My Ice Girl - Part 3: PDKT

Storial.co Dipublikasikan 04.11, 07/07 • Mizan Media Utama
PDKT

Part 3

“Ada yang menarik dari sekadar ingin dekat denganmu.”

***

Satya, gue mohon!

Satya sudah bersiap menyambut Gino yang semakin mendekat. Dia berusaha membaca gerakan kaki Gino ketika cowok itu mengambil ancang-ancang untuk melepaskan tendangannya.

Tidak terbaca. Satya sama sekali tidak tahu akan ke mana arah bola yang ditendang Gino. Dia memutuskan untuk melayang ke sebelah kanan, bersamaan dengan tendangan yang dilepaskan Gino. Satya berhasil menghalau bola itu, tetapi bukan dengan tangannya. Tanpa dia duga, bola itu menghantam keras pelipisnya hingga terpantul kembali ke tengah lapangan. Beruntung, Malik dengan sigap menguasai bola.

“Sat, lo—” Malik khawatir dengan kondisi Satya.

“Gue baik-baik aja,” kata Satya sambil memegangi pelipisnya. Dia kini jatuh terduduk sambil menahan sakit. Satya melihat ada sedikit darah di tangannya yang baru saja menyentuh pelipisnya. Shit, segininya amat perjuangan gue!

Kata-kata Satya sedikit menenangkan Malik. Dia segera bergerak menjauh sebelum Gino berhasil menyusulnya. Kini gilirannya berhadapan satu lawan satu dengan kiper utama dari tim yang dibangga-banggakan Gino.

Ini kesempatan emas yang tidak boleh dia sia-siakan. Malik tidak boleh kehilangan kesempatan untuk bisa dekat dengan Dara. Dengan gerakan mengecoh, Malik melepaskan tendangan ke arah gawang. Yoga langsung menyambut dengan melayang mengikuti arah bola, tetapi tidak terjangkau. Bola memantul di tiang gawang, lalu kembali menghampiri Malik yang sudah siap dengan tendangan langsung.

Datangnya bola sangat pas dengan posisi Malik saat ini. Ditambah Yoga yang belum siap dalam posisinya, dan Gino yang terlambat membaca situasi, membuat Malik dengan bebas melepaskan tendangannya ke arah gawang dengan mulus.

Gol! Malik berhasil mencetak gol lebih dahulu. Sorakan penonton pecah. Mereka bertepuk tangan sambil menyerukan nama Malik keras-keras.

Malik tersenyum puas. Dia kemudian menoleh ke arah Gino di belakangnya. Cowok itu masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia kalah dari Malik.

Malik berjalan mendekati Gino, kemudian menepuk bahu cowok itu. “Gue harap, lo nggak lupa sama kesepakatan kita,” bisiknya tepat di telinga Gino, baru kemudian berlalu pergi menghampiri Satya.

Gino berusaha menahan kesal setengah mati. Baru kali ini dia dipermalukan di hadapan banyak orang. Malik harus menerima pembalasan darinya suatu hari nanti.

Malik berlari menghampiri Satya yang masih terduduk di dekat gawang. Ethan dan yang lainnya sudah mengerumuni cowok itu.

“Sat, lo nggak apa-apa, kan?” tanya Ethan panik ketika melihat pelipis cowok itu sedikit sobek.

“Pala lo nggak apa-apa! Sakit, tahu!” kesal Satya.

Ethan terbahak mendengar reaksi Satya, begitu pula Arul.

“Temen lagi sakit, malah diketawain!” kata Satya tidak terima.

Ethan menepuk bahu Satya. “Tenang, perjuangan lo nggak sia-sia. Si Diana nonton juga.”

“Sial!” umpat Satya. “Malu banget gue. Aksi gue tadi nggak ada keren-kerennya sama sekali!”

“Selamat ya, Sat.”

Satya mendongak, menatap Iko yang baru saja mengucapkan selamat kepadanya.

“Cuma seminggu!” tegas Iko. “Setelah itu, gue akan mengejar ketertinggalan gue.”

Satya tersenyum mendengar kalimat itu. Tidak salah memang dia memilih teman. Dia tahu pasti teman-temannya selalu memegang janji dan bisa diandalkan, termasuk Iko.

