My Ice Girl - Part 5: Abu-abu - 2

Storial.co Dipublikasikan 04.12, 07/07 • Mizan Media Utama
Abu-abu - 2

“Kak, gimana caranya ungkapin perasaan ke orang yang kita suka?”

Dara memperhatikan gadis polos yang baru saja menghampirinya dan ikut duduk di sebelahnya, di pinggir kolam renang.

“Kamu lagi suka sama seseorang, ya?” goda Dara. “Siapa cowok itu?” tanyanya penasaran.

Gadis itu tampak malu-malu. “Nanti Kak Dara juga tahu sendiri. Ayo dong, Kak. Kasih tahu aku, gimana caranya?”

Dara mulai berpikir serius. “Kalau kamu nggak berani ungkapin langsung ke orangnya, coba tulis surat aja.” 

“Bikin surat cinta?” tanya gadis itu dengan wajah yang memerah. Sepasang lesung pipit muncul ketika gadis itu berusaha keras menahan senyumnya yang hampir merekah sempurna.

Dara mengangguk sambil tersenyum manis. Ekspresi gadis SMP yang sedang jatuh cinta memang sangat menggemaskan di matanya.

“Nanti Kak Dara mau bantuin aku kasih surat itu ke dia, kan?”

Dara membulatkan matanya. “Memangnya Kakak kenal sama cowok yang kamu suka itu?” tanyanya, makin penasaran.

Gadis yang ditanya hanya merespons dengan memperlihatkan sepasang lesung pipitnya yang sempurna. Dia tersenyum malu-malu tanpa menjawab pertanyaan Dara barusan.

“Haaaaaah….” Dara menghela napas berat untuk kali kesekian. Kenangan itu lagi. Seharian ini dia terus dihantui perasaan bersalah. Walaupun kejadiannya sudah cukup lama berlalu, dan semua orang mengatakan bahwa kejadian itu bukanlah kesalahannya. Namun, tetap saja, Dara merasa lalai sebagai seorang kakak.

Dara membenamkan wajahnya di dalam selimut dan memaksa memejamkan matanya rapat-rapat. Dia berharap kantuk segera datang menghampirinya sehingga potongan-potongan memori itu tidak lagi mengganggunya.

***

“Welcome.” Malik menyambut kedatangan Aldo dan Beni ke sekolahnya dengan tos tangan dan pelukan singkat. Keduanya adalah teman akrabnya sewaktu bersekolah di SMA 1.

“Udah punya banyak teman, ya, lo di sini, Mal,” kata Aldo sambil melirik beberapa cowok di belakang Malik. “Gue kira mantan lo doang yang banyak.”

“Sial!” Malik terbahak walau sedikit tersinggung. Dia lalu mengenalkan teman-temannya kepada Aldo dan Beni.

“Wajah lo kayaknya familier banget,” komentar Ethan ketika menjabat tangan Aldo.

“Oh, ya? Emang, sih, banyak yang bilang gue mirip sama Reza Rahadian. Mungkin itu yang lo sebut familier,” jawab Aldo percaya diri.

Jawaban itu memancing tawa mereka. Kesan pertama perkenalan singkat itu membuat Ethan menyimpulkan sesuatu, teman-teman Malik sama asyiknya dengan Malik. Mudah bergaul dan asyik diajak bercanda.

“Sehabis tanding, ajak gue makan soto ayam kantin, ya. Kangen banget sama makanan itu,” kata Aldo.

“Soto ayam? Perasaan di kantin nggak ada yang jualan soto,” sahut Iko. “Ya kan, Than?”

“Di kantin SMP.” Aldo memperjelas maksudnya.

“Oh, soto ayam Babe? Iya, itu emang terkenal enak banget,” sambar Ethan penuh semangat.

“Kok lo bisa tahu, Do?” tanya Malik heran.

“Gue udah beberapa kali tanding futsal di sini, Mal. Soto ayamnya bikin gue ketagihan. Enak banget pokoknya. Sayang banget kalau lo yang sekolah di sini malah belum pernah nyobain.”

“Traktir gue, ya,” kata Malik mulai tertarik.

“Gimana, sih. Ada juga lo yang traktir gue. Gue, kan, tamu di sini,” balas Aldo yang sukses memancing tawa.

“BTW, kalian bawa rombongan banyak bener,” kata Ethan sambil melihat wajah-wajah asing yang sudah memenuhi hampir setengah lapangan futsal.

Beni melirik sekilas ke arah pandangan Ethan, kemudian menyahut, “Cewek-cewek yang ikut itu kebanyakan mantannya Malik. Mereka minta ikut karena kangen udah lama nggak ketemu Malik.”

“Bisa aja lo,” sahut Malik tidak percaya.

“Wuih, cewek-cewek SMA 1 bening-bening ternyata, ya. Ajak ke sini dong, Ben. Kenalin beberapa sama kita.” Mata Ethan sejak tadi sibuk memperhatikan wajah-wajah cantik di pinggir lapangan.

“Lo mau kenalan sama yang mana?” tawar Beni.

“Seriusan?” Ethan langsung semringah. Dia kemudian menyikut Iko di sebelahnya. “Yang mana yang cantik, Ko?”

Iko hanya memperhatikan sekilas, kemudian menyahut, “Masih cantikan Diana.”

