Misteri Azura Luna dan Rentetan Dugaan Penipuan Lintas Negara

Jawapos Diupdate 12.50, 15/12/2019 • Dipublikasikan 16.22, 15/12/2019 • Ilham Safutra
Misteri Azura Luna dan Rentetan Dugaan Penipuan Lintas Negara

KJRI Hongkong menyebut Azura Luna tak lagi berada di negara tempat dia dilaporkan melakukan sejumlah penipuan itu. Kawan SMA di Kediri mengenalnya sebagai sosok sederhana yang biasanya pergi pulang sekolah naik angkot.

ANWAR B., IQBAL S., KediriSITI AISYAH, Surabaya, Jawa Pos

Facebook dan Perubahan Tampilan

BUKAN hanya perubahan nama pemilik akun Facebook itu yang mengejutkan Diana Purna Sari. Tapi, juga tampilan fisiknya.

Azura Luna Mangunhardjono, nama baru Enjang Widhi Palupi, teman sekolah Diana di SMAN 2 Kediri, Jawa Timur, terlihat jauh lebih putih kulitnya. Tiga tahun setelah keduanya tak pernah bersua lagi seusai lulus SMA, gaya berpakaian Enjang alias Azura juga sangat modis.

Namun, Diana dan sejumlah kawan semasa SMA masih mengenali wajahnya. Apalagi, setelah itu Enjang atau Azura mengundang teman-teman satu angkatannya datang ke Jakarta.

Tidak semuanya memang. Hanya lima orang yang kebetulan semuanya dari kalangan berada. Salah seorang di antaranya sahabat Diana.

Azura mengajak lima temannya itu menginap di sebuah hotel mewah di Jakarta. ”Dia (Azura) cerita banyak sebagai TKW (tenaga kerja wanita) di Hongkong,” kenang Diana menirukan cerita sahabatnya yang turut diundang ke Jakarta kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Los Angeles, Florence, Hongkong

Perempuan itu datang 10 menit lebih cepat. Dengan mengenakan kemeja putih yang agak kebesaran membalut tubuhnya yang langsing.

Tangan kanannya memegang tas belanja Net-a-Porter berukuran besar. Sedangkan tangan kirinya memegang tas Valentino.

Sore itu, 27 September lalu, Azura, perempuan tersebut, secara mendadak mengubah tempat pertemuannya dengan Suzanne Harrison, jurnalis South China Morning Post. Dari semula di Captain’s Bar, Mandarin Oriental Hotel, ke Starbucks di Citibank Tower. Dua tempat itu di Hongkong.

Harrison dalam tulisannya di South China Morning Post menyebut ”mata cokelatnya mulai menggoda.” Percakapan singkat sore itu juga hanya berisi sanggahan terhadap berbagai tuduhan yang menerpanya.

Setelah wawancara singkat itu, Azura tak pernah muncul lagi. Perempuan 41 tahun tersebut hilang bak ditelan bumi setelah satu per satu aksi penipuannya terkuak dan para korban mulai berani lapor polisi.

Perempuan yang juga punya nama alias Alexandra, Ally, dan Miss M itu kini menjadi buron kepolisian Hongkong. Dia menipu dengan berbagai cara. Mulai mengaku sebagai sosialita, bangsawan, anak petani, dan relawan.

Korbannya juga datang dari berbagai kalangan. Aksi penipuan yang dilakukannya bahkan tak cuma di Hongkong. Tapi, juga di sejumlah kota di beberapa negara.

Sophia, warga Los Angeles, Amerika Serikat, salah satunya. Pada 2018 dia membeli beberapa tas Hermes milik Azura senilai USD 86 ribu (Rp 1,2 miliar).

Azura berkata uang itu akan dipakai untuk amal. Tapi, ketika Sophia mengecek keasliannya ke toko, ternyata tas-tas tersebut palsu.

Mengutip South China Morning Post, Azura bahkan sempat ditahan Kepolisian Los Angeles pada 26 November 2018. Namun, dia dilepaskan karena kurangnya bukti. Harus ada pakar Hermes yang memastikan bahwa tas itu palsu agar kasus bisa diteruskan.

Kepastian tersebut akhirnya disampaikan Sophia ke Harrison pada 21 November 2019 lewat WhatsApp. ”Hermes berkata semua tas itu palsu!” tulis dia di pesan tersebut.

Bahkan, mantan suaminya, Robert, juga ditipu. Pada 2017 Azura mengaku ayahnya meninggal dan minta uang USD 150 ribu (Rp 2,1 miliar) untuk membantu biaya pemakaman. Padahal, dalam wawancara via video call dengan Post Magazine Agustus lalu, Azura mengaku kedua orang tuanya meninggal di Timor Timur (kini Timor Leste) saat usianya masih 11 tahun. Menurut dia, kala itu terjadi baku tembak dan orang tuanya tewas karena melindunginya dari peluru.

Azura juga meminta Robert untuk menyumbang di beberapa acara amal di Hongkong. Robert akhirnya memberikan USD 30 ribu (Rp 420,5 juta). Sebulan kemudian Robert menghubungi lembaga penyelenggara amal yang dimaksud Azura. Hasilnya, tidak ada sumbangan atas nama Robert atau Azura.

