Miss B (Part 7): Budak Cinta, Secinta-cintanya

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 05/06
Ilustrasi oleh: Rendy Basuki

BuCin alias Budak Cinta di sekelilingku. Di tengah pandemi, mungkin cinta adalah obat. Yang bikin kuat.

Waktu merambat tanpa terasa, tahu-tahu puasa. Diam-diam kulihat Papa menangis saat sahur. Kutatap wajahnya yang sendu. Kata Mama, sejak Papa menua, Papa jadi sensitif dan melankolis. Bentar-bentar nangis. Padahal kata Mama, “Harusnya Mama yang nangis, kan Mama juga senang nonton drama Korea, B.”

“Pa, Papa sedih ya, gak bisa terawih di masjid?” tanyaku pelan.

Papa mengangguk. “Tapi Papa juga senang, bisa sahur bareng kamu dan Mama. Kita semua sehat sekeluarga. Entah berapa banyak orang yang mungkin tidak bisa makan seenak kita, kan?” ujar Papa sambil melihat meja yang isinya penuh. Mama dan Mbok Nah memastikan sahur pertama berjalan lancar. Ada mi goreng (instan, yes!), ada telur dadar dengan bawang yang banyak, ada oseng-oseng brokoli, ada empal, ada tahu tempe bacem (oke random, mana gudegnya?), dan tentunya kerupuk udang.

Mama sibuk mengaduk gelas-gelas. “Beauty, kamu jangan lupa asupan gizi jangan lupa. Ini Mama bikinin sereal cair.”

Tidak bisa mengelak, aku mengangguk lesu. Aduh, pagi-pagi disuruh makan dan minuman padat begitu. Tolongin aku, dong.

“Papa gak mau ya, Ma, Papa mau tetap kopi,” pinta Papa.

“Aduh, Papa ini, ya. Puasa kok ngopi. Mbok gizinya, vitaminnya jangan lupa. Ini kan musim Corona to, Pa,” omel Mama tapi tetap sambil mengambil sesendok kopi dari toples.

“Iya, nanti Papa minum vitamin. Itu orang-orang belakang, Si Mbok Nah sama Mang Dudu, gimana sahurnya, Ma?” tanya Papa.

Papaku memang orang yang sangat perhatian. Buat Papaku, apa yang kita makan harus sama.

 Mama mengangguk. “Papa ini ya, kayak gak tahu mereka. Mereka mungkin lebih sehat dibanding kita. Makan tahu tempe lebih banyak. Sudah gitu, itu Mbok Nah kerjanya metik daun pepaya untuk direbus terus dimakan gitu aja. Sehat bener, kan? Papa mau gak, daun pepaya untuk sahur?”

Aku tergelak. Benar juga ucapan Mama. Mbok Nah itu gak usah dipikirin, dia hobi banget makan lalapan daun pepaya. Katanya sih, nyamuk gak pernah lagi gigit dia karena darahnya pahit.

“Bapak Ibu ngomongin saya, to? Ini rebusan daun pepaya banyak, lo. Airnya juga bisa untuk jamu, dijamin joss anti-Corona,” kata Mbok Nah sambil membawa sepiring daun pepaya.

Bertiga, aku, Papa, dan Mama langsung menggeleng. No, thank you. Pagi-pagi buta lidah disuruh mengecap rasa pahit.

Mbok Nah terkekeh lalu membawa masuk kembali daun pepaya seraya mengambil sejumput dan memakannya seakan-akan pamer ke kami.

 “Pa, kapan ya Corona ini ngilang dari Indonesia? Mama capek, bosen, bisa gila,” keluh Mama.

 “Lah, Mama tanyalah ke Allah. Papa ya gak tahu kapan,” jawab Papa.

 Aku geli mendengarnya. “Ya udah, B yang jawab deh Ma. Kapan-kapan,” selaku seenaknya.

 “Cah gemblung!” ujar Mama.

 “Mbak B, wonten tamu,” kata Mbok Nah membangunkan aku dengan guncangan kecil.

 “Hah, siapa? Pagi-pagi gini?” ucapku bingung.

