Mitos Upacara Chúxī1

Jawapos Diupdate 19.19, 26/01 • Dipublikasikan 19.19, 26/01 • Ilham Safutra
Mitos Upacara Chúxī1

UPACARA tahun baru Imlek seperti sebuah perayaan atas kesedihan bagi keluargaku. Setiap tahun baru datang, aku dan saudara-saudaraku akan menyiapkan dua kursi kosong dan sebuah piring yang siap menerima hidangan. Kursi itu tidak boleh digunakan oleh siapa pun di antara kami –sama halnya dengan piring itu. Dua benda itu adalah cara kami menyambut seluruh kenangan yang pernah ada dalam keluarga kami.

***

Setiap malam tahun baru Imlek, A Ma2 mengimbau seluruh anggota keluarga berkumpul. Setelah semua anaknya berkumpul, A Ma akan memasak makanan yang sangat banyak sebagai hidangan.

Tradisi ini dimulai bukan tanpa sebab. Jika aku tepat mengingat, kebiasaan A Ma dimulai dua puluh tahun lalu, saat umurku masih delapan tahun dan kota sedang dilanda kerusuhan. Aku masih sedikit trauma mengingat Tragedi 1998 yang hampir memusnahkan keluargaku. Lebih-lebih saat mengenang rumah-rumah yang dibakar, demonstrasi, pemerkosaan, dan pembantaian yang terjadi.

Belum lagi mengingat bahwa setiap malam kami selalu berdoa kepada para dewa agar selamat. Tetapi, memang kami beruntung. Para dewa bermurah hati melindungi kami. Hingga kemudian –persis pada malam tahun baru di pengujung 1998– A Ma membuat perayaan makan malam sederhana sebagai tanda syukur.

Bertahun-tahun kemudian, aku tahu makan malam yang diadakan A Ma itu merupakan pesta makan malam yang terlambat dari perayaan tahun baru Imlek sebelumnya. Makan malam itu terpaksa diundur karena keadaan yang tak menentu di pusat kota Jakarta. Keluarga kami yang keturunan Tionghoa menjadi sasaran ancaman dan kekangan pemerintah Orde Baru. Mereka tidak segan memberangus kami. Pemerintah menganggap keturunan Tionghoa sebagai pembawa ajaran komunisme dan menyebarkannya melalui perayaan-perayaan.

Namun, itu dulu. Sekarang kami telah bisa melupakannya. Bahkan, kebiasaan pesta makan malam yang kami lakukan di ujung tahun masih berlanjut. Jadi, bisa dikatakan, dalam keluarga kami terdapat dua perayaan menyambut tahun baru. Pertama, makan malam tahun baru Imlek. Kedua, perayaan untuk mensyukuri keselamatan hidup kami.

Tradisi dua perayaan makan malam ini sudah menjadi kewajiban yang tak boleh dilewatkan. Sesibuk apa pun, kami wajib mengikutinya. Karena pentingnya makan malam ini, dulu A Pa3 yang sedang sakit pun tetap ikut melaksanakannya.

Kami yang melihat keadaan A Pa merasa sedih. Adikku Lin sampai menahan tangis saat melihat A Pa memakan misoa di hadapannya. A Pa berjuang memakan misoa agar tak putus. Sayangnya, pada tarikan pertama mulut A Pa, misoa yang panjang terputus. Mengetahui itu, semua anggota keluarga terdiam. Terlintas hal yang sama dalam benak kami. Tetapi, A Pa menutupnya dengan kelakar.

’’Aku tak sengaja menggigitnya,’’ kata A Pa. ’’Masakan istriku selalu membuatku tak sabar untuk menelannya. Betapa beruntung aku menikahinya.’’

A Pa menyeringai santai, tetapi kami memendam perasaan waswas. Kami tidak bisa berbohong bahwa kami khawatir. Apalagi ada mitos tentang misoa yang dapat meramal umur seseorang. Mitos itu membuat kami tambah masygul. Apabila mie yang dimakan itu panjang, maka demikian pula dengan umur orang yang menyantapnya. Begitu juga sebaliknya.

