Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

[JOYLADA] Zona Nyaman

 

a story by Lifiana from JOYLADA | source picture : pixabay.com

Dinginnya angin malam terasa menusuk sampai ke tulang, namun tidak mempengaruhi aktivitas malam kota Malang. Aku dan Zulfa berada di sebuah cafe outdoorsaat ini. Zulfa hari ini terlihat begitu baik karena tiba-tiba mengajakku nongkrong di cafe, padahal biasanya dia sangat sibuk mondar-mandir kuliah rapat kuliah rapat karena dia adalah seorang aktivis di kampus. Dua gelas coklat hangat sudah tersedia di atas meja. Sambil menunggu hidangan utama chicken wingsdan steak sirloinkami mulai mengobrol.

 

"Brrrrrr … hari ini dingin banget, ya, Zul. Oh iya, tumben kamu ngajakin aku nongkrong, Zul. Biasanya kan kamu nggak ada waktu buat nongkrong di luar. Tongkrongan kamu selalu di kampus, tak ada tempat lain hehehe." Kulipat kedua tanganku, untuk mengurangi rasa dingin yang menyelimuti tubuhku.

 

"Ya nggak ada apa-apa, pengen aja ngajakin kamu nongkrong buat ngobrol. By the way,Fal, mau nanya, nih. Pendapat kamu tentang keluarga kos 242c itu gimana, sih?" Zulfa melontarkan pertanyaan yang seharusnya dia sudah tahu jawabannya.

 

"Kenapa, sih, Zul kamu selalu bertanya hal yang kamu udah tahu pasti jawabannya? Tapi it’s okay, biar kamu bahagia akan aku jawab. 242c itu udah kayak keluarga kedua buat aku. Keluarga yang asik buat berbagai cerita. Walaupun emang kosnya sedikit horor tapi yang terpenting buat aku adalah girls of 242c. Istilahnya aku udah di zona nyaman dan Insyaallahnggak akan pindah kos sampai aku lulus." Aku menguraikan begitu banyak alasan mengapa aku bertahan dan akan selalu bertahan di 242c hingga aku lulus.

 

"Nah, aku juga ngrasain apa yang kamu rasain, Fal. 242c itu zona nyaman buat aku, saking nyamannya aku jadi ngerasa males ngapa-ngapain termasuk belajar. Sampai di kos aku selalu bermalas-malasan, seneng ngobrol sama kalian, kumpul bareng, atau bercanda bareng sampai aku lupa waktu buat nyelesaikan tugas-tugasku. Jadi …."

 

"Tunggu-tunggu, nggak usah dilanjutin ngomongnya. Jangan bilang kamu mau pindah kos dengan alasan ingin keluar dari zona nyaman?" Aku memotong pembicaraan Zulfa, karena aku tahu pembicaraan ini pasti mengarah kesana.

 

"Iya, Fal, kamu bener. Aku pengen pindah kos. Aku sudah menemukan kos yang baru di daerah Kalpataru." Zulfa mengatakan hal itu sambil menundukkan kepalanya.

 

"Kamu kok gitu, sih, Zul? Mau pindah ngomongnya dadakan. Kenapa sebelum kamu memutuskan hal ini nggak cerita dulu ke aku atau ke temen-temen yang lain? Mungkin kita bisa bantu nyari solusinya tanpa kamu harus pindah. Zul kamu temen seperjuanganku di kos 242c udah hampir 3 tahun kita ngekos bareng. Masak kamu mau ninggalin aku gitu aja, sih? Tega banget kamu, Zul." 

 

Aku tidak kuat menahan rasa sedihku hingga tanpa terasa rintik-rintik air mata turun dan membasahi pipiku. Aku memang orang yang melowdan sensitif, aku juga orang yang mudah menangis jika ada hal yang membuat hatiku sedih teriris.

 

"Fal, udah dong jangan nangis. Aku udah mikirin ini dari jauh-jauh hari. Aku pengen fokus ngerjain skripsiku, Fal. Aku juga nggak pengen ngecewain orang tuaku. Aku nggak mungkin berada di zona nyaman dan bermalas-malasan terus seperti ini. Tolong hormati keputusanku ya Fal, please!”

 

Zulfa berbicara seakan merasa bersalah padaku. Dia mencoba menengok mataku yang tertunduk lesu untuk memastikan aku sudah tidak menangis lagi. Sambil menyeka air mata dengan tangan, aku berkomentar tentang keputusan Zulfa.

