Nasib Sakinah: Sering Beri Utang, tapi Disiram Air Keras

kumparan Dipublikasikan 07.12, 12/11/2019 • Ulfa Rahayu
Sakinah, korban penyiraman air keras saat mendorong gerobak sayurnya. Foto: Ulfa Rahayu/kumparan

Sakinah masih syok atas peristiwa penyiraman cairan kimia diduga air keras yang menimpa dirinya pada Jumat (8/11). Kehidupan sehari-hari Sakinah sebagai penjual sayur tidak pernah macam-macam, tapi malah diserang oleh orang tak dikenal.

Ia bersama suaminya sudah 25 tahun hidup merantau di Jakarta. Dia lalu tinggal di kontrakan petak seharga Rp600 per bulan di Gang Haji Taat, Meruya Utara.

"Pindah-pindah kontrakan tapi selalu di daerah sini, jadi sama tetangga sudah sangat dekat," kata Sakinah bercerita kepada kumparan bagaimana hubungannya dengan warga sekitar, Selasa (12/11).

Sakinah, tukang sayur korban penyiraman air keras. Foto: Ulfa Rahayu/kumparan

Makanya saat ada yang menyiramkan diduga air keras ke kepalanya, ia tak memiliki gambaran apa pun siapa pelaku dan apa motifnya. Yang dia ingat, pelaku merupakan laki-laki dan menggunakan jaket merah. Itu pun hanya sebentar melihat karena pelaku langsung kabur menggunakan motor.

Sejak 25 tahun hidup di Jakarta, Sakinah membesarkan 3 anak perempuannya dengan berjualan sayur dengan gerobaknya. Sedangkan suaminya, Senen, berjualan kopi keliling. Sekarang tiga anaknya sudah bersuami dan hidup terpisah. Tinggal si bungsu saja yang masih tinggal bersama.

Setiap hari, Sakinah belanja sayuran ke pasar sekitar pukul 05.00 WIB. Dia lalu berjualan hingga pukul 11.00 WIB. Siang hari dia memilih beristirahat.

Perempuan asal Wonogiri ini melanjutkan berjualan mulai pukul 17.00 hingga pukul 19.00 WIB.

Sakinah, tukang sayur korban penyiraman air keras. Foto: Ulfa Rahayu/kumparan

Meski kehidupannya sederhana dan pendapatan berjualan sayur hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari, ia tak pernah ragu mengizinkan pelanggannya untuk berutang. Apalagi jika orang tersebut adalah pelanggan setianya.

Ia malah sangat bersyukur jika bisa sedikit membantu mengisi perut orang lain walau dia sendiri harus berhemat.

"Kadang-kadang ada pembeli yang bilang 'Mbah Nah saya belum ada duit' saya selalu bilang 'ya sudah ambil saja dulu," kata Sakinah.

Sejak peristiwa penyiraman, Sakinah belum bisa kembali berjualan. Ia menderita luka bakar di kepala, bagian leher belakang hingga ke punggung, dahi hingga ke wajah, dan beberapa cipratan di tangan bagian kanan.

Siraman cairan kimia diduga air keras itu juga membuat rambut Sakinah rontok. Bekas cairan itu juga masih berbekas di gerobaknya.

Luka penyiraman air keras di tubuh Sakinah. Foto: Ulfa Rahayu/kumparan

Penyerangan dengan cairan kimia diduga air keras ini sudah dua kali terjadi di Jakarta Barat dalam sepekan terakhir. Selain Sakinah, dua siswa SMP di Kebon Jeruk, juga jadi korban.

Keduanya disiram cairan kimia saat sedang jalan pulang menuju rumah usai sekolah. Orang tak dikenal yang menggunakan sepeda motor tiba-tiba datang dan menyiramnya dengan cairan kimia itu.

Polisi kini masih memburu pelaku. Saksi hingga rekaman CCTV dikumpulkan untuk menangkap pelaku.

"Polda mem-back up untuk menangkap pelaku," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono.

Artikel Asli