Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Perkawinan Anak Jadi Salah Satu Sumber Angka Stunting

Jawapos Diupdate 09.15, 07/10 • Dipublikasikan 17.12, 07/10 • Bintang Pradewo
Perkawinan Anak Jadi Salah Satu Sumber Angka Stunting

JawaPos.com – Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bidang Anak, Ulfah Mawardi mengungkapkan, stunting pada anak sangat berkaitan erat dengan persoalan perkawinan anak. Hal ini digambarkan dengan tingginya angka stunting di wilayah dengan tingkat perkawinan anak yang juga tergolong tinggi.

Untuk itu, Ulfah menekankan pentingnya kolaborasi dan sinergi seluruh pihak, baik pemerintah maupun masyarakat luas untuk mencegah perkawinan anak dan stunting. Sebab, kesiapan pasangan pengantin juga sangat berpengaruh akan hal tersebut.

“Pencegahan perkawinan anak sangat beririsan dengan pencegahan stunting. Hal ini disebabkan karena kondisi anak yang diharuskan menikah, baik secara usia, pendidikan, maupun kesehatan reproduksinya belum siap,” ungkap dia, Kamis (7/10).

Dengan ketidaksiapan itu, risiko adanya stunting pada bayi pun menjadi besar. Apalagi untuk pernikahan dini dengan masing-masing emosi pasangan yang belum stabil.

“Sehingga ketika mereka hamil dan melahirkan, baik dalam pemenuhan gizi maupun aspek kesehatan anak yang dilahirkan berisiko besar mengalami stunting,” tambahnya.

Ia juga menuturkan KemenPPPA telah berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam mencegah stunting, seperti berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi maupun Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia.

“Program wajib belajar 12 tahun diharapkan dapat dijalani anak-anak kita, sehingga sampai di Perguruan Tinggi nanti anak dapat memahami persoalan stunting dan upaya mencegahnya,” tambahnya.

Adapun disediakan pula layanan call center Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) 129 serta melakukan program pemberdayaan perempuan di tingkat desa. Layanan dan program ini dapat dimanfaatkan untuk memberikan edukasi terkait pencegahan stunting dalam masyarakat, sekaligus mendukung program Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA).

Artikel Asli