Misteri Tulang Manusia Tanpa Kepala, Diduga Warga Asing, Ada Tanda Kekerasan

Kompas.com Dipublikasikan 03.15, 22/02 • Pythag Kurniati
Handout
Warga Desa Tongali, Kecamatan Siompu, Pulau Siompu, Kabupaten Buton Selatan, sulawesi Tenggara digegerkan dengan penemuan tulang manusia tanpa tengkorak yang terbungkus dalam plastik.

KOMPAS.com- Tulang-tulang tanpa kepala ditemukan di Pantai Sambalangi, Desa Tongali, Kecamatan Siompu, Kabupaten Buton Selatan, Rabu (19/2/2020).

Saat ditemukan, tulang-tulang tersebut dalam kondisi terbungkus kantong plastik.

Menindaklanjuti temuan itu, identifikasi dilakukan guna mengungkap identitasnya.

Diduga laki-laki, warga Vietnam

Identifikasi dilakukan oleh tim Biddokes Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sulawesi Tenggara. Identifikasi juga dibantu dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Haluoleo (UHO) Kendari.

Hasilnya, kerangka tersebut diperkirakan berjenis kelamin laki-laki dan memiliki tinggi 165 sentimeter.

Mengacu dari pakaian yang dikenakan, diduga ia merupakan warga asing, khususnya Vietnam.

Usianya diperkirakan 30 hingga 50 tahun.

Tanda kekerasan

Dokter Forensik Biddokes Polda Sultra Kompol dr Mauluddin mengatakan, ada tanda kekerasan ditemukan pada kerangka tersebut.

"Di tulang leher terdapat tanda-tanda kekerasan umumnya seperti mutilasi," ungkapnya.

Menurut hasil identifikasi, pemilik tulang tersebut sudah cukup lama meninggal.

"Dari pembusukan, orang ini diduga meninggal 3 sampai 6 bulan," ujar dia.

Tulang-tulang itu akan dimakamkan. Beberapa diambil untuk dilakukan pengujian DNA.

Ditemukan nelayan

Tulang-tulang manusia itu awalnya ditemukan oleh seorang nelayan di tepi Pantai Sambalangi, Desa Tongali, Rabu (19/2/2020) sore.

Kapolsek Siompu Ipda Herman menyebut, polisi menerima laporan temuan tulang manusia.

"Ditemukan pakaian mayat tersebut baju lengan panjang hijau dan celana training hitam. Tulang-tulang yang diperiksa sudah terhambur tanpa tengkorak kepala," ucapnya.

Sumber: Kompas.com (Penulis: Defriatno Neke, Kiki Andi Pati | Editor: Khairina, Teuku Muhammad Valdy Arief)

Editor: Pythag Kurniati

Artikel Asli