Midsommar: Mimpi Buruk Lelaki Hidung Belang

Cinemags Dipublikasikan 06.38, 15/09/2019 • Paulus Ladiarsa
midsommar-2-ebca7263d3e1222a1fbccf69e180617d

Setelah sempat beredar desas desus Midsommar tidak bakal tayang di CGV, tanpa adanya pemberitahuan di daftar Upcoming Movies, tiba-tiba secara gaib, film yang tadinya gagal tayang bulan Agustus ini akhirnya muncul juga. Dan sekali lagi, Ari Aster tidak pernah gagal membawakan visual creepy yang membuat shock penontonnya hingga ke relung jiwa.

Tidak selalu se-creepy itu juga, karena 80% penampakannya berupa lanskap visual yang menyenangkan. Jika kebanyakan film horror identik dengan kegelapan, rumah berhantu, dan sebagainya, jangan harap Anda akan menemukan elemen seperti itu di sini (meskipun beberapa scene gore akan sulit terhapus dari ingatan Anda). Namun seringnya, Midsommar menyuguhkan situasi terang benderang sepanjang hari, hamparan bunga penuh warna, dan tari-tarian, bahkan komedi. Jadi, bagi yang berharap filmnya bakal se-shocking Hereditary, mungkin akan kecewa.

Jika mengaitkan plot KKN di Desa Penari, film ini mengisahkan tentang sekumpulan mahasiswa Antropologi yang tengah berjuang dengan tesis mereka dan hendak mengadakan penelitian di desa terpencil Swedia dimana para penduduknya mengadakan ritual Midsommar setiap 90 tahun sekali.

Bermula dari ajakan Pele (Vilhelm Blomgren), teman Swedia dengan senyum ‘ramah’ yang mengajak tiga teman Amerikanya (alias calon tumbal), Mark (Will Poulter), Josh (William Jackson Harper), dan Christian (Jack Reynor) untuk mengunjungi desanya, Hårga dalam rangka merayakan festival musim panas.

Terlihat dalam filmnya kali ini, Aster mengangkat tema yang lebih simple dan universal yaitu perihal toxic relationship dan proses ‘grieving’, mengacu pada perjalanan psikologis si tokoh utama, Dani (Florence Pugh). Seperti yang telah diungkap di sinopsis dan trailer-nya, film ini menyikut issue mengenai sepasang kekasih setelah melalui empat tahun kejenuhan berpacaran. Kecemasan yang dialami si tokoh utama diperlihatkan sejak awal dimana Dani menunggu balasan e-mail dari adiknya yang bipolar, absent message dari pacarnya, Christian, serta kebutuhannya menelan pil tidur/penenang. Rentetan kecemasan-kecemasan akan keluarga dan relationship itu dihantam lagi dengan berita kematian keluarganya yang tragis, adapun empati yang diperlihatkan Christian, sekedar palsu belaka. Namun akhirnya Dani ikut bersama rombongan tersebut menuju Hagar dengan harapan mengobati depresi.

Aster terbilang piawai menempatkan empati penonton ke konflik mental yang dihadapi si tokoh utama, didukung akting Pugh dalam memerankan gadis low-profile membumi yang diterpa duka beruntun, mimik muka Dani saat menangis benar-benar terlihat total memble. Di sisi lain penonton menjadi kurang simpati dengan karakter Mark dan Christian yang digambarkan sebagai lelaki tidak dewasa, terlebih Mark yang hanya memikirkan perempuan-perempuan Swedia di otaknya dan Christian yang sok baik ke pacarnya, padahal diam-diam ingin putus dan bersenang-senang di Swedia, meskipun begitu, Antagonis sesungguhnya di film ini adalah Pele yang ramah dan selalu tersenyum padahal sudah merencanakan skenario jebakan. Sayangnya, tidak ada eksplorasi lebih jauh mengenai anak berwajah aneh hasil hubungan sedarah yang disebut-sebut sebagai peramal di komunitas itu.

Alurnya cerita dibawakan lambat seperti pendahulunya, namun tidak membuat penonton meninggalkan bioskop untuk sekedar ke wc karena kejutan-kejutan horror dan rasa penasaran tetap terjaga. Berbeda dengan film horror astral umumnya, dua film Aster cenderung mengeksplorasi ranah psikologis dan ritual pagan. Namun jika membandingkan dengan Hereditary, kali ini, tidak terdapat unsur astral magis yang turut ikut andil dalam urusan kematian beberapa tokohnya. Dari kematian keluarga Dani, ritual Attestupa, mutilasi, hingga pengorbanan semua murni dilakukan oleh tangan manusia. Satu-satunya unsur magis adalah jampi-jampi pelet yang dilancarkan Maya untuk Christian.

Dari segi sinematografi, sineas yang sejatinya lulusan seni rupa ini memiliki keunggulan visual tersendiri, terlebih saat menampilkan hal-hal yang berkaitan dengan alam. Beberapa gambar pemandangan di-shoot dengan efek psikedelik dan menghipnotis. Sang sineas juga banyak bermain dengan bahasa gambar, salah satunya adegan di rumah kayu yang dipenuhi simbol di temboknya, beberapa gambar seperti matahari, mutilasi, dsb memberikan sedikit petunjuk pada penonton akan adanya sejarah ritual pagan di desa itu. Terdapat beberapa referensi dari The Shining (pemandangan lanskap hutan dari atas) dan (entah ini keisengan si sutradara atau bukan) The Wicker Man, saat Christian dimasukan ke dalam tubuh beruang. Dan sekali lagi, Aster berhasil untuk urusan ‘seni menampilkan wajah rusak termutilasi yang akan sulit dihapus dari ingatan.

Film yang terinspirasi dari pengalaman privat sang sineas ini sebenarnya memiliki alur yang sederhana namun efektif, yaitu mengenai proses metamorfosa si tokoh utama dari proses suffering, histeris, hingga puncak ‘pencerahan’ yang disimbolkan dengan merestui pasangannya mati dibakar. Penonton seakan juga dibiarkan menerka akan nasib tokoh-tokoh yang ditakdirkan akan mati, jadi tidak ada plot twist  berarti dari sinopsis dan trailer. Kekuatan yang menjadi modal utama film ini adalah tatanan visual eye catching meskipun agak silau, dialog antar tokohnya pun tidak membosankan. Mark menjadi semacam badut di film ini, namun komedian sinis dibalik itu semua tentunya adalah Aster. Kultur asing dan misterius merupakan daya tarik kuat dalam Midsommar karena bagian lain di otak kita mengatakan bahwa komunitas dan ritual seperti ini pernah dan masih ada secara realita di suatu tempat (contoh; pelet, pengorbanan manusia, atau hewan), dan sugesti bawah sadar itulah yang membuat film horror ceria ini lebih menakutkan daripada horror mainstream.

Artikel Asli