Menteri Suharso Bandingkan Corona dengan DBD dan TBC: Jangan Terlalu Parno

kumparan Dipublikasikan 04.38, 04/08 • kumparanBISNIS
Menteri PPN Suharso Monoarfa. Foto: Kevin S. Kurnianto/kumparan

Pemerintah mulai bergerak membangkitkan perekonomian yang terpukul karena virus corona dengan membuka pariwisata, misalnya di Bali. Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengaku sudah melihat beragam fasilitas pariwisata di Bali sejak dibuka akhir Juli lalu.

Menurutnya segala sesuatunya sudah dipersiapkan dengan baik. Sehingga yang perlu diprioritaskan saat ini adalah protokol kesehatan.

“Kami ingin memastikan kepada seluruh masyarakat Indonesia silakan anda bertamasya, tetapi jangan lupa protokol kesehatan itu penting. Jadi jangan terlalu parno, paranoid ya kita harus tetap waspada, tetap khawatir tetap,” kata Suharso Monoarfa saat talk show yang disiarkan langsung di Youtube Bappenas RI, Selasa (4/8).

Suharso lalu mencontohkan bagaimana Indonesia juga sempat menghadapi penyakit demam berdarah dengue (DBD). Namun, secara perlahan layanan termasuk di sektor pariwisata juga tetap berjalan.

“Dulu kita juga punya persoalan dengan demam berdarah. Orang takut sekali ada nyamuk demam berdarah. Sekarang kita anggap biasa, padahal yang wafat juga karena demam berdarah juga cukup tinggi ya kan,” ujar Suharso.

Selain demam berdarah, Suharso mengungkapkan saat ini Indonesia juga masih menghadapi TBC. Menurutnya kondisi tersebut membuat mahasiswa yang kuliah di luar negeri juga ditanya mengenai riwayat penyakit TBC.

Meski begitu, semuanya masih bisa berjalan maksimal dengan diiringi upaya menurunkan atau mengeliminasi TBC di Indonesia.

“Sampai hari ini kita punya masalah di TBC. Yang wafat di TBC itu tinggi sekali, lebih tinggi dari COVID. Sekarang itu di Indonesia orang yang wafat karena TBC bisa 10 sampai 11 orang wafat per jam. Jadi, itu ternyata kita masih bisa berdamai,” ungkap Suharso.

Infografik Syarat Berwisata ke Bali. Foto: Jarwo/kumparan

Untuk itu, Suharso kembali mengajak masyarakat berwisata dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Ia menegaskan pariwisata yang sudah dibuka seperti Bali sudah siap melayani masyarakat.

“Sampai hari ini yang saya lihat (Bali) aman. Pertama di sini menurut saya sistem komunitasnya cukup ketat karena mereka punya Pecalang. Nah, Pecalang itu kan komunitas sistemnya. Jadi kalau ada seseorang yang terkena atau bagaimana mereka bisa antisipasi cepat,” terang Suharso.

Suharso merasa penularan virus corona di Bali juga sudah menurun. Kondisi tersebut juga didukung dengan fasilitas kesehatan di Bali yang tidak perlu diragukan lagi kualitasnya.

“Fasilitas kesehatannya memadai karena ini kota internasional sehingga banyak yang hadir di sini, sehingga seluruh fasilitas tersedia,” tutur Suharso.

Artikel Asli