Mitos Atau Fakta, Bahaya Memberi Minum pada Korban Kecelakaan?

Kompas.com Dipublikasikan 02.22, 02/06 • Donny Dwisatryo Priyantoro
KOMPAS.com/Ruly
McLaren kecelakaan tunggal di Tol Jagorawi, Minggu (3/5/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Masyarakat Indonesia punya sikap tolong menolong yang tinggi, apalagi saat terjadi kecelakaan. Salah satu kebiasaan yang dilakukan adalah memberi air minum pada korban kecelakaan.

Alasannya, agar korban merasa lebih tenang. Namun, banyak rumors berhembus kalau memberikan minum ke korban kecelakaan adalah tidak diperbolehkan. Bahkan, bisa dibilang cukup berbahaya.

Pasalnya, bisa menyebabkan korban justru lebih parah kondisinya, karena tersedak oleh air minum yang disuguhkan.

Baca juga: Mitos atau Fakta, Wanita Lebih Rentan Kecelakaan Dibanding Pria?

Perlu diketahui, efek dari kecelakaan dapat membuat detak jantung seseorang meningkat drastis atau mungkin tidak beraturan. Kondisi ini karena korban syok atau terkejut atas kejadian mendadak yang menimpanya.

Maka itu, memasukkan apa pun melalui mulut yang merupakan bagian dari saluran pernafasan justru berpotensi membahayakan korban.

"Bisa tersedak karena saluran pernafasannya tertutup," kata pegiat safety driving dan safety riding sekaligus Training Director dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, saat dihubungi Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Jusri menambahkan, ada kemungkinan korban mengalami luka pada tubuh bagian dalam. Misalnya, cedera terjadi pada area perut. Pemberian air minum justru berpotensi memperburuk keadaan korban.

Baca juga: Cara Mudah Hindari Kecelakaan Motor di Jalan Raya

"Jika tidak memahami teknik pertolongan pertama pada korban kecelakaan, maka hal yang sebaiknya dilakukan adalah segera menghubungi pihak terkait, seperti polisi atau pihak rumah sakit terdekat. Sehingga korban bisa segera mendapatkan penanganan yang benar," ujar Jusri.

Jusri mengatakan, data statistik menyebutkan bahwa banyak kesalahan prosedur pertolongan pertama yang dilakukan terhadap korban. Sehingga, kondisi korban justru semakin buruk setelah ditolong. Bahkan, beberapa dial antaranya berujung pada kematian.

"Sebaiknya jangan melakukan apa-apa kalau enggak tahu teknik memberikan pertolongan pertama. Kalau sudah terdidik atau pernah mengikuti pelatihan, enggak apa-apa ikut menolong korban," kata Jusri.

Penulis: Donny Dwisatryo PriyantoroEditor: Agung Kurniawan

Artikel Asli