OTP beralih ke WhatsApp, Telegram dan Line, ini peringatan pakar digital forensik

Kontan.co.id Dipublikasikan 15.40, 10/08 • Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Demi keamanan, ketika melakukan transaksi digital finansial menjalankan transaksi online lain, masyarakat harus memasukkan one-time password atau  OTP. Tujuannya  menjaga pemilik akun dari masalah. Misalnya pencurian dan penyalahgunaan atas akun. 

Kode OTP tersebut dikirim melalui SMS kepada nomor yang didaftarkan pemilik akun. Namun belakangan beberapae-commerce dan perbankan nasional mengalihkan pengiriman kode OTP melaluiplatform over the top (OTT) seperti Telegram, Line dan WhatsApp.

CEO & Chief Digital Forensic Indonesia, Ruby Zukri Alamsyah mengatakan,  layanan OTT pesan instan tak ada intervensi dari operator. Secara teoritis OTP  langsung sampai kepada user.  Namun yang patut menjadi perhatian, adalah banyak kasus pembajakan atau penguasaan akun WhatsApp.

Orang yang tak bertanggung jawab tersebut menggunakan aplikasi tertentu akan mampu dengan mudah menguasai Whatsapp. “Jika  bank tidak percaya kepada pihak ketiga karena ada isu SIM swap kemarin, alasan keamanan belum tentu sesuai untuk melakukan migrasi pengiriman OTP dari SMS ke OTT pesan instan. Perpindahan OTP ke OTT  itu tak efektif dan tidak optimal untuk isu keamanan. Menguasai aplikasi OTT pesan instan jauh lebih mudah ketimbang menguasai SMS,” terang Ruby, dalam pernyataan tertulis ke Kontan.co.id, Senin (10/8). 

Ia berharap, baik perbankan maupune-commerce dapat mengutamakan faktor keamanan pelanggan di atas faktor lain. Sehingga jangan sampai masyarakat dirugikan. Dan perbankan ataue-commerce jangan enyalahkan masyarakat jika ada pembobolan rekening nasabah akibat OTP yang dikirimkan melalui OTT pesan instan.  “Jangan sampai di kemudian hari perbankan dane-commerce menyalahkan pelanggan yang tidak mengamankan aplikasi OTT pesan instan,” tegas Ruby.

Artikel Asli