Mimpi Juara Luciano Leandro Diraih di Ibukota

Historia.id Diupdate 01.39, 14/11/2019 • Dipublikasikan 01.39, 14/11/2019 • historia.id
Luciano Gomes Leandro, legenda hidup legiun asing yang bersinar di PSM Makassar dan Persija Jakarta (Foto: Fernando Randy/HISTORIA)

MIMPI menjadi juara mendorong Luciano Leandro memutuskan harus mengadu nasib ke negeri orang. Maka ketika kesempatan untuk merumput di negeri seberang menghampirinya, ia tak menyia-nyiakannya. Ia tak peduli tujuan yang akan dicapainya merupakan negeri yang sama sekali tak dia kenal.

Masih kental di dalam ingatan Luciano kala meminta izin ayahnya untuk merantau sekira 15 ribu kilometer ke belahan bumi lain. “Karena saya ingin berhasil. Waktu mau ke Indonesia, aku bilang mau juara di sini. Papa (Cecilio Leandro, red.) saya juga bilang agar jangan takut gagal. Kalau gagal, mereka tetap akan menyambut saya pulang,” kata Luciano mengenang, kepada Historia.

Bersama Marcio Novo, rekan senegaranya, ia lalu merintis karier di sepakbola Indonesia bersama PSM Makassar pada Liga Indonesia II musim 1995-1996. Sayangnya meski tampil apik dan kerap masuk line-up utama, Luci gagal mengentaskan ambisi juaranya. PSM sekadar runner-up setelah di final keok 0-2 dari Bandung Raya.

Musim berikutnya, tim berjuluk Juku Eja justru hanya mampu melaju sampai semifinal. Luci dkk. disingkirkan Persebaya Surabaya yang lantas keluar sebagai juara. Sementara di Liga Indonesia IV 1997-1998, kompetisi dihentikan di tengah jalan akibat huru-hara Mei 1998. Luci lantas pilih mudik ke Brasil.

Luciano Gomes Leandro kini masih ingin berkiprah di Indonesia sebagai pelatih (Foto: Fernando Randy/HISTORIA)

Menerima Pinangan “Macan” Kemayoran

Sepulihnya kondisi Indonesia pasca-Mei 1998, kompetisi bergulir lagi. Pada 1999, Luci comeback ke Liga Indonesia usai menerima pinangan Persija Jakarta yang tengah berbenah di bawah kepemimpinan eks-manajer timnas Indonesia IGK Manila.

“Di 1999, Persija merekrut Luciano Leandro, gelandang elegan asal Brasil yang sebelumnya membela PSM Makassar. Lini depan diperkuat lagi oleh Miro Baldo Bento, pemain lama Persija asal Timor Timur yang sempat bermain di Arseto. Di bawah mistar gawang, berdiri tegar Mambolou Mbeng Jean, kiper setinggi 188 cm asal Kamerun,” ungkap IGK Manila dalam biografinya yang ditulis duet jurnalis Hardy Hermawan dan Edy Budiyarso, Panglima Gajah, Manajer Juara.

Namun, Luci belum bisa tampil di musim tersebut lantaran masih terikat kontrak setahun dengan salah satu klub lokal Brasil. Luci baru benar-benar berseragam Persija pada Liga Indonesia VII musim 2000-2001.

“Waktu saya di Brasil ada telefon dari Jakarta. Dari manajernya, Ibu Diza Rasyid Ali. Dia tanya apakah saya mau main di Persija. Saya lihat Jakarta (adalah) ibukota. Hidup di Jakarta kupikir untuk keluarga saya ada lebih untuk mereka, lebih ada tempat yang mereka lebih enjoy. Lebih banyak fasilitas. Di Makassar juga aman tapi di Jakarta aku melihat sesuatu yang baru. Gara-gara itu aku pindah ke Persija,” sambung Luci.

Setelah terjadi deal dengan nilai kontrak yang enggan dia sebut, pada 2000 pemain asal negeri samba itu kembali ke Indonesia. Di Persija ia bermain bersama pemain Brasil lain Antonio Claudio. Di permulaan milenium ketiga itulah Luci bisa meneguk segarnya gelar juara.

Birahinya akan prestasi sudah mulai terjawab di Brunei Darussalam lewat gelar juara Toyota League of Champions Invitational Cup, 25 Februari-8 Maret 2000. “PSSI menunjuk Persija karena juara dan runner-up Liga Indonesia V PSIS Semarang, dan Persebaya sudah bertarung di Piala Champions dan Piala Winners Asia,” kata Manila.

