya tersebut.

"Kita berharap Pak Jokowi selektif lah. Jangan sampai ada menteri yang memiliki rekam jejak yang buruk," tambahnya.

Gus Salman juga menyampaikan terima kasih kepada TNI dan Polri yang telah mengawal proses Pilpres mulai awal hingga pelantikan yang telah berjalan lancar dan kondusif.

Hal yang sama juga disampaikan salah satu pengasuh pesantren Darul Ulum, Rejoso, Kecamatan Peterongan, Jombang, KH Zulfikar Asad atau Gus Ufik. Dia mengingatkan agar presiden Jokowi memilih para menteri dengan mendengarkan masukan dari banyak pihak.

Dia percaya jika Jokowi akan memperhatikan rekam jejak para pembantunya itu, seperti halnya perhatiannya terhadap kalangan pesantren. Hal itu dibuktikan dengan penetapan HSN (Hari Santri Nasional) setiap 22 Oktober dan terbitnya undang-undang pesantren.

"Soal menteri Pak Jokowi harus membuka diri, mendengarkan banyak masukan, supaya mendapatkan menteri yang terbaik. Kami berharap Pak Jokowi tetap memiliki keberpihakan terhadap pesantren, seperti pada periode sebelumnya. Namun bukan berarti pesantren harus dianak-emaskan," terang Gus Ufik.

Dengan merangkul pesantren, kata dia, pemerintahan Jokowi-Ma'ruf bisa menghadang laju radikalisme dan gerakan intolerasi. Karena salah satu ciri khas pesantren adalah bisa menerima keberagaman sebagai kelumrahan.

"Nah, hal seperti itulah yang selalu diajar oleh pesantren kepada generasi muda. Sehingga mereka paham bahwa perbedaan itu keniscayaan," ujar Putra dari KH Asad Umar ini.

Terkait dengan infrastruktur, lanjutnya, Presiden Jokowi juga memiliki perhatian khusus. Semisal, dibangunnya rusunawa untuk asrama santri. Sehingga jumlah santri dalam satu kamar semakin ideal. Dari jumlah satu kamar 20 santri, menjadi satu kamar antara empat hingga enam penghuni.

"Pada era Pak Jokowi sebelumnya sudah dibangun rusunawa untuk asrama santri di sejumlah pesantren, termasuk di Darul Ulum. Ke depannya, program tersebut bisa ditingkatkan, utamanya untuk pesantren yang belum mendapatkan program tersebut," terangnya.

Artikel Asli