Meski kue uang elektronik dikerubuti, perbankan tetap bisa unjuk gigi

Kontan.co.id Dipublikasikan 08.00, 15/09/2019 • Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis uang elektronik makin semarak. Besarnya kue uang elektronik di Tanah Air pun banyak membuat industri keuangan non bank (IKNB) turut ikut mencicipi bisnis tersebut. 

Kendati demikian, industri perbankan hingga kini nyatanya masih menjadi salah satu pemakan kue terbesar. Ambil contoh, PT Bank Mandiri Tbk, salah satu bank plat merah ini mengaku dengan adanya sinergi antar BUMN lewat dompet elektronik LinkAja kian membuat bisnis semakin luas.

*Baca Juga: BNI dan Shinhan Bank salurkan kredit sindikasi pertambangan senilai US$ 231 juta *

Senior Vice President Transaction Banking and Retail Sales Bank Mandiri Thomas Wahyudi mengatakan bersama dengan Himbara yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) LinkAja bakal tumbuh menjadi salah satu pemain besar di bisnis uang elektronik berbasis server.

Menurutnya, lewat kolaborasi ini penetrasi transaksi non tunai LinkAja di tahun ini bakal menembus 6,2 juta pengguna aktif di tahun 2019 saja. Sekadar informasi, LinkAja merupakan uang elektronik berbasis aplikasi yang memungkinkan pengguna untuk melakukan isi saldo dan menggunakannya untuk berbagai transaksi. 

Dengan menggunakan LinkAja, pengguna dapat melakukan transaksi pembelian pulsa/paket data, pembelian/bayar listrik, transaksi di berbagai merchant offline dan online (seperti Tokopedia, Bukalapak). 

Ke depannya aplikasi ini juga akan berfungsi sebagai dompet elektronik, sehingga tidak hanya uang elektronik, pengguna juga dapat menggunakan kartu debit atau kredit untuk bertransaksi melalui aplikasi dengan cara menambahkan kartu debit atau kredit.

Pun, bank berlogo pita emas ini mengklaim pihaknya masih menjadi jawara dalam bisnis uang elektronik berbasis kartu chip yakni Mandiri e-money. Tidak main-main, dari segi transaksi pada bulan Juli 2019 tercatat e-money sudah membukukan 100 juta transaksi dalam satu bulan saja. 

*Baca Juga: Mengenal amalan, fintech di klaster online distress solution, regulatory sandbox OJK *

Pun, nilai transaksi dalam bulan Juli 2019 saja, tercatat sudah mencapai Rp 9,4 triliun atau naik 17% secara year on year (yoy).

Sementara sejak awal 2019, total transaksi Mandiri e-money sudah menembus 670 juta transaksi dengan jumlah kartu yang diterbitkan hampir menyentuh 19 juta keping. 

"Dari sisi penerimaan transaksi, Bank Mandiri bekerja sama dengan beragam sektor baik sektor transportasi seperti MRT, TransJakarta, LRT, Damri, ASDP, tol, parkir, maupun sektor retail seperti Indomaret dan Alfamart dan food & beverages serta SPBU. Tahun ini fokus untuk peningkatan acceptance bidang parkiran dan berbagai merchant acceptance lainnya," jelasnya kepada Kontan.co.id, Jumat (13/9) malam.

Bank bersandi saham BMRI (anggota indeks Kompas100) ini juga punya segelintir strategi pengembangan bisnis uang elektronik. Salah satunya melalui kerjasama dengan merchant online untuk penjualan kartu di official store. 

Selain itu, perseroan juga meningkatkan kemudahan isi ulang (top up) e-money secara online melalui uang elektronik LinkAja. "Kami juga sudah kerjasama dengan merchant-merchant online seperti Tokopedia, Shopee, Bukalapak, dan Blibli," lanjutnya.

Adapun, Bank Mandiri menargetkan jumlah kartu beredar pada akhir 2019 dapat mencapai 22 juta kartu.

Bank BUMN lainnya yakni BNI juga catatkan pertumbuhan positif di bisnis uang elektronik. Vice President e-channel BNI Fajar Kusuma Nugraha menjelaskan saat ini jumlah uang elektronik berbasis kartu yakni TapCash sudah didistribusikan sebanyak 6 juta kartu. 

*Baca Juga: BJ Habibie wafat, Bank Muamalat kehilangan sosok pendiri *

Dari jumlah tersebut, total transaksi tercatat meningkat 15% yoy hingga periode Agustus 2019. "Sedangkan sales volume meningkat 30% dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya," ujarnya, Minggu (15/9).

Alih-alih mendorong bisnis TapCash, perseroan juga sedang melakukan inisiasi kerjasama co-branding dengan satu bank swasta. Pihaknya juga sudah melakukan sharing fitur untuk isi ulang (top up) di beberapa perusahaan teknologi finansial (tekfin). 

Lantaran dompet elektronik BNI kini telah dilebur menjadi LinkAja, Fajar menuturkan saat ini BNI hanya konsentrasi mendorong bisnis TapCash saja. Salah satunya lewat perluasan akseptasi transaksi, top up channel dan mengupayakan kerjasama dengan perusahaan non bank.

Tak mau kalah, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga cukup serius mendorong bisnis uang elektronik. Sayangnya, Direktur BCA Santoso Liem baru dapat merinci total transaksi hingga semester I 2019. 

Menurutnya, per semester-I 2019 nilai transakasi uang elektronik berbasis kartu milik perseroan yakni Flazz telah mencapai Rp 2,9 triliun atau meningkat 88% secara yoy. 

Pada periode yang sama, jumlah transaksi Flazz tercatat sudah mencapai 240 juta transaksi sejak Januari-Juni 2019 atau naik 49% secara yoy dengan jumlah kartu beredar tercatat sebanyak 16,5 juta kartu.

BCA juga memiliki uang elektronik berbasis server yang bertajuk Sakuku. Walau tak merinci, Santoso menyebut pertumbuhan jumlah dan nilai transaksi Sakuku naik hingga dua kali lipat dibandingkan periode semester-I 2019. 

"Meskipun nominalnya belum signifikan dibandingkan channel lainnya," katanya.

*Baca Juga: Rekrutmen calon pegawai BI dibuka, simak persyaratannya *

Walau tak memasang target, bank swasta terbesar ini menilai ke depan uang elektronik atau dompet elektronik akan terus didorong untuk memudahkan transaksi pembayaran nasabah. 

Sebagai salah satu bank transaksi terbesar, BCA tetap akan fokus melakukan pengembangan dan mematangkan produk dan layanan pembayaran sesuai dengan kebutuhan nasabah.

Sekadar informasi saja, merujuk data Bank Indonesia (BI) sampai dengan bulan Juli 2019 tercatat jumlah transaksi uang elektronik menembus 2,73 miliar transaksi, tumbuh 83,99% secara yoy. 

Dari jumlah tersebut, nilai atau nominal transaksi sudah mencapai Rp 69,04 triliun. Tumbuh signifikan sebanyak 184,71% dibandingkan periode Juli 2018 sebesar Rp 24,25 triliun.

Artikel Asli