Muncul Tudingan Tak Benar Bocah Australia Korban Bullying Berusia 18 Tahun

kumparan Dipublikasikan 16.29, 22/02 • kumparanNEWS
Quaden Bayles, bocah Australia korban bullying. Foto: Youtube/ @Creative PNG

Tudingan tak benar pada bocah Australia bernama Quaden Bayles, yang baru-baru ini viral di media sosial karena menjadi korban bullying, muncul.

Sebelumnya, dalam sebuah video, bocah berusia 9 tahun yang mengalami kelainan fisik mengaku ingin bunuh diri karena tak kuat dengan ejekan yang diterimanya.

Kini, bocah itu dituding berbohong terkait usia 9 tahun. Quaden disebut sudah berusia 18 tahun.

Dilansir media Australia, news.com.au, tudingan yang bermula dari postingan di Facebook itu pun dengan cepat menyebar, termasuk di Twitter.

Postingan tudingan itu menyertakan foto perayaan ulang tahun ke-18 hingga sedang menikmati segelas anggur. Tudingan palsu itu mengklaim penderitaan bocah itu adalah penipuan.

"Asal kau tahu dia menipu semua orang … dia berusia 18 tahun, punya banyak uang dan ya semua orang jatuh cinta padanya," tulis orang itu.

Quaden Bayles, bocah yang mengalami bully. Foto: Yarraka Bayles/Facebook

Akan tetapi, tudingan itu pun dibantah sejumlah pihak, termasuk kolumnis gosip selebriti Perez Hilton dan rapper Cardi B.

Foto pesta ulang tahun ke-18 ternyata bukan pesta Quaden. Bocah itu menghadiri pesta ulang tahun salah seorang temannya yang bernama Garlen.

Sedangkan, foto Quaden menikmati anggur merupakan rekayasa.

Nama Quaden menjadi perbincangan setelah video ungkapan ingin bunuh diri karena tak tahan dengan bullying diunggah di Facebook. Video itu diunggah ibunya, Yarraka Bayles.

Dalam video tersebut, Quaden yang menderita dwarfisme duduk di kursi mobil, menangis karena jadi korban bullying di sekolah. Beberapa kali, dia mengatakan ingin mati saja. Dia terlihat mencoba mencekik lehernya sendiri, tapi tangannya terlalu kecil.

"Saya ingin seseorang membunuh saya," kata Quaden.

"Saya ingin menusuk jantung saya," lanjut dia.

Ilustrasi bullying Foto: Pixabay

Dikutip media News.com.au, Yarraka mengatakan keinginan bunuh diri Quaden bahkan muncul ketika bocah berambut pirang itu berusia enam tahun.

Yarraka mengatakan dia terpaksa merekam peristiwa itu untuk menunjukkan dampak bullying terhadap anak-anak.

"Ini adalah efek dari bullying, inilah akibatnya. Dan saya ingin orang-orang tahu betapa hal itu melukai kami sebagai sebuah keluarga, saya ingin mereka mendidik anak-anak mereka," kata Yarraka.

"Saya punya anak yang ingin bunuh hampir setiap hari. Setiap saat ada saja pemicunya -- peristiwa yang terjadi di sekolah atau ketika kami di tempat umum," lanjut dia.

Artikel Asli