 “Hihihi, siapa lagi kalau bukan Mas Ugi,” goda Mbok Nah.

 “Ngapain?” tanyaku sedikit kesal.

 “Ya mana aku tahu?” ujar Mbok Nah mengangkat bahu.

 “Aduh. Jam berapa, sih?” ujarku sambil membalikkan badan.

 “Jam delapan Mbak,” jawab Mbok Nah.

 “Ih, dia salah kali, dipikir ini kantor,” ujarku kesal.

 “Terus gimana ini Mbak?”

 “Tauk ah. Suruh Mang Dudu nemenin,” jawabku ketus.

 “Lah Mang Dudu tadi nyuci mobil aja ditemenin,” jawab Mbok Nah bingung.

 “Hah, itu orang udah dateng dari tadi?”

 “Iya. Udah ngobrol sama Bapak, sama Ibu, terus nemenin Mang Dudu.”

 “Kasih minum. Kasih makan. Suruh pulang,” jawabku sekenanya.

 “Mbak, lupa ya, kan puasa?”

 “O iya.”

 “Tadi katanya mau nunggu sampai Mbak B bangun. Waduh PC banget ya,” kata Mbok Nah.

 “Apaan PC, Mbok?”

 “Pejuang Cinta,” jawab Mbok Nah geli sendiri.

 “Oo, BuCin,” jawabku.

 “Apa itu BuCin?” tanya Mbok Nah.

 “Budak Cinta, kayak Mbok Nah sama Mang Dudu. Puas?” jawabku judes, sambil mulai duduk.

 “Hahaha. Puas, Mbak. Puas. Doain Mbok Nah cepet hamil, ya,” jawab Mbok Nah tersipu-sipu.

 “Sumpah lo, Mbok. Mang Dudu aja udah punya cucu. Udahlah, urus cucu-cucu Mang Dudu,” ujarku sok bernasihat. Lagian kalau Mbok Nah punya bayi, siapa yang urusin aku? Eh, urusin Mama. Eh, maksudku bikin repot, kan?

 “Ih, Mbak. Biar gini Mbok Nah ini subur. Mbok Nah pengen lah ada buah hasil cinta Mbok Nah dan Mang Dudu. Tua-tua kayaknya masih bisalah bikin anak,” jawab Mbok Nah lantang.

 Aku lempar Mbok Nah dengan bantalku. “Iyaaaa, udah sana BuCin!” usirku.

 Duh, terlalu banyak gangguan pagi ini.

 Mbok Nah terkekeh dan mengarah ke luar. “Jangan lupa, itu BuCin di bawah nungguin,” goda Mbok Nah.

 Aku menghela napas. Aduh, belum mandi pula. Sebodo ah, sikat gigi aja dan cuci muka. Ngapain sih Mas Ugi masih ke sini, udah dibilang gak usahlah ketemu-ketemu aku lagi. Mana masih social distancing, kan? Gimana sih, malah maen ke rumah orang seenaknya. Dengan malas aku mengangkat badanku menuju kamar mandi. Sikat gigi, cuci muka, dan lalu sisiran. Aku juga terpaksa deh ganti baju yang lebih proper. Tau sendiri, paling pewe kalau di rumah itu cukup pakai piyama tanpa beha atau bra, ya kan?

 Aku menuju ruang tamu. Dan dia di sana, duduk manis. Gak main hape, gak ngapa-ngapain. Duduk aja, ibarat murid yang sedang dihukum duduk manis di pojokan kelas.

 Melihat aku, Mas Ugi yang berkemeja kotak-kotak biru lengan pendek dan bercelana khaki langsung berdiri.

 “Selama pagi, B.”

 “Pagi, Mas Ugi. Puasa?” tanyaku.

 Begini ya, ini hari pertama puasa. Mengapa laki-laki ini berada di ruang tamu aku. Banyak pilihan untuk dilakukan di hari pertama puasa dengan berbagai alasan. Misalnya, puasa hari pertama, lemes ah, mending tidur lagi abis subuhan. Bener gak?

 Lah ini, puasa hari pertama malah mertamu.

