Pangeran Diponegoro Suka Main Catur

Historia.id Diupdate 11.47, 22/11/2019 • Dipublikasikan 11.47, 22/11/2019 • historia.id
Lukisan Pangeran Diponegoro karya A.J. Bik (1830).

Ustaz Abdul Somad (UAS) menjadi viral di media sosial karena media daring memberitakan tausiahnya yang mengharamkan permainan domino dan catur. Berita itu turun setelah dia memberi tausiah di Komisi Pemberantasan Korupsi pada Rabu, 20 November 2019.

Tausiah itu diunggah di channel Youtube Teman Ngaji pada 26 Juli 2017. Dalam tausiahnya itu, UAS membacakan pertanyaan dari jemaah tentang hukum main domino. “Maaf Pak Ustaz, boleh tidak main domino untuk mengisi luang, biasanya 17 Agustus?”

UAS menjawab bahwa mazhab Hanafi mengharamkan dadu dan catur. Alasannya karena main catur bisa membuat orang melalaikan salat dan lupa waktu. Dia juga tak setuju jika catur dijadikan olahraga.

“Lari oke, lempar lembing oke, renang oke, tapi merenung sampai tiga jam…nah itu, bahwa ketua persatuan catur marah sama saya, terserahlah. Tapi saya tak setuju. Mengabiskan waktu itu. Banyak lagi yang perlu kita pikirkan. Memikirkan bagaimana politik, memikirkan anak. Ini yang dipikirkan, cemana pion-pion bisa selamat,” kata UAS disambut tawa jemaah.

Warganet pun mengomentari pendapat UAS soal main catur haram itu. Di antaranya banyak yang membagikan tautan berita "Saudi Menjadi Tuan Rumah Turnamen Catur Dunia" di voaindonesia.com (26 Desember 2017).

Memang pada 2016, seorang ulama Arab Saudi, Abdulaziz al-Sheikh, dalam sebuah acara televisi, mengharamkan catur karena buang-buang waktu dan membuka peluang menghambur-hamburkan uang yang dapat menyebabkan permusuhan dan kebencian.

Menanggapi fatwa haram itu, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Tengku Zulkarnaen, mengatakan bahwa catur hukumnya hanya makruh dan tidak perlu difatwakan haram.

“Dalam mazhab Imam Syafi’i catur itu makruh karena membuang-buang waktu, manfaatnya enggak ada. Tapi kalau main caturnya pakai taruhan baru haram. Catur tidak akan difatwakan haram di Indonesia. Namun hukum makruhnya juga tidak dapat dihilangkan karena sifat permainannya yang sangat membuang-buang waktu,” kata Tengku dikutip tempo.co

Diponegoro Main Catur

Catur dimainkan oleh berbagai kalangan dan dipertandingkan mulai dari tingkat RT hingga dunia. Salah satu tokoh sejarah yang suka main catur adalah Pangeran Diponegoro.

Sejarawan Peter Carey dalam biografi Pangeran Diponegoro, Kuasa Ramalan, mengungkapkan kesukaan Diponegoro yaitu berkebun, memelihara burung, dan main catur.

Di tempat semadinya di Selarejo dan Selarong, Diponegoro membangun kebunnya dengan menanam bunga, sayuran, buah-buahan, dan pepohonan. Dia membanggakan tanah Jawa yang subur.

Dalam otobiografinya, Babad Dipanegara, dia menyebut berbagai jenis binatang yang menemaninya selama masa semadinya yang sunyi: ikan di Selarejo; kura-kura, burung tekukur, buaya, dan harimau selama semadi rimbanya di sepanjang Perang Jawa; dan burung-burung perkutut dan kakatua kesayangannya ketika diasingkan di Manado dan Makassar.

"Di tempat pengasingan pun dia menghabiskan banyak waktu dengan kakatuanya," tulis Peter Carey.

Dalam pandangan Jawa, kedekatan dengan alam dan binatang semacam itu merupakan pantulan kepekaan dan keutuhan rohani seorang manusia. Inilah gambaran keadaan yang tepat disebut sebagai kesatria pengembara (satrio lelono) dalam kesusastraan wayang Jawa.

“Dia juga suka sekali main catur,” tulis Peter Carey.

Peter Carey menyebut seorang perempuan yang sangat dihargai oleh Diponegoro, yaitu Raden Ayu Danukusumo, putri Sultan Hamengkubuwono I dan ibunda Patih Danurejo II (menjabat 1799-1811).

“Perempuan itu disebutnya dalam babad karyanya sebagai teman bermain catur, suatu permainan yang sangat disukai Diponegoro,” tulis Peter Carey.

Bagi Diponegoro, Raden Ayu Danukusumo tak sekadar teman main catur. Perempuan ini terkenal karena pengetahuannya tentang bacaan Islam-Jawa dan penguasaannya terhadap aksara pegon, dua macam kemahiran yang dikagumi Diponegoro, yang juga menulis dalam huruf pegon.

Termasuk di antara naskah koleksi Raden Ayu Danukusumo adalah karya Nuruddin ar-Raniri dalam bahasa Melayu, Bustan as-Salatin (Taman Raja-raja), dan karya Muhammad ibn Fadl Allah al-Burhanpuri, al-Tuhfa al-mursala ila ruh an-Nabi (Kiriman Cenderamata kepada Roh Nabi).

“Rupanya keduanya adalah jenis naskah yang konon telah dipelajari oleh Diponegoro di masa mudanya,” tulis Peter Carey.

Artikel Asli