[Move On] Yang Tinggal Selamanya

LINE TODAY Dipublikasikan 00.00, 24/08/2019 • Maria Evana

Hari ini matahari bersinar terang sampai-sampai cahayanya menembus masuk melewati kaca jendela kamarku. Kubuka mataku dengan terpaksa. Sebab, ini mengingatkanku sudah saatnya untuk bangun dan bekerja atau bersih-bersih rumah dan masak. Tapi, lebih dari itu, ada hal yang ingin kuhindari setiap pagi——kenyataan bahwa sisi kanan tempat tidurku kini kosong. 

Dulu, aku sangat suka ketika pagi datang. Ketika kubuka mataku dan melihat dia tertidur pulas di sampingku. Lalu tangan ini seakan tidak tahan untuk menyelipkan jari-jari di rambutnya. Hingga akhirnya dia bangun dan mengucapkan selamat pagi dengan suaranya yang agak serak. Konyol, bukan? Sesuatu yang dulunya sangat kusukai sekarang berubah menjadi sesuatu yang mati-matian kuhindari. 

Sayangnya, tidak bisa. Aku mengumam dalam hati,

Sudah berapa lama ini, Fer? Sebulan? Dua bulan? Aku bahkan tidak bisa menghitung hari semenjak kepergianmu. Yang aku tahu, hariku terasa sama tanpa kamu.

Tawar.

Aktivitas pagiku diawali dengan menggosok gigi, mencuci muka, lalu menatap bayanganku di cermin. Memperhatikan tiap tetes air yang mengalir dari wajahku.

Fer, ritual pagiku tidak pernah sesunyi ini. Biasanya cermin ini terasa agak kecil karena harus berbagi denganmu. Sekarang, cermin ini terlalu besar untukku, yang hanya seorang.

                                         ***

Aku baru sadar kalau sekarang sudah jam dua belas. Jam makan siang. Namun, berkas-berkas ini terlalu banyak untuk kutinggal makan siang. Ponselku kemudian berdenting sekali. Pesan dari mama.

Ri, jangan lupa makan ya…

Kuketik beberapa kalimat membalas pesan tersebut.

Iya, mama juga ya.

Pesan balasan datang dalam beberapa menit.

Apa mau mama antar? Hari ini mama masak terong goreng sama sambel, kesukaanmu loh.

Aku tersenyum sambil mengetik balasan untuk mama,

Gak usah ma, nanti Riana makan sama teman-teman kantor. Thank you, Ma.

Aku terdiam setelah pesan ini terkirim. Aku menatap pintu ruang kerjaku, yang biasanya terbuka di jam - jam seperti ini lalu datanglah sosok yang sangat kucintai.

"Na, yuk makan! Aku udah laper banget nih!"

Dia yang hadir di tengah kesibukanku, dia yang datang dengan senyumnya padahal aku tahu sebenarnya dia pun sedang lelah dengan apa yang ia kerjakan. Sekarang, pintu itu tidak akan dibuka oleh siapapun di jam-jam seperti ini, karena yang lainnya pasti sudah meninggalkan meja kerja mereka demi memuaskan rasa lapar. Merasa sesak dengan apa yang menghampiri pikiranku dan apa yang tinggal di hatiku, aku bangkit berdiri dan meninggalkan ruang kerjaku. Untuk menjadi lebih kuat, aku pasti butuh makan, bukan?

                                          ***

Jam pulang kerja berarti saatnya kesabaran dan ketangguhanku diuji, karena semua pengguna jalan saling berebut dan mempertahankan ruas jalannya di tengah kemacetan. Belum lagi suara klakson yang saling menyahut satu sama lain.

Fer, kalau sudah begini biasanya kamu akan menaikkan sedikit volume musik yang sedang kita dengar sambil sesekali diselingi candaanmu, yang sebenarnya tidak begitu lucu, tapi bisa mengalihkan perhatianku sejenak dari macetnya jalanan. Dan, sekarang, candaanmu lah yang kubutuhkan.

Fer, kalau tahu kamu akan pergi, dari dulu sudah kurekam candaanmu sebanyak-banyaknya supaya bisa kuputar dalam keadaan seperti ini sampai puas.

