Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Kabar Baik, Vaksin HIV Buatan Oxford Memasuki Uji Coba Klinis Tahap 1

Kompas.com Dipublikasikan 05.32, 22/07 • Nadia Faradiba
Shutterstock
Ilustrasi infeksi HIV

KOMPAS.com - Vaksin HIV yang dikembangkan oleh The University of Oxford telah memasuki uji coba klinik tahap 1. Ini tentu menjadi harapan baru untuk masyarakat agar bisa terlindungi dari virus HIV. Apa itu virus HIV dan bagaimana vaksin ini dibuat? Artikel ini akan menjawab pertanyaan tersebut.

Apa itu HIV?

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus ini merupakan virus yang menyerang sistem imun tubuh. Jika tidak mendapatkan perawatan, infeksi HIV bisa memicu terjadinya AIDS (acquired immunodeficiency syndrome).

Saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan infeksi HIV. Sekali seseorang terinfeksi, maka orang ini akan terinfeksi seumur hidup. Namun, dengan perawatan yang tepat, infeksi ini bisa dikontrol. Pasien HIV pun bisa hidup dengan normal seperti biasa.

HIV pertama kali ditularkan oleh simpanse di Afrika Tengah. Studi menunjukkan bahwa virus ini pertama kali menginfeksi manusia pada akhir tahun 1800-an. Cara penularan HIV dari manusia ke manusia lainnya adalah kontak dengan cairan tubuh yang terinfeksi seperti darah, semen, dan cairan vagina.

Virus HIV menyerang sistem imun tubuh dengan cara menyatu ke dalam DNA tubuh sehingga tidak terdeteksi oleh sistem imun. Oleh karena itu, jarang sekali sistem imun mampu memproduksi antibodi untuk merespons infeksi virus tersebut.

Baca juga: Alasan Pendidikan Seks Bantu Indonesia Akhiri HIV/AIDS 2030

Vaksin HIV

Berbagai penelitian untuk membuat vaksin HIV telah dilakukan selama lebih dari 40 tahun. Namun, karena karakteristik virus yang unik, sangat sulit untuk membuat vaksinnya. Terlebih, HIV adalah tipe virus yang sangat mudah bermutasi.

Sudah lebih dari 400 vaksin HIV yang pernah memasuki uji coba klinis tahap 1. Namun, hingga saat ini belum ada vaksin yang lolos hingga tahap akhir.

The University of Oxford memberikan kita harapan baru dengan mengembangkan vaksin HIV yang diberi nama HIVconsvX. Vaksin ini telah memasuki uji coba klinis tahap 1.

Uji coba ini melibatkan 13 orang sehat yang bebas HIV dengan rentang usia 18 hingga 65 tahun, namun memiliki risiko tinggi terpapar virus ini.

Pemberian dosis vaksin pertama telah diberikan pada awal Juli 2021. Selanjutnya, pasien akan menerima dosis kedua setelah empat minggu. Hasil keefektifan dijadwalkan bisa dilaporkan pada April 2022 mendatang.

Menurut ahli dari University of Oxford Professor Tomas Hanke, vaksin ini menargetkan varian HIV-1 yang luas, sehingga diharapkan mampu mencegah infeksi HIV di banyak wilayah serta pada varian yang berbeda. Selain itu, vaksin ini juga berpotensi bisa menyembuhkan orang yang sudah terinfeksi.

Baca juga: Belajar Melawan Stigma Pandemi Covid-19 dari Epidemi HIV di Indonesia

Optimisme ini berdasar pada sebagian besar kandidat vaksin HIV yang fokus untuk mengaktifkan sel B pada sistem imun. Berbeda dengan vaksin HIV buatan Oxford kali ini yang menargetkan sel T. Sehingga berpotensi memberikan perlindungan lebih terhadap virus HIV dibandingkan vaksin sebelumnya.

Uji coba klinis juga dijadwalkan akan dilakukan di beberapa negara di Eropa, Afrika, dan Amerika. Semoga vaksin HIVconsvX ini bisa menjadi harapan baru bagi masyarakat agar terlindungi dari infeksi HIV dan AIDS.

Penulis : Nadia Faradiba Editor : Nadia Faradiba

Artikel Asli