 “Iya, In sya Allah puasa, B. Kamu gimana?”

 “Iya puasa. Duduklah Mas Ugi,” kataku mempersilahkan.

 Aku lalu duduk di seberangnya. Bingung deh mau ngomong apa.

 Setelah terdiam beberapa waktu, aku berkata, “Mas Ugi, ada perlu apa?”

 “Gak, cuma silaturahmi. Kan hari pertama puasa, B. Sekalian maaf lahir batin.”

 “Iya, makasih. Sama-sama maaf lahir batin. Masih PSBB ya, Mas? Gak ngantor?”

 Mas Ugi mengangguk. “Aku dengar dari ibumu kamu kena PHK?”

 Aku mengangguk.

 “Gak papa, B. Perempuan lebih baik di rumah, pria yang bekerja.”

 Nah, gini ini nih yang bikin aku males sama Mas Ugi. Aku tahu ia pria yang berusaha ‘memberi’ dan ‘melindungi’, karena itu aku pun sempat mengiyakan ketika akan dinikahinya. Tapi, ternyata aku bukan perempuan seperti ini.

 “Aku sih lebih senang bekerja, Mas. Ini lagi mencari pekerjaan.”

 “Oh gitu.”

 “Iya. Atau Mas kapan-kapan aku kenalin temen-temen perempuan aku yang senang banget dimanja dan gak kerja?” tanyaku serius.

 Mas Ugi menggeleng. “Gak, gak usah. Masa kamu gak ngerti, B.”

 Aku menggeleng. “Gak.”

 “Aku gak pernah stop mikirin kamu.”

 “Iya, itu sih aku ngerti Mas. Yang aku gak ngerti, aku kan udah kabur dari pernikahan kita. Aku menyakiti kamu. Dan kita gak berjodoh…”

 “Siapa bilang kita gak berjodoh? Buktinya kamu tidak dengan siapapun?”

 “Siapa bilang?” sahutku protes.

 “Ya, buktinya kamu selalu ada di rumah ini setiap aku datang.”

 Bete banget dengarnya. Seakan aku ini gak laku.

 “Mas, ini rumah orangtuaku. Aku sedang berada di sini. Tapi soal pribadiku, tolong jangan ikut campur lagi. Jodoh memang rahasia Allah. Dan kalau Mas Ugi ngotot aku jodoh Mas, ya silahkan tunggu. Tapi aku gak bisa. Pernah coba dan gak bisa…”

 “Kenapa, B? Bisa coba lagi?”

 Aku menggeleng. “Karena Mas Ugi aku anggap kakak aku sendiri. Keluarga kita saling kenal dan kita berteman dari dulu. Mas Ugi seperti kakak laki-laki yang aku gak pernah punya,” tuturku.

 Mas Ugi menunduk. Matanya meredup. Aku benci membuat dia kecewa. Sungguh, aku pernah coba.

 Mas Ugi berdiri. “Aku gak pernah berhenti mencintaimu, B.”

 “Terima kasih Mas Ugi. Aku doakan ada perempuan yang jauh lebih baik dari aku untuk mencintaimu.”

 “Gak mungkin B. Gak mungkin,” sahut Mas Ugi bersikeras.

 Lama-lama aku takut. Takut dengan obsesi Mas Ugi. Kalau ngotot seperti ini jadi takut dia sebangsa psikopat, kan? Aku bisa-bisa dikurung di sarang emas bak burung. Aku dikurung, dikukung, tapi dimanja. Serem, ah.

 “Monggo, Mas. Minumannya,” ujar Mbok Nah tahu-tahu muncul dengan baki dengan cangkir berisi teh.

 “Terima kasih Mbok Nah, tapi saya puasa,” kata Mas Ugi.

 Mbok Nah terkekeh. “Hehehe, iya. Maaf, maaf.”

 Sumpah, aku tahu ini pasti akal-akalannya Mbok Nah. Jelas-jelas dia tahu hari ini tuh puasa hari pertama. Mbok Nah selalu kepo, selalu ingin tahu, dan iseng minta ampun.