Gelar juara Persija diperoleh setelah di penyisihan mempecundangi BAFA XI (Brunei) dan Pahang FC (Malaysia), menggilas Thai Farmers Bank 2-0 di semifinal dan menggasak Happy Valley (Hong Kong) 4-3 di final. Luci mencetak gol ketiga Persija, yang membuatnya ditetapkan sebagai topksorer sepanjang turnamen dengan total empat gol.

“Ya kita (Persija) juara di Brunei dan saya cetak satu gol di final. Kostum di final yang jersey putih masih saya simpan dan pajang di hotel saya (Hotel Makassar di Rio de Janeiro). Karena itujersey momen di mana keluarga saya bisa lihat saya juara. Karena ternyata pertandingan final itu semua televisi dari Brasil bisa nonton (disiarkan). Keluarga sampai telefon saya dan itu bikin saya bahagia sekali,” kata Luci.

Baca juga: Luciano Leandro Melabuhkan Cinta di Makassar

Skuad Persija dalam perayaan juara Liga Indonesia 2001, di mana nampak Luciano Leandro di tengah-tengah tim (Foto: Repro “Panglima Gajah, Manajer Juara)

Sepulangnya dari Brunei, Luci bersama Bambang Pamungkas-Gendut Dony-Budi Sudarsono jadi pemain kunci Persija di Liga Indonesia. Puncak dari kerjasama apik mereka, Persija juara setelah mengalahkan PSM 3-2 di laga final nan sengit.

“Bonus juara? Saya tidak ingat berapa. Tapi lebih dari uang adalah sesuatu yang kamu ada di dalam. Sesuatu yang kamu happy. Karena aku ke Indonesia ingin juara. Sekarang saya berhasil dan rasanya sangat senang. Ikut dengan tim diarak keliling kota bersama fans (Jakmania),” lanjutnya.

Namun, itu momen “manisnya” saja. Sepanjang kiprah Luci bersama Persija, ia turut mengalami momen-momen “pahit” akibat keberingasan suporter. Saat itu permusuhan keras antara Jakmania dan Viking –suporter fanatik Persib Bandung– tengah dimulai. Luci acapkali melihat sendiri aksi-aksi brutal suporter yang lebih dari yang pernah ia lihat semasa memperkuat PSM.

“Itu yang tidak pernah aku alami di Brasil, friend. Kalau main di Bandung bersama Persija sulit sekali. Sampai mereka (suporter) di pinggir lapangan juga. Mereka lempar-lempar batu ke saya. Sempat kena di muka. Tapi walau luka, aku tetap mau main,” tambah Luci.

Momen saat Luci terluka terjadi kala Persija bertandang ke Bandung, 23 Maret 2000. Skor akhir 3-2 untuk sang tamu membuat suporter tim tuan rumah tak terima dan menyerang Luci cs.

“Yang cetak gol itu Rochy Putiray, saya, dan Dedy Umarella. Gol saya dari crossing Rochy dan pakai heading saya bikin gol. Penonton (Persib)…waaah, mereka marah sekali sampai lempar-lempar (benda ke lapangan) gara-gara saya pergi begini,” lanjut Luci sambil memeragakan selebrasi pegang telinga usal mencetak gol.

Luciano Gomes Leandro dengan latar foto lawas koleksinya semasa berseragam Persija (Foto: Instagram @lucianogomesleandro)

Kericuhan terjadi setelah wasit meniup peluit panjang. Para pemain, pelatih, dan ofisial Persija mesti dikawal polisi untuk ke luar stadion. “Kita keluar dengan truk tentara. Kita di-drop di tempat tentara, baru kita pulang ke Jakarta. Saya memang heran karena tak alami yang seperti ini di Brasil. Tapi teror penonton tidak membuat saya menyerah, friend.”

Pada 2001, Luci dkk. kembali mempersembahkan gelar juara Brunei League of Champions Invitation Cup. Karier Luci bersama Persija berjalan hingga 2004.

“Kontrak saya habis 2004 dan pensiun. Jadi Persija klub profesional terakhir saya. Aku tidak bilang lebih cinta PSM atau Persija. Dua tim itu memang saya akan selalu cinta. Ada dua history yang sangat baik pada (karier) saya. Kalau saya ke Makassar, aku yakin mereka akan sambut dengan hati besar. di Jakarta semua orang kenal sama saya. Jadi, bagaimana saya tidak cinta dua tim itu?” tandas Luci.

Artikel Asli