Menyanjung Pelatih asal Amerika Serikat Pertama di Liga Champions

kumparan Dipublikasikan 01.32, 11/12/2019 • Supersoccer
Jesse Marsch, pelatih Red Bull Salzburg. Foto: REUTERS/Michael Dalder

Ah, Amerika Serikat. Negara Adidaya, katanya. Tapi kalau soal sepak bola, mereka tak terpikat.

Bahkan, ketika dunia (setidaknya di sebagian besar negara Eropa, Amerika Latin, dan Britania Raya) menyebutnya 'Football' (dengan berbagai ejaan tertentu), 'Paman Sam' menyebutnya 'Soccer' --meski yang menemukan istilah itu adalah orang Inggris, sih.

Ah, Amerika Serikat. Ketika kita riuh ribut memperbincangkan soal Liga Champions, mereka tenang-tenang saja sepertinya.

Mereka lebih membangga-banggakan Super Bowl-nya itu. Ya, kompetisi olahraga American Football yang mereka gilai itu.

Namun, selalu ada diskrepansi yang hadir di society, sehingga terciptalah sebuah variasi. Di tengah orang-orang yang seragam serasi, hadir sebuah anomali.

Kita mungkin sudah sering mendengar nama Christian Pulisic, atau dulu di Premier League ada nama Clint Dempsey. Dan sebenarnya masih ada beberapa lagi.

Namun untuk kali ini, mari kita berkenalan dengan satu nama lain di era kiwari. Nama yang di kuping sebagian dari kalian terdengar asing: Jesse Marsch.

Jesse Marsch, pelatih Red Bull Salzburg, di laga kontra Genk. Foto: REUTERS/Francois Lenoir

“Seorang anomali memiliki ambisinya sendiri. Anda dapat mencoba berargumentasi dengannya, tetapi itu seperti menggunakan uang untuk menyuap binatang buas.”

-Criss Jami dalam Healology

Pep Guardiola, Juergen Klopp, Zinedine Zidane, Ernesto Valverde, Maurizio Sarri. Seenggaknya nama-nama pelatih top ini 'kan yang kalian ingat kalau lagi ngomongin Liga Champions?

Kenalan juga, dong, dengan Jesse Marsch, sosok yang kini menukangi klub asal Austria, Red Bull Salzburg. Sosok yang kehadirannya begitu spesial di pentas sepak bola termasyhur sejagad Eropa itu.

Sebab, dia berasal dari negeri yang penduduknya menganggap sepak bola laiknya lomba balap kura-kura alias tidak seru. Amerika Serikat.

Ya, Jesse Marsch tercatat sebagai orang Amerika Serikat pertama yang melatih klub sepak bola di ajang Liga Champions. Selamat datang di 'tanah terjanji', wahai orang asing.

Jesse Marsch, pelatih Red Bull Salzburg, di laga kontra Liverpool. Foto: REUTERS/Michael Dalder

Semasa masih menjadi pemain, Marsch adalah seorang gelandang. Tercatat, ada tiga klub yang dibelanya: DC United (1996-1997), Chicago Fire (1998-2005), dan Chivas USA (2006-2009).

Eh, jangan salah. Wong kelahiran Wisconsin ini juga sempat membela timnas negaranya, setidaknya dua kali turun laga.

Klub pertama dalam karier kepelatihannya adalah Montreal Impact, klub asal Kanada yang berkompetisi di MLS. Namun, hasilnya jauh dari kata memuaskan. Marsch mengundurkan diri setelah satu musim di mana tim asuhannya itu gagal lolos ke babak playoff liga.

"Saya pikir di Montreal ada momen di mana saya merasakan terlalu banyak tekanan, dan saya merasakan beban dunia di pundak saya," kata Marsch, dilansir The Guardian.

Apa yang dilakukan Marsch setelah itu? Sebelum cari kerjaan baru, dia dan istrinya, bersama tiga anak mereka, berpetualang.

Bermain arung jeram di Himalaya hingga berenang di Sungai Gangga. Tak lupa mengagumi keelokan Taj Mahal hingga Piramida. Semua itu demi menyegarkan pikirannya.

"Kami menemukan apa yang membuat negara-negara [di dunia] begitu menarik, yakni para penduduknya," ungkapnya.

Jesse Marsch (kanan) di laga kontra Liverpool. Foto: REUTERS/Michael Dalder

Pada tahun 2013, barulah dia mendapat kerjaan baru. Jadi volunteer di tim sepak bola almamater kampusnya, Princeton University.

Setelah itu, dia melatih New York Red Bulls (2015-2018), di mana dia mempersembahkan MLS Supporters' Shield pada tahun 2015 dan terpilih jadi pelatih terbaik MLS pada tahun yang sama.