Namun, tak semua perbuatan amal itu bohong. The One International yang didirikan David Harilela, seperti dikutip South China Morning Post, mengaku bahwa Azura memang pernah berdonasi ke lembaga yang punya hubungan dengan Rotary Group itu. Tepatnya 2013 lalu, senilai HKD 30 ribu (Rp 35,9 juta) untuk membangun panti asuhan di Bangladesh.

Azura juga menipu pembantunya di Hongkong. Dia tak membayar gajinya senilai HKD 76 ribu atau setara Rp 136,4 juta. Pembantu tersebut sudah delapan tahun bekerja untuknya. Kini dia melaporkan Azura ke pengadilan untuk buruh. Azura juga berutang kepada pembersih karpet dan beberapa tukang bunga.

Bahkan, sampai ada grup WhatsApp berisi para korban penipuan Azura. Dan, sebelum Azura bertemu Harrison, grup tersebut mengungkapkan bahwa Azura tengah berada di Florence, Italia.

Selama di kota itu, dia menginap di Hotel Continentale dan Borgo Dolci Colline.

Entah bagaimana, Azura berhasil pergi dari Florence tanpa membayar tagihan hotel. Saat dikonfirmasi South China Morning Post, pihak hotel memilih tutup mulut karena itu adalah privasi.

Tak Ada Enjang di Rumah Itu

Meski tidak pernah sekelas, Diana mengaku tahu sosok Enjang semasa SMA. Sebab, dia termasuk siswi populer di kalangan teman satu angkatannya.

Bukan karena prestasi akademiknya, tetapi karena supel. ”Gimana ya? Pokoknya anaknya SKSD (sok kenal sok dekat, Red). Agak centil juga,” tutur Diana.

Saat datang ke sekolah, kata Diana, Enjang sering menggunakan angkutan umum. Dari rumahnya di Banyakan, Kabupaten Kediri, jarak rumahnya ke sekolah sekitar 8 kilometer. ”Setahu saya tidak pernah diantarkan. Selalu naik angkot,” ungkap perempuan asal Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota, Kota Kediri, itu.

Di sekolah, Diana menambahkan, Enjang pernah ikut Palang Merah Remaja (PMR). Namun, soal aktivitasnya di PMR, Diana mengaku tidak banyak tahu.

Kepala SMAN 2 Kediri Sony Tatar Setya membenarkan bahwa Enjang Widhi Palupi pernah bersekolah di Smada. Sesuai tahun lulusnya, yang bersangkutan termasuk lulusan 1996. ”Ya dulu memang pernah di Smada,” kata Sony.

Jawa Pos Radar Kediri juga menelusuri alamat yang tercantum di buku kenangan Enjang, Jalan Banyakan 22 Grogol, Kabupaten Kediri. Rumah yang berlokasi di alamat itu adalah rumah besar berpagar warna oranye. Kondisinya tertutup dengan gembok terpasang di luar.

Namun, pemilik rumah itu bukan Wowok seperti nama ayah Enjang. Menurut Diro, seorang warga sekitar, nama pemiliknya adalah Arifin.

Tapi, sudah tidak dihuni sejak beberapa bulan terakhir. ”Pemilik rumahnya yang wanita sakit, dibawa ke rumah anaknya, di Kediri,” terang lelaki tersebut.

Ketika ditanya soal nama Wowok dan Enjang, Diro menggeleng. ”Tidak ada itu yang namanya Enjang. Kalau yang punya rumah sudah almarhum, tinggal ibu (istri, Red) almarhum saja,” terangnya.

Diro tidak mengenal Enjang. Sebab, selama tinggal di sana, dia mengetahui bahwa rumah tersebut sudah ditempati keluarga Arifin. ”Anaknya masih kuliah, ibunya (istri almarhum Arifin, Red) sakit, dan dibawa ke rumah anaknya yang satunya lagi di Kediri,” paparnya.

Jadi, di Mana Azura Sekarang?

Sehari setelah wawancara, Harrison mengirim pesan singkat ke Azura yang mengaku tengah hamil itu. Tapi, hanya centang satu.

Nomornya tak lagi bisa dihubungi. Akun Instagram tempat dia memamerkan berbagai barang mewah sudah dihapus. Begitu juga akun Twitter. Unggahan terakhir di Facebook, saat dicek Jawa Pos tadi malam, tercatat 8 Januari 2019. Saat dia memperbarui foto profil.

”Berdasarkan koordinasi dengan otoritas pusat (Kementerian Luar Negeri, Red), Azura terdeteksi meninggalkan Indonesia menuju Singapura pada 2018. Dan, sejauh ini yang bersangkutan diketahui tidak berada di Hongkong,” jelas Konsul Muda Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Hongkong Vani Alexandra Lijaya kepada Jawa Pos.

Di profil WhatsApp-nya September lalu Azura menulis para bellum. Kalimat dalam bahasa Latin itu berarti bersiap perang.

Tampaknya, itulah yang tengah dia lakukan terhadap aparat hukum yang bermaksud menangkapnya. Berperang, tapi secara ”gerilya” dari tempat persembunyiannya. Yang entah di mana.

Azura Luna. (Instagram)
Artikel Asli