Menyoal Gaya Hidup Mewah Polisi

kumparan Dipublikasikan 23.00, 19/11/2019 • Andreas Gerry Tuwo
Ilustrasi anggota kepolisian. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Divisi Propam Mabes Polri mengeluarkan imbauan larangan bergaya hidup mewah dan hedonistik kepada anggotanya. Larangan tersebut tertuang dalam surat telegram nomor ST/30/XI/HUM.4.3/2019 tanggal 15 November 2019.

Kabagpenum Divisi Humas Polri, Kombes Asep Adisaputra, menuturkan imbauan itu untuk membentuk anggota Polri yang dekat dengan masyarakat. Mereka dituntut menjaga perilaku sebagai teladan.

“TR dimaksudkan sebagai rambu, pembatas dan pengingat bahwa anggota Polri senantiasa menjaga dalam kaidah dan koridor tugasnya. Tidak boleh korupsi, memeras, tidak boleh sakiti hati masyarakat yang terkait dengan kepentingan individual yang memperkaya diri,” kata Asep di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (18/11).

Ilustrasi anggota kepolisian (13/11/2019). Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

Imbauan tersebut tidak hanya berlaku dalam kehidupan sehari-hari, tapi juga di media sosial. Asep menyebut, hal ini langkah positif untuk anggota Polri.

“Itu sebenarnya langkah yang jadi konkret untuk jadi sebuah bukti, bahwa pada akhirnya kami enggak boleh berpola hidup hedon, memamerkan kekayaan. Tidak hanya di medsos, tapi juga di kehidupan sehari-hari,” ujar Asep.

Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol Asep Adisaputra. Foto: Mirsan Simamora/kumparan

Dalam surat telegram tersebut terdapat tujuh poin:

1. Tidak menunjukkan, memakai, memamerkan barang-barang mewah dalam kehidupan sehari-hari baik dalam interaksi sosial di kedinasan maupun di area publik.

2. Senantiasa menjaga diri, menempatkan diri (dengan) pola hidup sederhana di lingkungan internal institusi Polri maupun kehidupan bermasyarakat.

3. Tidak mengunggah foto atau video pada medsos yang menunjukkan gaya hidup yang hedonis, karena dapat menimbulkan kecemburuan sosial.

4. Menyesuaikan norma hukum, kepatuhan, kepantasan dengan kondisi lingkungan tempat tinggal.

5. Menggunakan atribut Polri yang sesuai dengan pembagian, untuk penyamarataan.

6. Pimpinan, kasatwil, perwira dapat memberikan contoh perilaku dan sikap yang baik (dengan) tidak memperlihatkan gaya hidup yang hedonis terutama Bhayangkari dan keluarga besar Polri.

7. Dikenakan sanksi yang tegas bagi anggota Polri yang melanggar.

Kadiv Humas Polri, Irjen Pol M. Iqbal. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Kadiv Humas Polri Irjen Pol M Iqbal mengatakan, anggota Polri disarankan menampilkan sikap humanis di masyarakat dan tidak pamer kekayaan. Hal itu untuk menghindari persepsi negatif masyarakat.

“Untuk itulah Bapak Kapolri menekankan kita tidak boleh, kita pelayan masyarakat, kita dicontoh, dilihat bahkan diteladani,” kata Iqbal di Gedung Tribrata, Jalan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Selasa (19/11).

Iqbal menuturkan, sebaiknya anggota Polri menampilkan sifat humanis daripada mengunggah motor mewah di media sosial walaupun kendaraan tersebut bukan milik pribadi.

Bila imbauan tersebut tetap dilanggar, anggota Polri akan mendapat hukuman. Bahkan, terancam dicopot dari jabatannya.

“Menampilkan sepeda motor Harley, mobil, walaupun itu minjem, tapi persepsi publik sangat negatif,” ujar Iqbal.

“Apabila melanggar kita akan periksa. (Jika) Terbukti, benar, karena era digital bisa saja di-create, kita akan tindak sesuai mekanisme. Bisa sampai ancaman kurungan, demosi sampai ancaman jabatan,” tambahnya.

Polantas mengatur jalanan. Foto: Anggi Dwiki Dermawan/kumparan

Ombudsman menyambut baik larangan anggota Polri bergaya hidup mewah dan berperilaku hedonistik. Anggota Ombudsman RI, Adrianus Meilala, mengatakan, imbauan itu harus dimulai dari perwira tinggi (pati) dan perwira menegah (pamen).

Adrianus mengapresiasi jika pola hidup yang sederhana benar-benar diterapkan anggota Polri. Menurutnya, anggota Polri yang sudah menerapkan hal ini bisa diberi penghargaan.

“Kemudian, mereka yang menerapkan pola hidup seperti ini harus diperbanyak. Tak boleh sendirian, kalau perlu Kapolri memberikan semacam reward,” ujar Adrianus.

Artikel Asli