Ethan berdecak pelan, kemudian kembali sibuk menentukan pilihannya.

“Ngomong-ngomong, Satya ke mana?” tanya Iko tiba-tiba. Dia baru menyadari temannya yang satu itu tidak ada di sekitar.

“Yakin mau tahu di mana Satya?” tanya Arul yang baru terdengar suaranya.

Iko langsung menoleh. “Di mana dia?” tanyanya penasaran.

“Tuh, di bawah pohon, di pinggir lapangan.”

Iko menoleh ke arah tunjuk Arul. Napasnya kemudian naik turun melihat pemandangan yang tidak pernah ingin dilihatnya. Memang benar Satya ada di sana, tetapi tidak sendiri. Namun, berdua dengan Diana. Sedang bercengkerama asyik sekali, sambil sesekali saling melempar senyum satu sama lain.

“Sejak kapan mereka bisa sedekat itu?” tanya Iko kesal.

“Ya sejak lo nggak ngirim chat ke Diana selama seminggu ini. Lo udah ketinggalan jauh dari Satya, Ko.” Ethan melemparkan fakta telak kepada Iko.

Kedua tangan Iko mengepal kuat. Dia sungguh kesal dengan keadaan ini. Dia kemudian berbalik pergi.

“Eh, Ko. Lo mau ke mana? Pertandingan sebentar lagi mulai,” teriak Ethan kepada Iko.

“Gue udah nggak minat nonton!” sahut Iko tanpa menoleh sama sekali.

“Yah, dia ngambek,” kata Ethan pasrah. Dia membiarkan Iko pergi.

Sementara itu, Malik sejak tadi tidak fokus pada obrolan Ethan dan teman-temannya. Karena, lagi-lagi sepasang lesung pipit dari senyuman manis Dara berhasil menghipnotisnya. Malik memperhatikan sosok itu dari kejauhan. Tidak lama kemudian, dia tergerak untuk menghampiri cewek itu.

“Mal, lo mau ke mana?”

Pertanyaan dari Aldo barusan diabaikan begitu saja oleh Malik.

“Palingan mau nyamperin gebetannya,” sahut Ethan.

“Gebetan?”

“Iya. Tuh, yang lagi berdiri di ujung koridor.”

Malik tidak memedulikan percakapan Ethan dan Aldo yang sedang membahas dirinya. Saat ini, Dara jauh lebih menarik baginya.

Ketika Malik sudah berada di dekat Dara, cewek itu malah menunduk sambil berdecak pelan.

“Ki, tungguin. Tali sepatu gue lepas,” kata Dara setengah berteriak kepada temannya—Niki—yang sudah berjalan cukup jauh di depannya.

Tanpa menoleh, Dara mengulurkan ponselnya ke orang yang berdiri di sebelahnya. “La, tolong pegang sebentar.”

Malik yang berada tepat di sebelah Dara sempat berpikir beberapa detik. Rupanya Dara mengira Lala masih berada di sebelahnya. Padahal, temannya itu justru sudah memisahkan diri sejak tadi dan bergabung bersama siswi-siswi yang sedang berkenalan dengan para pemain tim futsal dari SMA 1.

Malik menyambut ponsel itu dengan cepat sebelum Dara menoleh padanya. Sambil menunggu cewek itu selesai mengikat tali sepatunya, Malik menyalakan layar ponsel Dara. Sayangnya ponsel itu dalam keadaan terkunci. Apabila tidak, tentu saja dia akan langsung menghubungi nomornya sendiri untuk mengetahui nomor ponsel Dara.

Malik terpaku menatap layar ponsel di genggamannya. Tampilan wallpaper ponsel itu seketika membuatnya tertegun. Bagaimana bisa tampilan foto Dara di sana sangat mirip dengan Manda? Mulai dari sudut pengambilan gambar, latar belakang yang berada di samping kolam renang, ditambah senyuman dengan sepasang lesung pipit yang sempurna. Malik yakin, pernah melihat foto Manda yang hampir sama dengan foto ini.

Dara mencurigai sesuatu setelah dia selesai mengikat tali sepatunya. Dia melirik sepasang sepatu hitam yang berada di dekatnya. Bukan sepatu wanita yang dia yakini milik Lala, melainkan sepatu pria.

Dara mendongak dan langsung bangkit berdiri. Dia terkejut melihat Malik berada di sebelahnya. Dengan gerakan cepat, dia menyambar ponselnya yang berada dalam genggaman cowok itu.

“Kenapa lo bisa ada di sini?” tanya Dara heran.

Malik masih belum menemukan suaranya. Dia masih terkejut dengan sesuatu yang baru saja dia temukan. Semua ini terlalu kebetulan. Untuk kali kesekian, Dara kembali mengingatkannya akan sosok Manda.

“MALIK!”

Teriakan seseorang dari arah lapangan membuat Malik menoleh. Roni yang berada di tengah lapangan memberikan kode agar dia segera bergabung di lapangan.

“Pertandingan udah mau mulai!” teriak Roni lagi.

Malik segera menyusul para pemain yang sedang bersiap-siap di lapangan, setelah sebelumnya menyempatkan diri menoleh ke arah Dara sekali lagi.

Artikel Asli