Netizen Menduga Ini Lokasi Cerita Horor KKN di Desa Penari

Keepo.me Diupdate 00.04, 30/08/2019 • Dipublikasikan 22.08, 29/08/2019 • Mabruri Pudyas Salim

Netizen menduga lokasi dalam cerita horor KKN Desa Penari

Beberapa waktu terakhir sebuah cerita horor berjudul "KKN di Desa Penari" viral di kalangan netizen. Cerita horor yang katanya diambil dari pengalaman nyata para pelakunya tersebut menjadi heboh setelah dibagikan pertama kali oleh akun Twitter, @SimpleM81378523.

"KKN di Desa Penari" menceritakan tentang pengalaman horor 6 mahasiswa pada saat KKN di sebuah desa di daerah timur Jawa. Penulis mengaku bahwa kisah tersebut berdasarkan kisah nyata, sehingga setiap nama tokoh dan tempatnya disamarkan.

Tokoh-tokoh dalam cerita tersebut kemudian diberi nama Widya, Nur, Ayu, Wahyu, Bima, dan Anton. Sementara untuk lokasi kejadiannya, penulis hanya menyebut "Kota S", Kota B", "Hutan D", dan "Desa W".

KKN di Desa penari-
Horror Story-@bacahorror #bacahorror pic.twitter.com/QM0zY8m9rj

— SimpleMan (@SimpleM81378523) June 24, 2019

Penyebutan nama tempat yang disamarkan itu lantas menimbulkan spekulasi di antara para netizen yang penasaran. Bahkan baru-baru ini muncul sebuah kiriman di Facebook yang membahas tentang di mana lokasi sebenarnya tempat kejadian "KKN di Desa Penari".

Dalam kirimannya, pengguna akun Facebook bernama Eko Bambang Visianto menilai bahwa ada banyak kejanggalan yang terdapat dalam kisah ini. Menurutnya, ada beberapa bagian dalam cerita yang tidak masuk akal untuk bisa disebut kisah nyata.

"Oh iya, semua petunjuk yang akan aku sampaikan di status ini adalah untuk mencari jawaban atas kejanggalan-kejanggalan kisah KKN di Desa Penari itu, yang doesn't makes sense untuk disebut KISAH NYATA alias based on true events," tulisnya.

loop-img.s3.ap-southeast-1.amazonaws.com
amazonaws.com

Lebih lanjut dia juga mengatakan bahwa berdasar dari penggunaan kata sapaan "rek" atau "arek", Eko menyimpulkan bahwa kisah tersebut terjadi di Jawa Timur. Kemudian terkait Kota S yang merupakan lokasi kampus keenam mahasiswa tersebut, Eko menduga bahwa itu adalah kota Surabaya.

"'Cuk. Sepedaan tah' kata Wahyu, spontan. Saat itu ada yang aneh entah disengaja atau tidak, ucapan yang di anggap biasa di kota S, di tanggapi lain oleh lelaki-lelaki itu, wajahnya tampak tidak suka, dan sinis tajam melihat wahyu," tulis Eko mengutip bagian dari cerita.

"Sudah pada tau kan kalo yang biasa bilang 'cak-cuk-cak-cuk' semacam itu adalah para Bonek. Ya memang sih, Arema juga suka gitu. Tapi kan kota mereka berawalan huruf M, bukan S," tulis Eko melanjutkan.

loop.co.id
loop.co.id

Setelah itu, Eko juga mencoba untuk mengungkap tempat yang menjadi lokasi KKN keenam mahasiswa ini dalam cerita.

"Kunci ketiga adalah KKN tersebut di daerah 'ETAN' atau 'WETAN', yang artinya berada di wilayah Jawa Timur bagian timur, yang bisa ditegaskan bahwa itu berada di wilayah TAPAL KUDA (meliputi Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi)," jelas Eko.

Dalam kisah "KKN di Desa Penari", penulis menyebutkan bahwa KKN dilaksanakan di kota B. Sementara itu di Jawa Timur bagian timur ada dua kota yang namanya berawalan huruf B, yaitu Bondowoso dan Banyuwangi.

"Dari sini nama Bondowoso harus dicoret karena nggak cocok dari keseluruhan cerita di bagian 1 maupun bagian 2. Alasannya? Ada dijelaskan dalam cerita tersebut bahwa untuk menuju kota B harus melalui kota J yang sudah dipastikan itu adalah Kota Jember dan itu nggak wajar. Karena ngapain jauh-jauh muter ke selatan untuk menuju Bondowoso dari Surabaya," terangnya.

Lebih lanjut, Eko juga menambahkan bahwa seperti kabupaten Tapal Kuda lain di wilayah pesisir utara, Bondowoso tidak dikenal akrab dengan tradisi penari atau tari-tarian seperti yang digambarkan dalam cerita.

Maka dari itu, Kota B yang dimaksud dalam "KKN di Desa Penari" bisa dipastikan adalah kota Banyuwangi. Asumsi tersebut diperkuat oleh kekhawatiran ibu Widya yang digambarkan dalam cerita.

Apalagi, Banyuwangi terkenal dengan reputasinya terkait dengan hal-hal mistis dan klenik. Selain itu, Banyuwangi juga memiliki tradisi tari-tarian yang cukup terkenal, yakni Tari Seblang.

"Salah satu tarian paling kuno dan mistis di kabupaten itu, di mana para penarinya dalam keadaan trance alias tidak sadar dan bisa menari selama berjam-jam hingga berhari-hari nonstop," kata Eko.

Terkait dengan lokasi hutan, Eko mengatakan bahwa hutan yang dimaksud dalam cerita adalah Hutan Gumitir.

"Meskipun ada banyak hutan besar dan 'wingit' (red: angker) di Banyuwangi, di antaranya adalah hutan lereng Gunung Raung di sebelah utara dan the legendary Alas Purwo. Tapi keduanya aku coret karena jika kupaksakan untuk sesuai dengan kisah KKN di Desa Penari, akan semakin banyak lagi ketidakcocokannya," jelas Eko.

Kemudian terkait nama desa yang menjadi lokasi KKN, Eko menduga bahwa itu adalah daerah bernama Mrawan.

"Ya gak tau lagi kalo yang dimaksud oleh penulis dalam cerita itu adalah daerah MRAWAN (masih di Alas Gumitir) yang memang nggak dilewati mobil, tapi itu bukan karena nggak bisa, melainkan nggak boleh oleh PTPN XII selaku pemangku wilayah itu karena khawatir kendaraan roda empat bisa untuk dipakai mengangkut kayu atau hasil hutan curian," tandasnya.

Semua dugaan ini telah disampaikan oleh Eko dalam akun Facebook-nya. Kalau kamu sendiri yang sudah membaca cerita "KKN di Desa Penari", apakah menurutmu semua spekulasi lokasi itu sesuai?

Artikel Asli