Pandemi Buat Banyak Masyarakat Beralih Gunakan Platform Digital, Bagaimana Bisnis Menyikapinya?

Infokomputer.com Dipublikasikan 17.45, 21/07 • Rafki Fachrizal
 Ilustrasi Pengguna Smartphone
Ilustrasi Pengguna Smartphone (Paul Hanaoka/Unsplash)

Pandemi Covid-19 telah mengubah kebiasaan masyarakat di sebagian besar negara di dunia dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Seperti dalam hal berkomunikasi atau membeli kebutuhan pokok harian misalnya. Masyarakat menjadi lebih sering menggunakan digital platform guna mengurangi interaksi atau tatap muka dengan orang banyak yang bisa saja menularkan Covid-19.

Berdasarkan laporan Global Web Index, terdapat lebih dari 76% pengguna Internet berusia 16 – 64 tahun yang menghabiskan waktunya untuk menggunakan smartphone untuk mengakses berbagai platform digital selama social distancing diberlakukan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi berlangsung.

Faradi Bachri, Country Director ADA in Indonesia, mengatakan bahwa banyak perusahaan yang menyikapi perubahan perilaku konsumen ini sebagai kelesuan dalam bisnis.

“Sebetulnya, konsumen tidak hilang. Mereka hanya beralih ke digital platform yang memungkinkan mereka untuk tetap beraktivitas dan bersosialisasi di tengah situasi pendemi,” cetus Faradi.

Selain beralih ke digital platform, situasi pandemi juga membuat masyarakat menahan konsumsinya.

Pengeluaran terfokus pada kebutuhan harian, sementara sisanya akan disimpan atau ditabung.

Masyarakat menunggu saat yang tepat untuk melakukan pengeluaran di luar kebutuhan harian.

Lantas, bagaimana bisnis menyikapi hal ini? Menurut Faradi, umumnya bisnis bereaksi dengan cara menahan semua pengeluaran yang berkaitan dengan aktivitas pemasarannya.

Mereka memilih menyimpan atau mengalihkan dana untuk digunakan pada situasi darurat. Sehingga, aktivitas pemasaran diprediksi menurun pada masa pandemi.

“Pada awal social distancing diberlakukan, aktivitas pemasaran cenderung lesu. Pemain bisnis mulai mengatur strategi dalam menghadapi dampak dari Covid-19. Namun, ada beberapa perusahaan yang justru mampu memanfaatkan situasi ini untuk tetap melakukan komunikasi pemasaran melalui digital platform,” ujar Faradi.

Faradi mencatat adanya pertumbuhan belanja iklan digital yang signifikan pada bulan Januari hingga Juni 2020 dibandingkan dengan tahun lalu.

Pertumbuhan tersebut mencapai 25% dengan puncak aktivitas belanja iklan pada bulan Juni.

Naiknya belanja iklan digital secara signifikan, memperlihatkan bahwa pemain bisnis menanggapi kondisi ini dan beradaptasi dengan cepat.

Mereka juga menyesuaikan pengelolaan pesan dan pendekatan kreatif agar relevan dengan situasi yang dihadapi konsumen, serta platform komunikasi yang digunakan yakni secara digital.

Menurut Faradi, di tengah kondisi pandemi bisnis harus juga lebih mementingkan konsumen dengan cara memahami tidak hanya dari segi kebutuhan tetapi juga kekhawatiran mereka.

Covid-19 Mendorong Proses Digitalisasi

Sebagai perusahaan yang bergerak dibidang Artificial Intelligence dan pengelolaan data serta pemasaran digital, ADA melihat bahwa peralihan aktivitas masyarakat dari offline ke online kemunginan besar akan menjadi permanen.

Hal ini lantaran didorong oleh kesadaran masyarakat bahwa penggunaan digital platform untuk kehidupan sehari-hari tidak sesulit yang mereka bayangkan.

“Semuanya mudah dilakukan dan dapat dipenuhi dengan hanya menggunakan sebuah gadget. Industri dan pelaku bisnis pun dipaksa untuk bertranformasi ke ranah digital,” imbuh Faradi.

Misalnya, Faradi melihat kesehatan menjadi salah satu sektor industri yang mulai mengarah ke digital.

“Hal ini didorong oleh kebutuhan yang bertentangan dengan rasa khawatir masyarakat. Misalnya, saat sedang sakit seseorang membutuhkan konsultasi dokter. Namun, Covid-19 membuat mereka khawatir untuk keluar rumah. Di saat ini lah aplikasi kesehatan menjadi solusi,” komentarnya.

Pada akhirnya, kondisi pandemi memaksa masyarakat untuk beradaptasi, mengubah cara hidup dan aktivitas sehari-harinya.

“Pandemi menjadi kondisi yang menakutkan dan tidak terelakkan lagi. Namun di sisi lain, kondisi ini membantu mempercepat transformasi digital, sehingga kita dipaksa memanfaatkan digital platform untuk beraktivitas setiap harinya. Lambat laun, gaya hidup digital pun menjadi permanen,” pungkas Faradi.

Artikel Asli