 

"Ya udah, Zul, kalau memang ini jadi keputusanmu. Lusa kalau kamu pindah biarin aku bantu kamu, aku juga pengen tahu kosmu yang baru. Biar aku bisa sering main ke kosmu. Boleh, kan?" Air mataku akhirnya berhenti menetes.

 

"Iya, boleh banget kok, Fal. Sekali lagi aku minta maaf, ya, Fal." Dengan nada rendah Zulfa minta maaf padaku lagi atas keputusannya.

 

Hari kepindahan Zulfa telah tiba. Zulfa memberi tahu kepindahannya kepada para penghuni kos 242c secara mendadak. Zulfa tak banyak bicara tentang alasan kepindahannya. Para penghuni kos 242c sepertinya juga  kaget dengan keputusan Zulfa. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk meyakinkan Zulfa agar tetap tinggal. Aku mengantarkan Zulfa ke kos yang baru. Aku membawa beberapa barang milik Zulfa lalu dia memboncengku naik sepeda motornya menuju ke arah Jalan Kalpataru yaitu kos Zulfa yang baru.

 

Kami telah sampai di kos baru Zulfa. Pagar kos berwarna hitam dan begitu tinggi seolah tak ramah dalam menyambut penghuni baru. Aku dan Zulfa berjalan menaiki anak tangga spiral yang terbuat dari besi. Kamar Zulfa terletak di lantai 2. Seperti tidak ada penghuni lain di lantai 2 selain Zulfa. Ruangan yang begitu gelap dan minim sekali cahaya karena jendela kamar yang begitu kecil. 

 

"Zul, kamu beneran betah di kos ini? Kelihatannya kok sepi banget, nggak ada penghuni lain selain kamu di sini. Beda banget suasananya kayak di 242c." Aku mengutarakan pendapatku tentang kos baru Zulfa.

 

"Justru ini yang aku cari, Fal. Aku pengen nyari ketenangan di kos yang sepi biar aku lebih fokus belajar dan ngerjain skripsi." Jawab Zulfa dengan penuh keyakinan.

 

Aku dan Zulfa mulai menata barang dan membersihkan kamar. Setelah semua beres, aku duduk terdiam di atas kasur dan tanpa terasa air mataku menetes lagi, saat itu Zulfa melihatnya. 

 

"Udah, Fal, kamu jangan sedih, nanti aku juga akan sering main ke 242c." 

 

Zulfa menepuk pundakku kemudian memelukku. Aku tidak ingin mengatakan apapun karena aku takut jika aku berbicara air mataku akan semakin deras mengalir.  Aku bersedih karena melihat kos Zulfa yang begitu sepi, aku takut Zulfa tidak punya teman disini dan akan merasa kesepian karena tidak ada teman berbagi cerita. Tapi justru itu yang dijadikan alasan Zulfa untuk memilih kos ini. Aku juga seperti kehilangan seorang sahabat yang sangat baik. 

 

Zulfa adalah teman pertamaku di Universitas ini, dia yang mencarikan aku kos di 242c. Dia selalu baik padaku, dia sering membantuku dalam berbagi hal. Dia rela berbagi tempat tidur denganku, meskipun kamarnya begitu sempit. Zulfa adalah sahabat baik yang pernah aku miliki. Aku berharap Allah selalu menjaga Zulfa disini karena bagiku Zulfa adalah teman sejati dan akan aku kenang sampai nanti.

 

ZONA NYAMAN: THE END

 

***

 

Hola semua, perkenalkan namaku Falisca Amelinda nama penaku di Joylada adalah Lifiana. Aku baru gabung di Joylada sebagai author baru tahun ini lho, tepatnya awal tahun 2021. Aku seneng bisa nulis di Joylada karena respon pembaca terhadap karyaku apresiatif banget. Kini aku sudah punya 17 cerita yang udah aku share di Joylada, mau genre apa aja ada di sana. Joylada adalah platform yang keren buat kamu yang suka baca atau nulis. Di Joylada juga banyak challenge dan eventnya lho. Cuz, ayo gabung di Joylada bareng Lifiana.

Akun medsos.  : IG falisca_amelinda, FB Falisca Amelinda, twitter @FaliscaA

 

Artikel Asli