Malam itu, mie yang dimakan A Pa selalu terputus. Menjadi pendek-pendek. Mie yang A Pa makan seperti ingin menyatakan umurnya. Hingga akhirnya, apa yang kami pikirkan terjadi tiga hari kemudian. A Pa meninggal.

***

Hari ini A Ma memasak banyak makanan untuk pesta akhir tahun baru Imlek. Para Cha Mou Nian4 ikut membantu A Ma menyiapkan hidangan berupa sup rebung, rumput laut hitam, misoa, ayam dan ikan panggang, bebek goreng, haisom5, jeruk mandarin, kue keranjang, dan Yu Sheng6. Sementara para Xioa Sheng7, termasuk aku, sibuk merapikan rumah dengan membersihkan debu-debu pada perabotan dan patung-patung keramik koleksi A Pa.

Para Xioa Sheng melakukan ini karena percaya bahwa dengan membersihkan rumah, semua kesialan pada tahun sebelumnya akan pergi. Dan, rezeki baru datang. Kami bahkan tak lupa menempelkan gambar Dewa Men Shen8 di pintu rumah. Melihat gambar Dewa Men Shen yang melekat di pintu mendadak mengingatkanku pada masa lalu.

Dulu, A Pa dan A Ma percaya, Dewa Men Shen-lah yang melindungi keluarga kami dari kekacauan 1998. Setiap dua hari, A Ma selalu menyuruhku meletakkan makanan –yang sama seperti yang kami makan– di depan pintu. Aku pernah bertanya kepada A Ma untuk apa menaruh makanan di sana. Aku menambahkan juga kalau lebih baik makanan itu kami makan saja. Apalagi saat itu kami benar-benar hidup dalam kekurangan. A Ma malah memukul kepalaku.

’’Kan, sayang, Ma,’’ kataku. ’’Makanan itu hanya dibawa lari kucing. Kita cuma buang-buang makanan.’’

A Ma yang merasa tidak cukup memberikan penjelasan berupa pukulan, akhirnya menjelaskan. ’’Kucing dan semut itu adalah hewan-hewan suruhan dewa. Mereka disuruh mengambilnya.’’

Setelah dijelaskan A Ma, aku tak membantah lagi. Aku sadar kalau membantah hanya akan membuatku menerima pukulan yang lebih keras. Akhirnya, aku menuruti perintah A Ma. Hingga kini, karena kepercayaan A Ma, keluargaku masih sering menempelkan gambarnya.

Setelah selesai memasang gambar Dewa Men Shen di depan pintu, aku beralih ke ruang tengah. Di sana, aku melirik ke arah boneka-boneka keramik milik Kung Kung. Aku membersihkan debunya pelan-pelan seraya memandangi boneka-boneka itu dengan teliti. Aku pun kembali ingat kebiasaan A Pa yang suka membeli boneka.

Semasa hidupnya, A Pa banyak membeli boneka keramik untuk Kung Kung. Apabila dihitung, jumlahnya ada seratus. Jumlah itu sengaja A Pa penuhi sebelum dirinya meninggal. Sebab, dulu Kung Kung9 meminta A Pa menebuskan dosanya kepada Pho Pho10.

Kung Kung tak bisa membelikan seratus boneka keramik sebagai maskawin. Keluarga A Pa adalah keluarga miskin. Jadi, untuk melunasi maskawin, Kung Kung harus membayarnya secara mencicil. Maskawin yang diminta Pho Pho pada Kung Kung adalah seratus boneka keramik. Kung Kung yang tak bisa membelikan babi sebagai maskawin menerima syarat Pho Pho. Sialnya, kemiskinan membuat Kung Kung tak bisa melunasi janjinya.

Mengingat kisah A Pa yang harus melunasi beban hidup Kung Kung, membuatku berpikir: A Pa telah melalui hidup yang berat. Selain harus membanting tulang mencukupi kebutuhan keluarga, A Pa juga bekerja keras melunasi utang maskawin Kung Kung. Dan menyadari semua itu, aku terduduk sejenak melihat boneka-boneka yang berjejal. Aku lantas merasa jerih payah A Pa mengumpulkan seratus boneka keramik itu membuat sosoknya terekam abadi di ruangan ini.