Kuganti kaset CD yang sedang diputar dengan kaset yang berisikan lagu kesukaannya.

Michael Buble, Home.

Another aeroplane

Another sunny place

I'm lucky I know

But I want to go home

Mmm, I've got to go home

Let me go home

I'm just too far from where you are

I want to come home

Fer, bagaimana rasanya ketika kamu punya rumah tapi rasanya tidak ada tempat untuk pulang?

Detik itu juga pandanganku agak kabur, air mataku menetes.

                                           ***

Aku terbangun tengah malam karena badanku yang mendadak menggigil kedinginan, dan kepalaku yang pening——gejala awal bahwa diriku akan sakit. Cepat-cepat kunaikkan suhu pendingin ruangan dan membuka lemari baju mencari sweater.

Beberapa menit mencari sweater dalam tumpukan baju, tapi tetap saja tidak kutemukan benda yang aku butuhkan saat ini. Aku melihat ke rak kedua dalam lemari, mencoba mengeluarkan beberapa helai baju dari tumpukannya untuk memudahkanku menemukan sweater. Dan … ooh! Ini dia, sweater-ku berada di tumpukan bawah. Kutarik sweater itu dan ia keluar bersama sweater lainnya yang tak asing lagi bagiku, yang satu ini miliknya.

Aku duduk lemas di depan lemari, dengan sweater miliknya dalam genggamanku Rasa sakit dan kehilangan yang sejenak sempat terlupakan dalam lelapnya tidurku, kembali hadir saat ini juga.

Bagaimana aku bisa benar-benar mengikhlaskan kepergianmu, kalau yang ada bersamaku selama dua puluh empat jam nyatanya adalah kenangan tentang kamu? Kamu sendiri yang janji akan merawatku di saat aku sakit, apa yang terjadi sekarang? Setiap jengkal dari diriku sakit, dan yang lebih menyakitkan, aku harus menghadapinya seorang diri.

   ***

Alarm pagi kembali membangunkanku, setelahnya aku baru sadar kalau semalam aku tertidur di atas lantai, dengan posisi lemari yang masih terbuka dan sweaternya yang berada dalam dekapanku.

                                         ***

Dua Bulan Kemudian…

Ponselku berdering, mendapat panggilan dari Fanny, sepupuku.

"Ya, Fan?" Jawabku.

"Na, kamu ada pakaian yang sudah gak mau dipakai lagi gak? Tapi yang masih layak."

"Hmm, nggak tau, sih soalnya belum kupilah pakaian di lemari baju, kenapa?"

"Kalau ada, aku mau, untuk disumbangkan ke orang-orang yang membutuhkan."

“Ya ampunnnn," aku tersenyum "Emang ya jiwa sosialmu dari dulu sampai sekarang itu tetap ada."

"Iya dong, nanti kabarin aku ya kalau kamu ada, sedikit juga tidak apa-apa kok."

"Oke, Fan."

"Thanks, ya Na."

Dan sambungan telepon terputus.

                                          ***

Minggu pagi, hari yang yang tepat untuk bersih-bersih, tentu saja aku ingat akan janjiku terhadap Fanny. Kubuka lemari baju, mulai memilah-milah pakaian yang masih ingin kukenakan dan yang akan kuberikan kepada Fanny. Lalu mataku tertuju pada jaket cokelat tua yang bergantung di sudut lemari. Aku mengambil jaket itu, melihatnya sekilas, lalu berpikir untuk mengikutsertakan jaket ini bersama pakaian lainnya yang akan kuberikan kepada Fanny. Tanganku merogoh kantong jaket tersebut, memastikan tidak ada yang tertinggal di dalam sana, lalu, tanganku seperti mendapatkan sesuatu dari dalam sana.

Apa ini? Ketika kutarik tanganku keluar dari dalam kantong, aku dapat melihat secarik kertas terlipat rapi dalam genggaman tanganku. Rasa penasaran mendorongku untuk membuka lipatan tersebut, hingga akhirnya bisa kurasakan jantungku berdetak lebih kencang.

