PR Ekonomi Jokowi-Ma'ruf: Tingkatkan Daya Saing RI

kumparan Dipublikasikan 04.36, 19/10/2019 • Dewi Rachmat Kusuma
Jokowi-Ma'ruf Amin Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Daya saing Indonesia yang masih rendah menjadi salah satu pekerjaan rumah pemerintah selanjutnya. Di akhir periode, Kabinet Kerja justru mencatatkan kinerja buruk untuk daya saing.

Peringkat daya saing Indonesia dalam laporan Global Competitiveness Index (GCI) 2019 yang dirilis World Economic Forum (WEF) turun ke posisi 50, dari posisi 45 pada tahun lalu. Tak hanya penurunan peringkat, skor daya saing Indonesia juga turun meski tipis 0,3 poin ke posisi 64,6.

Berdasarkan daftar tersebut, Indonesia juga makin tertinggal jauh dari Singapura yang menempati posisi pertama. Begitu pula dari Malaysia dan Thailand yang sebenarnya juga turun masing-masing dua peringkat tetapi masih di posisi 27 dan 40.

Direktur Riset Centre of Economic Reform (CORE) Piter Abdullah mengatakan, pemerintah sebenarnya tengah memperbaiki iklim investasi untuk meningkatkan daya saing. Sayangnya, hal ini belum berdampak signifikan, bahkan daya saing jadi menurun.

"Kemudahan berusaha membaik, diikuti kenaikan peringkat daya saing, namun semua tidak berarti apabila tidak diikuti oleh lonjakan pertumbuhan investasi. Dampaknya pertumbuhan ekonomi tertahan di kisaran 5 persen," ujar Piter kepada kumparan, Sabtu (19/10).

Untuk itu, Piter menyarankan pemerintah kembali mengevaluasi kebijakan mana yang dinilai tak tepat dan menghambat investasi. Dia berharap, pemerintahan Jokowi-Ma’ruf nantinya lebih serius untuk memperbaiki regulasi investasi.

“Harusnya seperti itu, dievaluasi mana yang enggak tepat, oh kebijakan ini bisa hambat investasi masuk, diperbaiki. Sehingga investor bisa percaya mau investasi di sini,” jelasnya.

Suasanan pelayanan OSS di Kantor BKPM. Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan

Sementara itu, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho menilai, daya saing dan produktivitas Indonesia di pasar global masih belum terlihat. Regulasi yang rumit di Indonesia disebut menjadi penyebab utama masih rendahnya peringkat daya saing RI.

Tak hanya itu, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia juga masih tertinggal dibandingkan negara lain. Saat ini, rata-rata pendidikan terakhir masyarakat Indonesia adalah SD-SMP. Sehingga, kemampuan tenaga kerja di sektor industri pun terbatas.

“Ini bisa dilihat juga dari SDM kita. Di sektor industri, kemampuan tenaga kerja dan industri menggunakan tenaga kerja juga dilihat. Di sektor manufaktur dan padat karya, kualitas SDM-nya juga belum merata, masih rendah,” jelas dia.

Andry melanjutkan, penyerapan tenaga kerja dari SMK dan vokasi juga belum optimal. Sehingga tak heran, kata dia, jika investor masih enggan masuk ke Tanah Air.

“Dengan tenaga kerja yang berkualitas baik, daya saing bisa lebih baik, Indonesia bisa menarik banyak investasi. Sehingga ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi,” tambahnya.

Artikel Asli