OJK Sebut Banyak Warga AS Jatuh Miskin karena Minim Literasi Keuangan

Jawapos Diupdate 08.25, 13/08 • Dipublikasikan 15.51, 13/08 • Estu Suryowati
OJK Sebut Banyak Warga AS Jatuh Miskin karena Minim Literasi Keuangan

JawaPos.com – Pandemi Covid-19 membuat banyak sektor usaha terpaksa mengambil keputusan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada para pegawainya. Hal itu disebabkan kondisi perusahaan yang merugi sehingga tidak dapat membayar gaji karyawan.

Anggota Dewan Komisioner bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tirta Segara mengatakan, banyak kaum marjinal yang mendadak jatuh miskin karena kurangnya edukasi dan literasi keuangan dan investasi. “Banyak kaum marjinal yang mendadak jatuh miskin karena enggak bekerja dan mereka enggak siap menghadapi keadaan darurat ini. Mereka enggak punya uang buat berjaga-jaga,” ujarnya dalam acara diskusi, Kamis (13/8).

Apalagi, saat ini Indonesia memasuki situasi dengan pertumbuhan ekonomi yang minus 5,32 persen pada kuartal-II 2020 (data BPS). Selain itu, tingkat kemiskinan juga tumbuh sebanyak 1,89 juta menjadi 4,86 juta dan pengangguran yang meningkat 2,92 juta menjadi 5,23 juta.

Meskipun demikian, Tirta mengungkapkan, bukan hanya Indonesia yang mengalami kondisi seperti itu. Di negara maju seperti Amerika Serikat (AS), banyak juga warga yang mendadak jatuh miskin gara-gara Covid-19 akibat minimnya literasi keuangan.

“Sekitar 40 persen masyarakat AS tidak memiliki uang untuk berjaga-jaga. Lalu utang kartu kredit di AS mencapai titik tertinggi, dan setengah dari penduduk AS tidak bisa berharap pada uang pensiun,” tuturnya.

Oleh karena itu, pemerintah AS saat ini juga gencar melakukan literasi keuangan untuk mengedukasi warganya. Begitu juga dengan pihak OJK yang secara masif memberikan edukasi dan literasi keuangan mulai dari tingkat perguruan tinggi.

“OJK juga meletakkan literasi keuangan ini sebagai program prioritas ke kampus-kampus untuk memberikan pesan ke milenial,” pungkasnya.

Artikel Asli