“Lo bakal ketinggalan jauh, Ko!” ejek Satya dengan canda.

Mereka tertawa bersama. Sampai kemudian Arul ikut bersuara. “Luka lo harus cepat-cepat diobati, Sat. Ayo ke ruang UKS sekarang.”

“Kayaknya luka gue lebih serius daripada Satya,” ucap Malik tiba-tiba. Semua kompak menoleh ke arahnya.

Ethan bangkit dan memperhatikan Malik dari atas hingga bawah. “Perasaan, lo baik-baik aja. Nggak luka sama sekali.”

“Rasanya sakit, tapi nggak berdarah.” Malik memegang dadanya sendiri. Tatapannya lurus menatap ke tengah lapangan.

Teman-temannya kompak mengikuti arah pandang Malik, kemudian berdecak pelan begitu mengerti apa maksud perkataan Malik barusan. Dara ada di sana, sedang memberikan perhatian kepada Gino dengan mengulurkan sebotol air mineral untuk cowok itu.

“Nggak usah jealous, lo juga nggak kalah populer,” kata Ethan memberi semangat. “Tuh, udah banyak yang ngantre buat ngasih lo minum,” katanya sambil menunjuk ke pinggir lapangan.

“Tenang, tenang, nanti pasti disampein salamnya.” Iko entah sejak kapan sudah sibuk menghalau cewek-cewek yang berniat memberikan minuman langsung kepada Malik. “Sini minumannya dikumpulin dulu.”

Malik hanya sekilas menyaksikan pemandangan itu, lalu kembali menatap Dara yang masih berada di samping Gino. “Beda, Than. Gue maunya dia yang ngasih.”

Ethan menghela napas pasrah. “Keras kepala, sih, kalau dibilangin. Selamat patah hati kalau gitu!” Dia menepuk pelan bahu Malik, kemudian membantu Satya bangkit dan mengantar temannya itu ke UKS untuk segera diobati.

***

“Lo beneran nggak mau pertimbangin dia sekali lagi, Ra?” tanya Niki sambil menikmati jus avokad.

Dara yang duduk berseberangan dengan Niki langsung menyahut. “Gue harus pertimbangin apa lagi, sih? Kalian tahu, kan, gue nggak suka sama cowok playboy!” tegasnya.

“Kali aja dia tobat jadi playboy kalau lo terima dia, Ra.” Lala yang duduk di samping Niki ikut memberikan pendapat.

“Kalian kok jadi pada ngeselin gini, sih?” kesal Dara. Dia jadi tidak berselera menghabiskan mi ayam kantin favoritnya yang tinggal setengah.

“Bener tuh, yang dibilang temen lo. Gue bisa aja tobat kalau lo mau terima gue.”

Dara terkejut mendengar suara itu, begitu pula Niki dan Lala. Dara semakin kesal ketika tanpa permisi Malik duduk tepat di sebelahnya dengan membawa serta semangkuk bakso yang masih utuh.

“Lo ngapain duduk di sini?” kesal Dara pada Malik.

“Lo nggak lihat gue lagi makan?” Malik merespons santai, kemudian mulai menyantap bakso yang dibawanya.

“Lo kan bisa duduk di tempat lain.”

“Gue maunya duduk di sebelah lo.”

Niki dan Lala yang memperhatikan interaksi antara Dara dan Malik mulai berbisik sambil menyikut satu sama lain. Mereka sempat terpesona karena bisa melihat wajah tampan Malik dalam jarak yang sangat dekat. Mereka juga menyayangkan sikap jutek Dara kepada cowok itu.

Sementara itu, di meja lain, Ethan geleng-geleng kepala melihat tingkah Malik yang tidak gentar mendekati Dara. “Malik belum nyerah juga. Jelas-jelas Dara sukanya sama Gino.”

“Udah, biarin aja. Namanya juga lagi usaha,” sahut Arul.

“Lo nggak ngasih gue ucapan selamat?” tanya Malik sambil melirik Dara.

“Buat apa?”

“Karena gue berhasil ngalahin Gino.”