 “Maaf ya, Mas Ugi,” tambahku.

 “Gak masalah, B. Ya udah aku pulang dulu,” ujar Mas Ugi.

 “Terima kasih banyak ya, Mas Ugi. Mau kupanggilkan Mama Papa?” tanyaku.

 “Gak, gak usah ganggu. Tadi udah ketemu, kok. Mereka adalah calon mertua yang baik,” ujarnya padaku.

 Sebel, sebel, sebel. Ini orang keras kepala. Mama Papa aku bukan calon mertuamu, teriakku dalam hati. Tapi aku sedang puasa, jadi aku tahan-tahan.

 “Permisi ya, B. Assalamualaikum,” pamit Mas Ugi.

 “Wa alaikumsalam.”

 Lalu Mas Ugi masuk ke mobilnya. Aku melambaikan tangan buru-buru dan ketika ia menutup jendela pintu mobilnya, aku berbalik. Nggak, aku gak nunggu sampai mobilnya melaju dan menghilang.

 Mbok Nah terkekeh. Ia muncul di belakangku. Biasalah Mbok Nah, datang tak diundang, pulang tak diantar.

 “Mas Ugi itu BuCin sejati ya, Mbak B,” goda Mbok Nah terkekeh.

 “Biarin, yang penting aku gak.”

 “Kasian Mbak B. Sampai kapan dia gitu?”

 “Sebodo Mbok Nah. Sana, urusin BuCin Mbok Nah, Mang Dudu,” usirku.

 “Eh iya, mau minta pijat ahhhh, pegel!”

 “TMI!” teriakku.

 “Hah, apaan Mbak?”

 “Too Much Information!” jelasku.

 “Apa itu Mbak?”

 “Gak penting! Sana!” usirku jengkel.

 Mbok Nah tergelak dan ngacir ke belakang. Ngeselin. Benar-benar cobaan di puasa hari pertama. Aku naik ke atas lagi. Mungkin mau balik tidur lagi. Hmm, oiya apa aku lihat pesan dari Dewa, ya.

 Dewa, cowok yang dipilihin Bunny di Tinder. Yang kemaren aku ajak ngobrol akhirnya. Aku lihat deh, dia nulis apa.

 Dewa: Beauty, kamu puasa? Selamat puasa, ya.

 Pesannya tadi pagi saat sahur. Aku buru-buru ngetik.

 Aku: Iya. Kamu juga, kan? Selamat puasa, ya, semoga lancar.

 Dewa: Iya nih. Kalau keadaan normal, gak pandemi, aku pasti ajak kamu buka puasa bersama. Mau?

 Aku terdiam. Hmmm… Gimana ya, jawabnya? Ah, cuek deh.

 Aku: mau.

 Dewa: Kalau keadaan seperti ini, kapan kita bisa bertemu, ya?

 Aku: Entah.

 Dewa: Mau video call?

 Aku tercenung. Sepertinya aku kok takut, ya? Aku pengen sih, ngobrol langsung, tapi takut kalau video call langsung kecewa. Enakan ketemu langsung gak, sih? Kayak ngopi-ngopi sore, gitu? Tapi PSBB kan gak mungkin, ya.

 Aku: Aku kurang nyaman.

 Dewa: Oh, ya udah. Nanti kita pikirin ya. Btw, ngomong-ngomong aku belum punya nomer telepon kamu. Boleh minta?

 Aku lalu diam lagi. Aku ragu-ragu. Duh, gimana ya. Aku video call Bunny untuk tanya pendapat.

 “Bun, kamu ngapain di balkoni celingukan?” tanyaku.

 “Ini Mbak B, aku nyariin kucing tetangga di balkoni sebelah. Kayaknya kucing tetangga deh, semaleman ngeong-ngeong ngundang Si Cantik. Semaleman pula Si Cantik ketakutan dan tidur sembunyi di ketiak aku…”

 “Euwww…..Bun!”

 “Eh, benaran Mbak B. Si Cantik ketakutan gitu, gelisah. Kan biasanya dia tidur di karpet di sebelah tempat tidukku semenjak di apartemen berdua aku aja. Nah, semalem gara-gara Si Kucing Garong itu, Cantik ke ranjangku dan tidur sembunyi di ketekku,” tutur Bunny.