***

Setelah pekerjaan para wanita selesai di dapur, dan pekerjaan para pria sudah beres pula, puncak perayaan tahun baru Imlek tiba. Makan malam bersama. Semua jenis makan yang dimasak sejak pagi terhidang di atas meja. Aku dan saudara-saudaraku berkumpul mengelilingi meja. A Ma membagikan satu per satu piring kepada kami.

Tetapi, ada sesuatu yang aneh pada gelagat A Ma. Selain membagikan piring untuk anak-anaknya, A Ma juga menyiapkan piring kosong milik A Pa. A Ma seolah menghidangkan makanan untuk suaminya. A Ma seakan masih merasakan kehadiran A Pa.

’’Bahkan bagi mereka yang mati,’’ kata A Ma seraya melirik kami, ’’Acara ini tidak boleh dilewatkan.’’

Kami merasa iba kepada A Ma. Tetapi, kami tahu semua itu terjadi karena kesedihannya.

A Ma tetap melakukan apa yang diyakininya. Ia bertingkah seolah semuanya baik-baik saja dan normal. A Ma bahkan dengan santai menghidangkan makanannya kepada kami sekeluarga.

’’Sayur rebung bagus untuk keberuntunganmu,’’ kata A Ma sambil mengambilkan sayur untukku.

A Ma terus menyarankan kami menyantap hidangan berdasar peruntungan. Misalnya, fucai11 yang bagus untuk kemakmuran. Melahap ayam dan ikan baik untuk keberuntungan. A Ma tidak luput menyebutkan berkah dari setiap makanan yang kami santap.

’’A Pa, kamu makan haisom yang banyak, ya,’’ desis A Ma seraya meletakkan teripang laut rebus. ’’Haisom bisa membuat umurmu panjang.’’

A Ma tersenyum manis ketika menghidangkan haisom ke piring A Pa. A Ma seolah melihat kehadiran A Pa yang tak kasatmata. Sedangkan kami hanya memandang satu sama lain.

Setelah selesai menghidangkan semua makanan, A Ma mengambil misoa. Lalu, A Ma memakannya pelan. Tetapi, baru sesesap misoa masuk mulut A Ma, mie itu terputus. A Ma tertegun. A Ma sekali lagi meraih misoa dengan sumpitnya. A Ma menyesapnya pelan. Mie itu putus lagi.

’’Mungkin mie lama,’’ tandas A Ma. ’’Tadi aku membelinya di warung A Chong. Katanya tinggal stok mie ini saja.’’

Kami enggan menyinggung perihal umur atau peruntungan apa pun mengenai mie tersebut. Tetapi, hati kami sekeluarga tidak bisa untuk tak khawatir tentang A Ma.

***

Seperti yang sudah kami sekeluarga takutkan, makan malam itu adalah makan malam terakhir A Ma bersama kami. Beberapa bulan kemudian, A Ma meninggal. Kami yang menyadari kepergian A Ma merasa sangat terpukul.

Sampai beberapa tahun kemudian pun kami belum bisa menerimanya. Kami pun berpikir bahwa A Ma tidak mati, tetapi sedang tertidur. Jadi, bukan hal aneh apabila setiap perayaan makan malam akhir tahun berikutnya, kami selalu menyiapkan dua piring kosong untuk A Ma dan A Pa. (*)

RISDA NUR WIDIA, telah melahirkan banyak cerpen. Tiga buku tunggalnya adalah Bunga-Bunga Kesunyian (2015), Tokoh Anda Yang Ingin Mati Bahagia seperti Mersault (2016), dan Igor: Sebuah Kisah Cinta yang Anjing (2018).

CATATAN:

Chúxī: tahun baru Imlek

A Ma: ibu
A Pa: bapak
Cha Mou Nian: saudara perempuan
Haisom: teripang laut
Yu Sheng: salad ikan segar yang terbuat dari irisan sayur wortel dan lobak serta daging tuna atau salem yang sudah direndam minyak wijen
Xioa Sheng: saudara laki-laki
Dewa Men Shen: dewa penjaga pintu
Kung Kung: kakek
Pho Pho: nenek
Fucai: rumput laut hitam

Artikel Asli