“Gue nggak peduli.” Dara bangkit dari duduknya. “Minggir, gue mau lewat!” serunya pada Malik. Kalau saja Dara tidak memilih duduk di pojok kantin, tentu dia bisa dengan mudah pergi sejak tadi. Masalahnya, dia duduk di bangku panjang. Di sebelah kanannya tembok, sedangkan di sebelah kirinya ada Malik yang enggan memberinya jalan. Dara bisa saja melompat keluar dari bangku itu. Namun, dia sadar tidak bisa bertingkah seperti itu karena sedang mengenakan rok.

“Duduk dulu. Temenin gue. Bentar lagi kelar, kok.”

“Lo tuh ngeselin banget, sih.”

“Awalnya emang ngeselin, tapi lama-lama ngangenin, kok,” sahut Malik sambil tersenyum menggoda.

Dara semakin emosi dibuatnya, sementara dua cewek di depannya hampir berteriak mendengar kata-kata Malik. Tanpa punya pilihan lain, Dara kembali duduk. Dia berharap cowok itu segera menghabiskan makanannya dan bergegas menjauh darinya.

“Lo memang galak begini, ya, buat narik perhatian cowok?” tanya Malik sambil memutar tubuhnya menghadap Dara. Dia baru saja menyantap habis semangkuk baksonya.

“Maksud lo apa?” tanya Dara, belum paham.

“Kalau lo memang sengaja jutek dan jual mahal buat narik perhatian gue, selamat, lo udah berhasil.” Malik menatap Dara lekat-lekat. Tampak jelas dari pancaran matanya bahwa dia sungguh tertarik pada cewek itu.

Dara mendadak salah tingkah akibat kata-kata sekaligus tatapan Malik. Sialnya, jantungnya mulai bekerja tak normal saat ini. Sebisa mungkin dia mencoba untuk dapat menguasai diri.

Dengan cepat Dara bangkit. “Udah selesai, kan, makannya? Sekarang minggir! Gue mau lewat!”

Malik tersenyum kecil begitu menyadari Dara benar-benar bersikap dingin dan jutek padanya. Malik ikut bangkit, tetapi tidak langsung memberi jalan.

“Gue boleh tahu nomor handphone lo?” pinta Malik yang sukses membuat Dara menahan napasnya saking terkejut. Begitu pula semua orang di kantin yang sejak tadi memperhatikan mereka.

“Lo nanya pertanyaan yang sia-sia!” jawab Dara kesal. “Sekarang lo bisa pergi.”

Lagi-lagi Malik tersenyum menanggapi jawaban dingin Dara. “Itu artinya, lo mau gue cari tahu sendiri, kan?” Dia mengambil kesimpulan sendiri, kemudian mengangguk. “Menarik. Lo satu-satunya cewek yang bikin gue harus usaha buat dapetin nomor handphone seseorang.”

Dara kehabisan kata-kata. Dia sama sekali tidak meminta Malik untuk berusaha mencari tahu sendiri nomor ponselnya. Namun, cowok itu justru mengartikannya demikian.

“Sampai ketemu lagi, Dara manisku.” Setelah melemparkan senyumnya, Malik berbalik pergi meninggalkan kantin, diikuti teman-temannya. Dia membuat seisi kantin bersorak nyaring mendengar panggilan manisnya untuk Dara.

Dara langsung jatuh terduduk di tempatnya semula. Dia menahan malu sejadi-jadinya saat ini. Dia tidak habis pikir. Cowok itu percaya diri sekali.

“Ra, kenapa lo nggak ngasih nomor handphone lo? Aduh, sayang banget,” keluh Lala kepada Dara.

“Iya, Ra. Tahu gitu, tadi lo kasih nomor handphone gue aja buat dia. Nggak apa-apa deh, gue pura-pura jadi lo biar bisa chat sama dia.” Niki menambahkan.

“Kalian udah nggak waras, ya?” kesal Dara. “Yang jelas, gue nggak mau berurusan sama cowok yang suka tebar pesona ke cewek-cewek kayak dia. Gue yakin, bukan gue aja yang lagi diincer sama dia. Dasar playboy!” Dara mengatur napasnya yang naik turun. Kehadiran Malik di kehidupannya sungguh menguras banyak emosinya.

Artikel Asli