Ngeri... Bintik Matahari Seukuran Mars Mengarah ke Bumi, Ini Dampaknya

Suara.com Dipublikasikan 01.30, 11/08 • Dythia Novianty
Ilustrasi bintik Matahari (Shutterstock).
Ilustrasi bintik Matahari (Shutterstock).

Suara.com - Bintik Matahari merupakan bagian dari permukaan Matahari yang dipengaruhi aktivitas magnetis hebat. Bintik Matahari masif, diamati sedang mengarah ke Bumi dan diperkirakan akan bertambah besar dalam beberapa hari ke depan.

Daerah tersebut dijuluki AR2770, memiliki inti primer gelap seukuran Mars dan sejumlah bercak seukuran kawah di permukaannya.

Bintik Matahari adalah anggota Siklus Matahari 25, periode aktivitas elektromagnetik baru selama 11 tahun dan diamati berderak dengan suar kecil.

Meskipun A52770 belum menghasilkan suar Matahari "pembunuh", para ahli terus mengawasinya. Langkah ini sebagai upaya persiapan. Pasalnya, peristiwa semacam itu dapat melumpuhkan operasi dan fasilitas listrik di Bumi.

Bintik Matahari baru diamati oleh astronom amatir Martin Wise, yang mengambil gambar penampakannya dari Trenton, Florida.

"Bintik Matahari ini adalah sasaran empuk bagi teleskop surya saya," kata Wise yang menggunakan teleskop 8 inci dengan filter Matahari, seperti dikutipDaily Mail, Selasa (11/8/2020).

Menurut laporan Space Weather, AR2770 disebut telah memancarkan sejumlah suar kelas B, kelas suar terendah, yang telah mengirimkan gelombang kecil ionisasi melalui atmosfer Bumi.

Namun, wilayah tersebut terus tumbuh dan peningkatan aktivitas kemungkinan terjadi selama beberapa hari ke depan, yang dapat menghasilkan suar Matahari lebih intens.

Menurut NASA, suar Matahari merupakan ledakan besar di atmosfer Matahari yang dapat melepaskan energi yang sangat besar. Suar Matahari memengaruhi semua lapisan atmosfer Matahari dan kebanyakan terjadi di wilayah aktif di sekitar bintik Matahari.

Dengan memprediksi kapan aktivitas Matahari akan meningkat, berpotensi melindungi astronot di orbit serta mencegah teknologi seperti satelit dihancurkan.

Pada Juni lalu, para ilmuwan dari University of Warwick meluncurkan jam Matahari baru yang dapat menghitung waktu aktif dan nonaktif Matahari dengan lebih baik.

"Kemampuan untuk memperkirakan risiko terjadinya badai besar Matahari di masa depan, sangat penting untuk teknologi berbasis luar angkasa dan darat (Bumi) yang sangat sensitif terhadap cuaca luar angkasa, seperti satelit, sistem komunikasi, distribusi daya, dan penerbangan," kata Profesor Sandra Chapman, penulis utama penelitian.

Tim ahli menggunakan pengamatan bintik Matahari selama 200 tahun terakhir dan memetakan aktivitas Matahari selama 18 siklus Matahari menjadi siklus 11 tahun standar, di mana Matahari memulai siklus baru setiap 11 tahun.

Bintik Matahari. [NASA]

Di tengah siklus, aktivitas Matahari meningkat menghasilkan lebih banyak radiasi dan semuanya dapat diukur dengan bintik Matahari.

Para ahli menggunakan catatan nomor bintik Matahari harian yang tersedia sejak 1818, untuk memetakan aktivitas Matahari dan memungkinkan tim melihat waktu aktif serta nonaktif aktivitas Matahari secara tepat.

Setelah pembuatan jam dari pengamatan bintik Matahari, jam dapat digunakan untuk melakukan pengamatan aktivitas Matahari dan cuaca luar angkasa.

Artikel Asli