Misteri Pasar Bubrah Merapi, Tempat Transaksi Manusia dan Makhluk Gaib

kumparan Dipublikasikan 09.11, 22/10/2020 • Dukun Millennial
Gunung Merapi, dok: Pixabay

Siapa yang tak kenal Gunung Merapi, gunung yang berlokasi di tengah pulau Jawa tersebut rasanya sangat familiar bagi siapa saja yang mendengarnya. Selain menjadi tempat favorit para pendaki, gunung ini juga sering dijadikan destinasi wisata alam yang mampu menyajikan keindahan alam yang sangat indah.

Namun, di balik itu semua siapa sangka Merapi juga terkenal akan hal-hal yang berkaitan dengan mistis. Oleh karena itu banyak orang juga yang meyakini tempat ini memiliki spot-spot yang bisa membuat bulu kuduk berdiri, salah satunya yakni pada bagian Pasar Bubrah.

Berlokasi di bawah Gunung Merapi, Pasar Bubrah sering menjadi spot beristirahat dan mendirikan tenda para pendaki karena memang konturnya yang seperti tanah lapang.

Meski diberikan nama pasar, di lokasi ini sama sekali tidak ada penjual atau bahkan transaksi antar pendaki. Pasar Bubrah sendiri sering dikenal sebagai pusatnya para mahluk gaib bertransaksi dengan sebangsanya atau bahkan lintas alam dengan manusia terutama para pendaki yang kurang mujur.

Jika pada kondisi siang lokasi ini memang terlihat biasa saja bahkan cenderung menjadi tempat favorit para pendaki untuk melepas lelah setelah mendaki. Tapi hal ini akan berubah drastis setelah memasuki waktu malam.

Selain suara-suara dari alam, ketika malam hari para pendaki juga konon katanya sering mendengar suara hiruk pikuk seperti manusia yang berlalu lalang seperti manusia yang melakukan transaksi bak pasar pada umumnya.

Ilustrasi pasar malam, dok: pixabay

Di lokasi ini menurut banyak orang meyakini sebenarnya terdapat banyak warung-warung serta penjual yang berasal dari bangsa jin dan dedemit penghuni asli Merapi.

Bukan masalah jika memang transaksinya hanya dilakukan oleh sesama mahluk gaib, namun seperti yang dikatakan tadi tak jarang juga ada manusia yang "diajak" transaksi oleh salah satu pedagang yang tak bisa dilihat itu.

Nah jika orang itu sudah mendengar suara seperti penawaran barang dan semacamnya, konon katanya dia wajib melemparkan barang berharga yang ia miliki seperti uang atau apa pun yang dianggap sebanding dengan pertukaran transaksi itu.

Ilustrasi hutan, dok: pixabay

Jika orang tersebut diam saja tanpa respons apalagi mempermainkan sumber suaranya konon katanya akan diculik ke alam gaib karena dianggap sudah menyerahkan ruhnya sebagai alat transaksi.

Dari kejadian itulah banyak orang yang mengaitkan kasus orang-orang yang tersesat atau bahkan hilang di Gunung Merapai berkaitan dengan peran dari para pedagang mahluk gaib ini.

Sumber: Kaskus

Artikel Asli