Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Mulai Hari Ini, Pramugari Japan Airlines Tak Pakai "Hi-heels" dan Rok

Kompas.com Dipublikasikan 06.07, 01/04/2020 • Glori K. Wadrianto
AFP
Para pramugari maskapai Japan Airlines.

KOMPAS.com - Maskapai kenamaan dari Negeri Sakura, Japan Airlines akhirnya memberi izin untuk para pramugarinya mengenakan celana panjang dan flat shoes saat bertugas.

Keputusan ini mengubah kebijakan sebelumnya yang mengharuskan para perempuan itu mengenakan rok dan sepatu berhak.

Maskapai tersebut memulai kebijakan ini per tanggal 1 April 2020 ini.

"Ini menjadi kali pertama kami memperbolehkan penggunaan celana panjang dan sejumlah opsi alas kaki bagi pramugari," kata Jurubicara maskapai itu.

Baca juga: Celana Panjang Transparan Ini Dibanderol Rp 8 Juta, Kamu Mau Pakai?

Dengan kebijakan baru ini, maka 6.000 perempuan yang bekerja di Japan Airlines boleh memilih sepatu sesuai kenyamanan dan pertimbangan pribadi.

Keputusan maskapai tersebut datang setelah sebelumnya ada gerakan di media sosial, menggunakan tanda pagar#KuToo.

Gerakan itu menyerukan agar tempat-tempat kerja menyingkirkan kewajiban dress code, yang salah satunya "memaksa" perempuan memakai hi-heels.

Gerakan ini diinisiasi oleh aktris dan aktivis Jepang Yumi Ishikawa, di mana inspirasi itu datang dari bahasa Jepang, kutsu yang berarti sepatu, dan kutsuu yang berarti kesakitan.

Baca juga: Akankah Rok Jadi Tren Busana Pria?

Ishikawa meluncurkan tanda pagar ini dengan mengunggah ceritanya mengenai kewajibannya memakai sepatu hak tinggi saat bekerja di rumah duka.

Sebelumnya, maskapai penerbangan Virgin Atlantic sudah mengumumkan kebijakan serupa tahun lalu.

Mereka menetapkan perempuan yang menjadi kru kabin, tak lagi diminta untuk mengenakan riasan wajah.

Maskapai yang dikenal dengan seragam merahnya tersebut juga memberikan celana panjang sebagai seragam standar pramugari, ketimbang secara khusus mengatur mereka.

Editor: Glori K. Wadrianto

Artikel Asli