Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

“Booster" sebagai Respons Varian Omicron

“Booster
Juru Bicara Nasional Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito

JAKARTA - Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 menyampaikan bahwa pelaksanaan vaksinasi penguat atau booster merupakan respons pemerintah dalam menghadapi varian Omicron.

"Program vaksin booster merupakan respons atas meluasnya varian Omicron yang dapat mengurangi kekebalan yang telah terbentuk," ujar Juru Bicara Nasional Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, dalam konferensi pers yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa (25/1) malam.

Ia menambahkan, pelaksanaan vaksinasi penguat itu dilakukan pada daerah yang kekebalan komunitasnya terbukti sudah berkurang.

Wiku mengatakan kurang dari dua bulan kemunculan varian Omicron telah ditemukan di hampir seluruh negara di dunia. Bahkan lebih mendominasi dibanding varian sebelumnya, yaitu Alpha, Beta, dan Delta di beberapa negara.

"Penting mengenali karakteristik varian Omicron agar kita senantiasa waspada dan berhati-hati dalam menyikapi kondisi pandemi," ucapnya.

Secara spesifik, ia mengemukakan, berbagai temuan ilmiah yang dirangkum oleh WHO menyebutkan varian Omicron menyebabkan kenaikan kasus yang lebih tinggi dibandingkan varian Delta karena lebih menular.

"Hal ini disebabkan varian Omicron memiliki tingkat mutasi tinggi yang mempengaruhi kemampuannya dalam menginfeksi tubuh," paparnya.

Dengan demikian, lanjut dia, mencegah penularan varian Omicron sejak level individu adalah cara terbaik untuk mencegah lonjakan kasus.

Wiku menambahkan, dalam temuan ilmiah itu juga disebutkan masa inkubasi atau munculnya gejala sejak pertama kali terpapar varian Omicron cenderung lebih cepat daripada varian lain.

"Berdasarkan data awal, median masa inkubasi varian Omicron cenderung lebih singkat dibanding varian sebelumnya," ujarnya.

Artikel Asli