Terkena Herpes Zoster? Ini Terapi yang Bisa Anda Jalani

Tribunnews.com Dipublikasikan 07.28, 11/04 • Fitri Wulandari
Herpes zoster

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Penderita penyakit Herpes Zoster (HZ) sering kali merasa nyeri dan perih saat muncul ruam atau bercak merah pada kulit mereka.

Apalagi setelah itu muncul pula bentol pada permukaan kulit yang umumnya berisi cairan yang mudah pecah.

Bagi sebagian besar orang, rasa nyeri yang ditimbulkan penyakit ini akan berkurang seiring menghilangnya ruam pada kulit.

Namun bagi beberapa orang lainnya, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi seperti rasa nyeri yang menetap, atau disebut Neuralgia Paska Herpes (NPH).

CEO Klinik Pramudia, dr Anthony Handoko SpKK FINSDV mengatakan bahwa komplikasi ini muncul akibat rusaknya serabut syaraf, karena aktivitas virus yang berulang.

Oleh karena itu penting bagi anda untuk mengetahui terapi yang bisa diberikan kepada penderita Herpes Zoster.

Terapi ini dikenal sebagai strategi 3A yakni Attract patient early (deteksi dini), Asses patient fully (menilai kondisi pasien secara lengkap), Antiviral therapy (obat anti virus), Analgetik (obat anti nyeri), Antidepressant atau Anticonvulsant (obat anti depresi atau kejang), serta Allay anxieties counselling (informasi dan edukasi konseling).

xxx

Selain itu, penderita penyakit ini dapat pula diberikan terapi topikal berupa obat oles serta terapi suportif seperti istirahat yang cukup dan selalu menjaga kebersihan.

Mereka juga dianjurkan untuk menggunakan pakaian yang longgar demi kenyamanan dan tidak menggaruk kulit.

"Selain itu, NPH juga perlu mendapatkan terapi khusus, baik lewat obat-obatan maupun non obat," ujar dr Anthony, dalam virtual media briefing bertajuk 'Bagaimana Jika Terkena Herpes Di Masa Pandemi Covid-19', Kamis (8/4/2021).

Hal ini, kata dia, bertujuan untuk mengobati nyeri pada penderita serta memperbaiki kualitas hidup mereka, baik secara fisik maupun psikologis.

"Sehingga pasien dapat segera dapat melakukan aktivitas sehari-hari," kata dr Anthony.

Namun jika penyakit ini telah menyebar ke bagian tubuh lainnya, maka disarankan untuk berkonsultasi pula dengan dokter spesialis lainnya.

"Bisa pula ditambahkan rujukan ke dokter spesialis bidang lain, seperti dokter spesialis mata, THT dan syaraf, jika HZ sudah menyebar ke bagian tubuh tertentu dan akhirnya menyebabkan komplikasi," jelas dr Anthony.

Penyakit Herpes Zoster disebut memiliki kesamaan cara penularan seperti virus corona (Covid-19), yakni melalui udara sehingga perlu menjadi perhatian masyarakat di masa pandemi ini.

Hal itu karena munculnya penyakit Herpes Zoster dan Covid-19 pada tubuh seseorang, disebabkan oleh virus yang berkaitan erat dengan daya tahan tubuh atau imunitas seseorang.

"Bila daya tahan tubuh kita kuat maka walaupun terpapar oleh virus, sel imun (Immunoglobulin) dapat memberikan pertahanan yang baik dan cukup 
untuk menghancurkan virus yang masuk sehingga tidak mudah terserang penyakit," kata dr Anthony.

Ia menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 yang berlangsung lebih dari 1 tahun telah membuat banyak orang mengalami lelah dan stres, sehingga memicu terjadinya penurunan imun tubuh.

"Pada masa pandemi yang sudah berlangsung lebih dari 1 tahun ini, secara umum kita cenderung mengalami penurunan daya tubuh akibat stres psikis serta kelelahan yang berkepanjangan untuk selalu waspada terhadap virus Covid-19, maka 
sangatlah mungkin seseorang lebih mudah terkena HZ pada masa ini," papar dr Anthony.

