Pandemi Covid-19 Belum Usai, Heboh Muncul Virus Tick Borne di China

Suara.com Dipublikasikan 00.50, 07/08 • Bimo Aria Fundrika
Ilustrasi kutu penyebab tick borne virus. (Shutterstock)
Ilustrasi kutu penyebab tick borne virus. (Shutterstock)

Suara.com - Belum selesai pandemi virus corona melanda dunia, China baru-baru ini elah melaporkan penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui kutu atau dikenal dengan tick-borne.

Dilansir dari Times of India, virus tick-borne telah menginfeksi hampir 67 orang dan menewaskan sedikitnya 7 korban. Pihak berwenang telah memperingatkan orang-orang tentang kemungkinan penularan penyakit dari manusia ke manusia karena para ilmuwan dan ahli medis percaya bahwa infeksi tersebut telah ditularkan dari kutu ke manusia.

Ilustrasi kutu [Shutterstock]

Virus yang dapat ditularkan melalui gigitan kutu telah diidentifikasi sebagai 'Demam hebat dengan sindrom trombositopenia' atau disingkat virus SFTS.

Sesuai dengan harian China terkemuka, 'Global Times,' Provinsi Jiangsu di Tiongkok Timur telah melaporkan lebih dari 37 kasus pada paruh pertama tahun ini dan 23 orang lagi ditemukan terjangkit penyakit ini kemudian di Provinsi Anhui, Tiongkok Timur.

SFTS bukanlah penyakit baru seperti yang pertama kali dilaporkan pada tahun 2009 di Centra China dan sejak itu negara telah mengisolasi patogen pada tahun 2011. Patogen virus tersebut termasuk dalam kategori Bunyavirus, yang merupakan keluarga arthopod-borne dan virus yang dibawa hewan pengerat.

Sesuai laporan harian Tiongkok, seorang perempuan di Nanjing, ibukota Jiangsu melaporkan gejala seperti demam dan batuk. Setelah pemeriksaan medis, dokter menemukan bahwa dia memiliki jumlah trombosit yang rendah dan penurunan leukosit dalam darahnya juga.

Ia dirawat di rumah sakit selama satu bulan untuk perawatan kontagian virus yang tepat, setelah itu dia dipulangkan. Beberapa gejala lain dari penyakit tick-borne mungkin termasuk sakit kepala, kelelahan dan nyeri otot.

Sheng Jifang, seorang dokter dari rumah sakit afiliasi pertama di bawah Universitas Zhejiang mengatakan bahwa kemungkinan penularan dari manusia ke manusia tidak dapat dikesampingkan.

Pasien dapat menularkan virus ke orang lain melalui darah atau lendir. Dokter memperingatkan bahwa gigitan kutu adalah rute transmisi utama, selama orang tetap berhati-hati, tidak perlu terlalu panik atas penularan virus tersebut, seperti yang dilaporkan oleh agensi.

Artikel Asli