 “Masa sih, Bun?”

 “Ih, beneran Mbak. Makanya ini aku nyari masa sih Si Kucing Garong itu. Di tetangga kanan atau kiri. Mau aku labrak, marahin,” ujar Bunny geram.

 “Lah, kucing kok kamu marahin Bun. Dia kan berlaku gitu karena naluri hewannya. Dia mencium betina dan mungkin dia gak dikebiri, jadinya dia mengeong gitu. Kalau Cantik kan udah dikebiri, dia EGP. Dulu kan dia juga pernah ngilang, trus tahu-tahu hamil, gitu lo. Dua anaknya kita kasih ke Ms. Drew, inget, gak?”

 “Iya, aku inget. Aku penasaran aja itu kucing lakik bentukannya seperti apa? Kalau ganteng bolehlah nggodain Cantik. Kalo buluk, buruk rupa, gak boleh!” jawab Bunny ketus.

 Aku menahan tawa. “Gak boleh gitu, Bun. Semua bentuk berhak mencintai,” kataku.

 “BuCin abis itu Kucing Garong,” sahut Bunny geregetan.

 Aku tergelak, entah kenapa jadi ingat Mas Ugi.

 “Budak Cinta, secinta-cintanya, ada di mana-mana ya, Bun,” ujarku.

 “Emberan… Ya udah, Si Kucing Garong belum nampak wujudnya. Ada apa sih Mbak B?” tanya Bunny.

 “Ini Bun, mau tanya pendapat. Menurutmu, aku perlu ngasih nomer pribadi aku ke Dewa, gak?”

 “Dewa dari Tinder, yang kerja di asuransi?” tanya Bunny.

 “Iya.”

 “Biarin dia ngasih nomer duluan. Kamu juga harus sreg dulu untuk ngobrol. Misal nih, kalau kalian udah pindah jalur HP tapi tahu-tahu kamu gak sreg, kamu block aja dia. Beres,” ujar Bunny.

 “Oke deh Bun. Makasih, ya,” kataku.

 “Iya. Sama-sama. Kabarin ya, hasilnya. Kalau misal yang ini kurang oke, langsung aja lanjut ke Langit. Atau paralel aja, biar gak buang waktu,” saran Bunny.

 “Hehehe, ini dululah Bun. Nti abis gitu ke Langit.”

 “Baeklah. Good luck, Mbak B!”

 “Iya Bun, thank you. Eh, Si Cantik mana? Aku kangen.”

 “Tidur di sofa. Dia malah nyenyak di depan tivi yang nyala. Capek, semaleman dia gak bisa tidur, Mbak B. Gara-gara BuCin sebelah.”

 “Hihihi. Oke, nti aku vidcall lagilah. Kangen banget sama Cantik.”

 “Oke, nti kusampaikan. Atau aku kabarin kalau BuCinnya Cantik muncul,” ujar Bunny.

 “Yup, berkabar soal BuCin!”

***

Nantikan kisah lanjutan Miss B hanya di LINE TODAY pada 13 Juni 2020!

​***

Tentang Penulis

Fira Basuki adalah penulis senior Indonesia yang produktif (34 buku). Kisah hidupnya yang ditulis di buku “Fira dan Hafez” (Grasindo, 2013) diangkat menjadi film “Cinta Selamanya” yang diproduksi Demi Istri Production dan Kaninga Pictures (2015), disutradarai Fajar Nugros dan dibintangi Atiqah Hasiholan sebagai Fira dan Rio Dewanto sebagai Hafez, almarhum suaminya.

Fira menghidupkan kembali fiksi seri Miss B, terbitan Grasindo yang sempat populer dan menjadi best sellers beberapa tahun silam. Miss B menceritakan kisah hidup dan keseruan cewek milenial bernama Beauty Ayu Pangestu yang akrab dipanggil Miss B. Ia tinggal di apartemen bersama Bunny dan Q serta Cantik, kucingnya.