Bagi sebagian besar orang, kata dia, rasa nyeri yang ditimbulkan penyakit Herpes Zoster ini akan berkurang seiring menghilangnya ruam pada kulit.

Namun bagi beberapa orang, Herpes Zoster dapat menyebabkan komplikasi seperti rasa nyeri yang menetap yang disebut Neuralgia Paska Herpes (NPH).

"Komplikasi ini muncul sebagai  akibat rusaknya serabut syaraf akibat dari aktivitas virus yang berulang," tutur dr Anthony.

NPH ini dapat terjadi pada lebih dari 50 persen pasien berusia lebih dari 60 tahun.

Rasa nyeri akibat NPH ini pun beragam, pada umumnya dapat diketahui setelah munculnya rasa perih, sensasi terbakar, berdenyut-denyut, dan terasa seperti ditusuk-tusuk atau nyeri yang menyakitkan.

Bahkan sentuhan kain lembut atau hembusan angin pada kulit pun dapat terasa sangat menyakitkan.

Reaksi ini dikenal dengan istilah Allodynia, yakni sebuah rasa nyeri yang timbul akibat stimulus ringan.

Selain NPH, komplikasi yang juga bisa timbul adalah kehilangan penglihatan jika Herpes Zoster ini terjadi  di sekitar mata.

Kemudian masalah neurologis seperti radang otak dan kelumpuhan wajah serta infeksi kulit berkepanjangan pun dapat terjadi.

Oleh karena itu, masyarakat perlu mengetahui cara pencegahan dan  pengobatan yang perlu dilakukan jika terinfeksi Varicella Zoster Virus (VZV), virus yang menyebabkan Herpes Zoster.

Satu diantaranya adalah melalui penggunaan vaksin, meskipun pada dasarnya vaksin hanya digunakan sebagai strategi pencegahan.

Sedangkan untuk tahap pengobatan, perlu dilakukan secara cepat dan tepat sesuai dengan anjuran dokter.

Mereka yang pernah menderita penyakit cacar air memiliki risiko besar untuk terkena Herpes Zoster.

Kendati demikian, risiko penyakit ini jauh lebih besar dialami mereka yang memiliki daya tahan tubuh lemah  (imunokompromais).

Seperti kelompok lanjut usia (lansia), penderita HIV/AIDS, pasien transplantasi organ, penderita kanker, stress psikis, pasien pasca operasi serta pasien yang sedang mengkonsumsi obat-obatan yang dapat menekan sel imun tubuh.

Pengobatan kanker, radiasi maupun kemoterapi pun dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit, sehingga potensi terkena Herpes Zoster pun cukup besar.

Oleh karena itu, dr Anthony menekankan bahwa yang bisa dilakukan untuk mencegah munculnya penyakit ini adalah melalui cara selalu menjaga imun tubuh.

Selain itu, penting pula untuk menghindari kontak langsung terhadap penderita Herpes Zoster.

"Maka, fokus pencegahan terhadap HZ ini yaitu meningkatkan imunitas tubuh secara umum, serta menghindari kontak terhadap virus dari penderita HZ," jelas dr Anthony.

Terkait gejala yang dialami saat seseorang mulai terkena penyakit ini, kata dia, tidak terlihat secara spesifik karena biasanya hanya berupa rasa lelah, sakit kepala dan lemas.

Gejala ini akan berlangsung selama kurang dari satu minggu.

Namun kemudian setelah itu akan muncul ruam atau bercak merah pada kulit yang terasa nyeri dan perih.

Kemudian muncul pula bentol pada permukaan kulit, umumnya berisi cairan yang mudah pecah.

"Gejala awal bersifat tidak spesifik,  sebelum muncul tanda nyata pada kulit seperti ruam merah dan lenting berisi air, biasanya hanya berupa rasa lelah, sakit kepala dan lemas, ini disebut gejala pro-dormal yang berlangsung selama 1-5 hari," kata dr Anthony.