INI SURAT! Dan jelas aku mengenal siapa pemilik tulisan tangan ini. 

Untuk Riana,

Riana, kalau kamu menemukan surat ini, berarti aku memang tidak pandai dalam menyembunyikan sesuatu dari kamu, termasuk perasaanku. Aku tidak bisa mengatakan ini secara langsung, jadi aku memilih untuk menulis dan menyimpan pada jaketmu kemudian berharap suatu hari nanti kamu bisa membacanya.

Na, terima kasih sudah mau hidup bersamaku meskipun di luar sana banyak yang lebih baik dari aku dalam segala hal. Kamu mau mempercayakan masa depanmu kepadaku. Aku tahu, Na aku masih banyak kekurangan, tidak jarang kamu masih kecewa dan kesal akan sikapku. Tolong, yang sabar ya dalam menjalani hari-harimu bersamaku. Aku akan belajar menjadi pasanganmu yang lebih baik.

Na, kamu tahu? Tidak ada yang benar-benar abadi di dunia ini, bisa jadi, janji kita juga salah satunya. Cepat atau lambat, salah satu di antara kita akan pergi dan ketika saat itu tiba, aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi yang ditinggalkan. Maka dari itu, aku ingin kamu tahu satu hal ini. Kelak, kalau aku harus mendahuluimu dan mengingkari janjiku untuk tidak bersamamu waktu kamu sedih dan sakit, aku minta maaf. Ini di luar kemampuanku. Meskipun begitu Na, kamu sudah memiliki rasa cintaku seutuhnya sebagai pasanganmu. Semoga, ketika saat itu tiba, kamu tidak merasa kesepian, kamu tidak terlalu marah atas kepergianku, kamu tidak bersedih terlalu lama atas kepergianku karena aku sudah memberikan kepadamu apa yang tidak aku berikan ke orang lain. Semoga itu cukup untuk menemani sisa-sisa harimu.

Na, temanku pernah bilang, kalau cinta itu kehendak, dan aku berkehendak untuk mencintaimu selamanya. Mungkin, benar adanya kalau cinta itu tak lekang oleh waktu.

Ferdi.

Tangisku pecah, tanganku spontan meremas kertas itu. Kenapa baru sekarang aku menemukan ini? Kenapa kamu tidak mengatakan ini dari dulu? Kenapa harus dengan surat? Aku bahkan belum menjawab pertanyaan terakhirmu. Dan sekarang aku menjadi sangat sangat menginginkanmu.

Meskipun begitu, terima kasih untuk semuanya, karena sudah hadir di hidupku, karena sudah mau jujur tentang apa yang kamu rasakan lewat tulisan ini, karena sudah sangat mencintaiku.

Maaf … aku terlambat mengetahui semua ini, maaf aku tidak sempat membalasnya.

                                         ***

Setahun sudah aku lewati tanpa dirinya. Sepi, jelas. Tinggal di rumah sebesar ini, seorang diri tidaklah mudah. Ada saat di mana aku begitu merindukannya, merindukan saat-saat kebersamaan kita. Namun, sekarang aku sadar, aku tidak sepenuhnya sendiri, karena aku sudah memiliki apa yang ia tinggalkan di sini, di hidupku. 

Aku mulai bisa merelakan kepergian dia, dan mengerti bahwa hidup dan mati memang di luar jangkauanku. Aku tidak lagi sedih dan marah karena ia pergi mendahuluiku. Justru, aku bersyukur, sudah dipertemukan dengan dia, dari sekian banyak orang di muka bumi ini, aku cukup beruntung bisa bertemu dengan dia, lebih dari itu—entah apa pertimbangannya, ia memilihku untuk menjadi teman hidupnya, menghabiskan waktu bersamanya walaupun hanya sebentar. 

Fer, aku bahagia dengan apa yang sudah kita lalui, dengan apa yang sudah kamu berikan. Dan, sama sepertimu, aku juga akan mencintaimu selamanya.

***

Cerita ini merupakan kiriman pembaca dan menjadi bagian dari LINE TODAY Writing Contest Agustus 2019: Move On. Baca cerita menarik lainnya di FIKSI WEEKEND.