Nasib Selebgram dan Bisnis 'Love' Usai Like Instagram Hilang

CNN Indonesia Dipublikasikan 00.25, 14/11/2019 • CNN Indonesia

Layanan media sosial populer, Instagram kini tengah menguji coba menghapus fitur Likes di sebagian negara di Eropa dan Amerika Serikat.

Bos Instagram Adam Mosseri berharap para pengguna tidak lagi tertekan untuk mengoleksi jumlah likes menggunakan gambar, video, atau komentar dan lebih berfokus pada hal-hal yang diunggah.

Senada dengan Mosseri, pengamat media sosial dari Bentang Informatika Kun Arief Cahyantoro mengatakan selama ini indikator konten berkualitas yang diunggah ke Instagram ialah seberapa banyak jumlah likes yang didapat.

"Setiap kali pengguna mem-posting konten, pengguna akan dihakimi oleh likes sebagai bentuk kualitas postingan pengguna," kata Kun saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (12/11).

Oleh sebab itu, Kun menilai dengan dihapusnya fitur itu dapat mengalihkan fokus pengguna untuk lebih banyak mengunggah konten dibanding berlomba-lomba mengumpulkan likes.

Dia pun menyebut penghapusan fitur likes akan memengaruhi bisnis selebgram atau influencer yang memasarkan produk mereka lewat Instagram. Sebab, fitur ini merupakan salah satu komponen utama untuk membangun produk mereka.

"Pengaruh bagi bisnis influencer sangat signifikan. Selama ini mereka bergantung pada emoji, thumbs up, dan likes. Likes ini merupakan komponen utama bagi bisnis mereka karena ingin membangun 'fans' terhadap produk atau orang yang mereka usung," jelas Kun.

Lebih lanjut, bisnis yang dibangun para selebgram dianggap curang karena jumlah likes lebih banyak dibanding komentar berkualitas yang dicantumkan di kolom komentar produk mereka.

Ditambah lagi dengan banyaknya individu yang menawarkan jasa jual-beli likes di Instagram, menggunakan aplikasi khusus.

"Tipu muslihat tampak pada banyaknya penawaran jasa untuk menaikkan jumlah likes, baik secara terang-terangan maupun menggunakan aplikasi khusus," tutur Kun.

"Solusi bagi pebisnis influencer adalah menciptakan konten kreatif untuk membangun komunitas bagi produk atau orang yang mereka usung. Sehingga jika ingin tetap bertahan, mereka harus berubah pola bisnisnya dari using feature menjadi konten kreatif untuk membangun brand community," pungkasnya.

Meski dinilai mengancam, namun perusahaan Anymind Group yang menampung influencer marketing lewat Casting Asia, menganggap langkah Instagram sebagai sesuatu yang baik. Menurut Country Manager Anymind Group Indonesia Lidyawati Aurelia, ekosistem influencer bakal lebih terarah untuk mengkampanyekan produk mereka lebih baik lagi tanpa berfokus pada likes.

"Bersama dengan pergeseran ke arah penghapusan likes, akan mendorong ekosistem influencer marketers untuk membuat kampanye yang lebih berkesan dan mengembangkan konten yang meningkatkan action dari followers [pengikut]," ucapnya.

Selain itu, Lidyawati menyarankan agar influencer untuk melihat wawasan (insight) akun mereka lebih dalam seperti melalui platform influencer marketing yang menyediakan analisis influencer seperti demografi followers, prefensi influencer, dan performa kampanye mereka.

Guna menggaet influencer, CastingAsia sendiri memiliki sejumlah indikator. Salah satunya ialah seberapa sering influencer itu berperan dalam kampanye sebuah merek.

"Kami menyediakan parameter dalam menemukan influencer, seperti keywords pada profil, postingan, tags, akun-akun sosial media yang terhubung, dan juga seberapa banyak atau sering mereka ikut dalam kampanye sebuah brand atau merek," pungkas Lidyawati.

Instagram Hapus Fitur Likes, Jasa Jual 'Likes' Terpengaruh

Penjual likes Instagram, Tri Setia Irawan dari Digital Marketing Iconix Studio mengakui bisnisnya bakal berpengaruh jika fitur jumlah total likes disembunyikan secara masif oleh Instagram. Kendati demikian, Tri mengatakan para penjual jasa likes bakal mencari cara untuk tetap memasarkan jasa mereka. 

"Pasti memengaruhi bisnis saya karena akses mulai ditutup. Namun, tim penerima jasa seperti ini juga pasti terus mengubah sistemnya untuk bisa mengakses ke Instagram dalam memberikan jasa," kata dia saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (12/11).

Selain itu, Tri mengakui bahwa selebgram atau influencer yang memakai jasanya lebih banyak membeli paket likes. Sebab, menurut mereka dengan banyaknya likes, keterikatan (engagement) produk yang diperoleh terus meningkat.

"Dari seluruh paket yang ditawarkan, didominasi untuk jasa like dan view ribuan termasuk impression [kesan] karena menurut mereka dengan banyaknya likes maka produk engagement produk [ketertarikan produk] mereka bakal meningkat," terangnya.

Artikel Asli