Herpes Zoster diketahui sebagai penyakit yang dapat ditularkan melalui pertukaran nafas dan sentuhan kulit.

Lalu bagaimana proses penularannya ?

Penularan terjadi jika ada seseorang yang belum terkena penyakit ini melakukan kontak secara langsung dengan cairan pada lepuhan ruam penderita penyakit ini.

"Penularan virusnya bisa melalui pertukaran nafas dan kontak dengan gejala di kulit, penularan HZ terjadi ketika ada kontak langsung dengan cairan pada lepuhan ruam yang dialami penderita," papar dr Anthony.

Ia kemudian menjelaskan bahwa mereka yang belum pernah menderita cacar air atau tidak pernah menerima vaksin cacar air, memiliki risiko tinggi untuk tertular penyakit ini.

Kendati demikian, jika mereka tertular, maka ada awalnya mereka hanya akan mengalami cacar air.

Namun yang menjadi catatan adalah cacar air ini kapan saja dapat berkembang menjadi penyakit Herpes Zoster, ini yang perlu diwaspadai.

"Jika terinfeksi, mereka akan terkena cacar air, bukan Herpes Zoster, lalu kemudian virus itu bisa berkembang sewaktu-waktu menjadi Herpes Zoster," tutur dr Anthony.

Terkait masa inkubasi penyakit ini bisa mencapai waktu lebih dari satu minggu hingga 3 minggu.

"Masa inkubasi setelah pertama kali 
kontak hingga timbulnya lesi (gejala) di kulit sekitar 10 hingga 21 hari," papar dr Anthony.

Herpes Zoster merupakan penyakit yang dikenal sebagai shingles atau cacar ular dan bisa juga disebut cacar api, yakni suatu sindrom khas yang 

disebabkan oleh reaktivasi VZV.

VZV ini merupakan virus yang sama 

yang menyebabkan cacar air, reaktivasi virus ini terjadi saat kekebalan tubuh terhadap VZV menurun karena terjadinya proses penuaan atau imunosupresi.

Saat virus Herpes Zoster masuk ke dalam tubuh manusia, virus tersebut berdiam pada sistem syaraf dan menetap di dalamnya, kemudian akhirnya aktif pada waktu 
yang tidak diduga.

Penyakit ini biasanya dialami oleh mereka yang memiliki rentang usia dewasa yakni 45 hingga 64 tahun.

Namun saat ini, penyakit ini juga ditemukan pada mereka yang memiliki usia muda dan kasus ini lebih banyak ditemukan terjadi pada perempuan.

"HZ ini terutama terjadi pada kelompok usia 45 hingga 64 tahun. Namun, saat ini tren kasus HZ cenderung terjadi pada usia yang lebih muda dan lebih sering terjadi pada wanita," kata dr Anthony.

Perlu diketahui, Herpes Zoster dapat mempengaruhi kualitas hidup para penderitanya, baik itu secara fisik, psikologis maupun kehidupan sosialnya.

Penyakit ini juga memiliki dampak buruk pada kualitas hidup seseorang.

Kesulitan yang ditimbulkan nyaris setara dengan yang dialami mereka yang menderita penyakit gagal jantung, 
diabetes, serangan jantung dan depresi.

Salah satu dampak yang sangat mengganggu yakni rasa nyeri berkepanjangan yang disebut sebagai NPH.

Kendati demikian, jika diobati secara cepat dan tepat, harapan kesembuhan pasien Herpes Zoster ini akan meningkat.

Angka mereka yang pernah mengalami penyakit ini pun cukup besar.

Semakin tinggi usia saat terkena Herpes Zoster, semakin besar pula potensi terjadinya komplikasi NPH.

"Kira-kira 30 persen populasi pernah mengalami HZ semasa hidupnya, sedangkan insiden kasus NPH sekitar 10 hingga 40 persen dari kasus HZ," pungkas dr Anthony.

Artikel Asli