Pabrik Tahu di Sidoarjo Pakai Sampah Plastik dari AS untuk Bahan Bakar

kumparan Dipublikasikan 07.52, 17/11/2019 • Dewi Rachmat Kusuma
Petugas menunjukkan contoh sampah plastik yang diduga mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (19/6). Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru

Pabrik pembuatan tahu di Sidoarjo, Jawa Timur, diketahui menggunakan bahan bakar yang berasal dari sampah plastik impor asal Amerika Serikat (AS).

Di daerah ini, lebih dari 30 perusahaan tahu ternyata menggunakan campuran plastik dan kertas bekas sebagai bahan bakar. Adapun olahan kacang kedelai yang kaya protein itu diproduksi di halaman belakang pabrik.

Dilansir dari New York Times, Minggu (17/11), asap dan abu dari sampah plastik impor yang dibakar ini bisa menimbulkan racun terhadap tahu yang diproduksi. Hal ini terbukti dari hasil kajian telur ayam yang ada di sana.

Berdasarkan laporan aliansi kelompok pegiat lingkungan hidup Indonesia dan asing, telur ayam tadi ditemukan mengandung racun. Termasuk di dalamnya adalah dioxin, polutan yang dikenal dapat menyebabkan penyakit kanker, parkinson, hingga cacat saat lahir.

Warga setempat bernama Karnawi yang tinggal di dekat tujuh pabrik tahu mengungkapkan, para pekerja mulai membakar sampah plastik dan kertas dari pagi buta hingga malam.

"Ini terjadi setiap hari, dengan asap itu selalu berada di udara. Saya jadi tidak bisa bernapas," ucap pria berusia 84 tahun itu.

Pabrik tahu dan tempe, di kawasan Jakarta Barat. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Dalam laporan yang dirilis, telur yang dihasilkan oleh salah satu ayam dari Karnawi tercatat mengandung dioxin tertinggi kedua di Asia setelah telur yang dikumpulkan di dekat Bien Hoa, bekas pangkalan udara AS saat Perang Vietnam.

Pada Perang Vietnam kala itu, Washington menerapkan Agent Orange, yakni menyemprot herbisida ke tanaman milik Viet Cong, dengan salah satu kandungannya adalah dioxin.

Sebutir telur dari peternakan Karnawi kandungan dioxinnya melebihi batas yang diterapkan AS hingga 25 kali lipat atau Eropa sebesar 70 kali lipat.

Lee Bell, salah satu penulis laporan International Pollutants Elimination Network berujar, temuan itu menggambarkan berbahayanya plastik bagi kesehatan manusia.

"Para pemangku kebijakan harus melarang pembakaran sampah plastik, mengatasi kontaminasi lingkungan dan secara ketat mengontrol impor," jelasnya.

Adapun studi tersebut dilakukan oleh empat organisasi. Keempatnya adalah Ecoton dan the Nexus3 Foundation asal Indonesia, Arnika dari Praha, Republik Ceko. Juga, International Pollutants Network atau IPEN (organisasi internasional yang fokus kepada mengenyahkan polutan beracun).

Adapun racun ini ditemukan pertama kali ketika negara-negara Barat melakukan penyortiran sampah untuk didaur ulang. Kebanyakan sampah itu kemudian dikirim ke luar negeri, termasuk ke Indonesia. Sampah-sampah yang ke dalam negeri ini kemudian dikombinasikan dengan sampah lokal untuk diolah.

Kedelai. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Namun, ada sampah yang tidak bisa didaur ulang dan berakhir menjadi bahan bakar di pabrik tahu di Tropodo, Jawa Timur.

“Benda ini dikumpulkan dari AS dan negara lain dan kemudian dijadikan sumber pengapian pabrik,” kata Yuyun Ismawati dari Nexus3 Foundation.

Yuyun menambahkan, pengolah limbah tak bertanggung jawab memilih membuangnya di negara berkembang dengan memalsukan dokumennya.

Dalam dokumen, para oknum menuliskan hanya ada 50 persen limbah plastik di dalamnya.

Kebanyakan dari plastik yang dikirim itu adalah berkualitas rendah, tidak diinginkan dan Indonesia tidak bisa mendaur ulangnya.

Setelah memilah beberapa bahan untuk didaur ulang, barulah sisanya kemudian dibawa ke Bangun, desa di mana pemulungnya bakal mencari apa yang masih berharga.

Di Bangun, tumpukan sampah, dengan ada yang setinggi empat meter, memenuhi area itu. Sekitar 2.400 orang tinggal di sana, dengan setiap keluarga terlibat dalam bisnis pengolahan tersebut. Tujuan akhir dari sampah itu adalah dibawa ke Desa Tropodo.

Pengiriman sampah plastik dari Labun Bajo ke Bali atau Surabaya. Foto: Kelik Wahyu Nugroho/kumparan

Setiap hari, sebuah truk mengangkut kertas dan plastik dan menurunkan muatannya di pabrik tahu. Menurut sopir truk yang bernama Fadil, dia sudah mengantarkan muatan plastik dan kertas ke industri tahu selama 20 tahun terakhir.

"Orang-orang butuh mengisi bahan bakar bagi industri tahu mereka," katanya kepada New York Times.

Kalangan aktivis lingkungan menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak memerhatikan masalah kesehatan dalam rangka mengembangkan ekonomi. Mereka pun meminta Presiden Jokowi menangani kontaminasi racun termasuk polusi udara serta kontaminasi merkuri.

Pada Juli lalu, Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LKHK) Rosa Vivien Ratnawati berkunjung ke Tropodo.

Di sana, dia mengakui, plastik yang dibakar dapat menimbulkan racun.

Dia menyatakan bakal mencari tahu bagaimana asap dari pembakaran plastik bisa dikendalikan.

"Jika plastik yang digunakan sebagai bahan bakar tidak dipermasalahkan, seharusnya ada penanganan bagaimana polusinya," sebutnya.

Proses pembuatan tahu, di pabrik kawasan Jakarta Barat. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Saat dihubungi New York Times pekan lalu, Rosa menolak membahas isu tersebut dan meminta supaya didiskusikan kepada Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Karliansyah.

Tetapi, yang bersangkutan tidak memberikan respons. Banyak dari warga Tropodo mengaku tidak berdaya untuk mencegah pembakaran sampah plastik tersebut.

Para pembuat tahu di Tropodo mengungkapkan, mereka berpindah dari plastik ke kayu bakar sejak bertahun-tahun yang lalu.

Nanang Zainuddin misalnya. Dia mengaku menggunakan sampah plastik karena murah. Bahkan dia mengungkapkan, harganya sepersepuluh dari kayu bakar. Dia berkata, dioxin bisa datang dari mana saja.

"Jika pemerintah berniat untuk memberikan solusi, tentu akan bagus sekali," jelasnya.

Mantan kepala desa Tropodo Ismail yang juga produsen tahu menuturkan, dia sempat melarang penggunaannya pada 2014 silam. Tetapi larangan itu hanya bertahan selama beberapa bulan sebelum mereka beralih ke plastik. Adapun saat ini dia menggunakan campuran plastik serta kayu bakar.

"Para pembuat tahu di sini hanya mencari untung, untung dan untung. Mereka tidak memperhitungkan akibat dari perbuatan mereka," pungkasnya.

Artikel Asli