Merek Besar Pemasok Sampah Plastik Terbanyak

Koran Jakarta Dipublikasikan 07.10, 13/11/2019 • ers/E-12

Tiga merek produk perusahaan besar makanan dan minuman menempati urutan teratas penyumbang sampah plastik.

JAKARTA – Berdasarkan hasil kegiatan audit merek selama tahun 2016–2019, sampah perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) atau produk kebutuhan sehari-hari menjadi temuan terbanyak pada kategori sampah bermerek. Secara keseluruhan, sampah di Indonesia masih didomimasi oleh sampah kemasan.

“Untuk keseluruhan tahun 2016–2019, Danone, Orang Tua, dan Wings kerap berada di peringkat teratas penyumbang sampah plastik terbanyak,” ungkap juru kampanye Urban Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi, dalam konferensi persnya di Jakarta, Selasa (12/11). Tahun ini, tiga terbesar merek penghasil sampah diduduki oleh Indofood, JS JS, dan Danone.

Dia menjelaskan sebagian besar merek penyumbang sampah berada dalam industri makanan dan minuman (mamin), sebuah kategori industri yang terus berkembang mengikuti pertumbuhan populasi dan tingkat daya beli masyarakat. Produsen kini gencar menjual produk dalam kemasan ekonomis seperti kemasan saset.

Berdasarkan laporan terbaru Greenpeace berjudul “Throwing Away The Future: How Companies Still Have It Wrong on Plastic Pollution Solutions”, sebanyak 855 miliar saset terjual di pasar global pada tahun ini, dengan Asia Tenggara memegang pangsa pasar sekitar 50 persen. Diprediksi jumlah kemasan saset yang terjual akan mencapai 1,3 triliun saset pada tahun 2027. “Ketika industri terus bertumbuh, volume sampah plastik akan meningkat karena industri mengandalkan plastik sekali pakai sebagai kemasan,” terang Atha.

Adapun plastik kemasan memegang porsi terbesar dalam industri plastik secara global. Volume sampah plastik yang semakin besar menjadi momok bagi lingkungan dan masyarakat Indonesia. Pasalnya, daya tampung Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) terbatas. Belum lagi, tidak semua sampah plastik bisa didaur ulang. Karena itu, pengurangan produksi plastik sekali pakai dan penerapan konsep ekonomi sirkular merupakan solusi utama dari krisis masalah plastik.

Greenpeace terus mendorong para pemangku kepentingan untuk bisa mengaplikasikan sistem penggunaan kembali (reuse) dan isi ulang (refill). Sementara itu, solusi yang ditawarkan perusahaan FMCG sejauh ini tergolong salah, seperti Nestlé Indonesia yang bakal meluncurkan produk minuman dengan sedotan kertas.

Pelaku industri pulp dan kertas sering kali tersangkut dengan aktivitas ilegal yaitu perambahan hutan untuk keperluan bisnis, yang akhirnya berakibat pada perubahan iklim, dan perusahaan FMCG yang beralih dari plastik ke kertas juga harus menyadari daur ulang kertas mempunyai keterbatasan, yang mana tidak semua kertas bisa didaur ulang.

Peran Pemerintah
Kepala Divisi Pengendalian Pencemaran Lingkungan (Indonesian Centre for Environmental Law/ ICEL), Fajri Fadhillah, menegaskan, selama ini pemerintah turut mempunyai andil besar dalam mengurai krisis plastik. Peraturan Menteri sebagai turunan dari UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah harus segera direalisasikan. ers/E-12

Artikel Asli