Sebelum resmi melatih Red Bull Salzburg pada musim ini, dia lebih dulu menjadi asisten Ralf Rangnick di RB Leipzig pada Bundesliga Jerman musim lalu. Dia mengaku menyerap ilmu yang berharga.

“Setahun di Bundesliga sebagai asisten Ralf Rangnick menjadi bekal bagi saya menempuh karier selanjutnya. Ini membantu saya menjadi lebih baik dalam pekerjaan, juga membantu persepsi saya di sini (Salzburg)," ungkapnya.

Jesse Marsch, pelatih Red Bull Salzburg, di laga kontra Liverpool. Foto: REUTERS/Michael Dalder

Bob Bradley jadi salah satu inspirasi bagi Marsch untuk melatih di Eropa. Asal tahu saja, ayah dari Michael Bradley itu adalah orang Amerika Serikat pertama yang melatih klub peserta kompetisi level teratas liga sepak bola di Eropa.

Itu terjadi ketika Bradley melatih klub bernama Stabæk yang pada saat itu berkompetisi di Tippeligaen --liga level teratas Norwegia yang kini sudah ganti nama jadi Eliteserien-- selama dua tahun (2014-2015).

Bradley juga sempat melatih Le Havre AC yang pada saat itu (2015-2016) berkompetisi di Ligue 2 Prancis. Pada tahun 2016, dia lalu membikin sejarah dengan menjadi pelatih asal Amerika Serikat pertama yang membesut klub Premier League, yakni Swansea City.

Ditambah lagi, Marsch adalah manusia yang suka tantangan. Jiwa petualangnya diejawantahkan ke dunia sepak bola. Sehingga sampailah dia di Jerman (kini Austria), padahal dulu dia mengaku sama sekali tak paham bahasanya.

“Tujuan saya adalah mengasimilasi, menjadi diri saya sendiri, tetapi juga untuk menghormati budaya tempat saya bekerja. Tiga tahun lalu, saya tidak bisa berbahasa Jerman. Sama sekali," ungkapnya.

Jesse Marsch memeluk anak asuhnya, di laga kontra Genk. Foto: REUTERS/Francois Lenoir

"Sekarang saya sudah relatif lancar. Sudah tiga tahun saya bekerja keras untuk mempelajari bahasa ini. Saya peduli soal itu. Dalam beberapa hal, saya terobsesi dengan hal itu," lanjutnya.

Marsch juga sedikit memberi pembelaan atas stigma yang dicap oleh orang Eropa kepada orang Amerika Serikat terkait sepak bola. Menurutnya, Amerika Serikat hanya kalah dari segi sejarah.

“Sebagian besar klub-klub [di Eropa] berumur satu abad. Di Amerika, MLS berusia 25 tahun. Kami masih dalam masa pertumbuhan. Itulah yang dirasakan orang Eropa tentang sepak bola Amerika. Itu tidak benar. Itu tidak mencerminkan keahlian kami yang sebenarnya. Kami cuma enggak punya sejarah yang cukup," tegasnya.

Kini, tampaknya dia sedang bahagia di Salzburg. Salah satunya, karena dia merasa orang-orang di sekitarnya tak memperlakukannya laiknya 'pelatih asal Amerika Serikat', orang asing di dunia sepak bola.

Video di atas adalah salah satu momen terapiknya di Liga Champions. Saat itu, timnya sempat tertinggal 3-1 dari tuan rumah Liverpool di babak pertama.

Saat jeda, dia tampak memarahi anak asuhnya, menyelaraskan kembali mentalitas tanding mereka sebelum membahas komponen taktis. Renjananya di sepak bola memang tak main-main.

Alhasil, Salzburg sempat menyamakan kedudukan jadi 3-3, meski akhirnya Liverpool menang 4-3 di Anfield. Belum beruntung.

Jesse Marsch, pelatih Red Bull Salzburg (kanan); bersama Juergen Klopp. Foto: Action Images via Reuters/John Sibley

Pada Rabu (11/12/2019) dini hari WIB, Marsch dan Salzburg harus menghentikan petualangan mereka di Liga Champions 2019/20. Langkah mereka terhenti di fase grup usai kalah dari Liverpool di Red Bull Arena (Stadion Wals-Siezenheim).

Artinya, untuk selanjutnya, mereka bakal berkompetisi di Liga Europa. Meski begitu, kehadiran Marsch sudah cukup mewarnai Liga Champions itu sendiri. Terima kasih, Jesse Marsch.

Editor: Katondio Bayumitra Wedya

----

Mau nonton bola langsung di Inggris? Ayo, ikutan Home of Premier League. Semua biaya ditanggung kumparan dan Supersoccer, gratis! Ayo buruan daftar di sini. Tersedia juga hadiah bulanan berupa Polytron Smart TV, langganan Mola TV, dan jersey original.

Artikel Asli