Menteri Nadiem Wacanakan Belajar Jarak Jauh Permanen Setelah Pandemi Covid-19, Mungkinkah?

Kompas.com Dipublikasikan 08.58, 03/07 • Dandy Bayu Bramasta
Dok. Kemendikbud
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim

KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengungkapkan, pembelajaran jarak jauh bisa diterapkan permanen setelah pandemi Covid-19 selesai.

Berdasarkan penilaian Kemendikbud, kegiatan belajar-mengakar dengan memanfaatkan teknologi akan menjadi hal yang mendasar.

Ia menyebutkan, pemanfaatan teknologi memberi kesempatan kepada sekolah melakukan berbagai modeling kegiatan belajar.

"Pembelajaran jarak jauh, ini akan menjadi permanen. Bukan pembelajaran jarak jauh pure saja, tapihybrid model. Adaptasi teknologi itu pasti tidak akan kembali lagi," kata Nadiem dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR, seperti diberitakan Kompas.com, Kamis (3/7/2020).

Mungkinkah pembelajaran jarak jauh diterapkan permanen? 

Sebagai bagian dari proses pembelajaran

Pengamat pendidikan Doni Koesoema menilai, maksud pernyataan Nadiem adalah pembelajaran jarak jauh sebagai bagian dari proses pembelajaran.

"Baik yang sifatnya penuh, maupun hybrid, model daring dan luring. Kalau untuk yang pembelajaran jarak jauh penuh, saya rasa belum siap," kata Doni saat dihubungi Kompas.com, Jumat (3/7/2020).

Jika model pembelajaran jarak jauh tersebut diterapkan, lanjut Doni, hanya ada sebagian satuan pendidikan yang khusus untuk hal itu.

Menurut Doni, untuk model pembelajaran jarak jauh dan tatap muka atau blended learning, masih memungkinkan untuk dilaksanakan.

"Kalau untuk pembelajaran jarak jauh permanen, saya rasa harus ada penelitiannya dulu. Karena saat ini pembelajaran jarak jauh masih mempersyaratkan pertemuan tatap muka dengan tutor, terutama di sekolah terbuka. Namun ini bukan kondisi ideal," ujar Doni.

Ia mengatakan, perlu kajian akademis yang berbasis riset untuk melihat tujuan dan sasarannya sebelum penerapan pembelajaran jarak jauh.

Sekolah dan guru, lanjut Doni, harus diberdayakan dalam mengembangkan manajemen halaman pembelajaran di sekolah mereka masing-masing.

"Bukan dengan langganan platform daring berbayar," kata Doni.

Alasannya, orientasi pembelajaran yang dikembangkan UNESCO mengarah pada kemandirian guru dan sekolah dalam memanfaatkan teknologi.

Oleh sebab itu, guru harus mendesain sendiri pembelajarannya.

"Kalau masing-masing sekolah memiliki platform yang mereka kembangkan, platform ini bisa dishare ke sekolah lain sehingga alternatif pembelajaran semakin banyak," kata Doni.

Pembelajaran tatap muka lebih efektif

Doni berpendapat, hingga saat ini, pembelajaran dengan metode tatap muka lebih efektif dan efisien.

Berdasarkan riset di AS, kata dia, mahasiswa di Negeri Paman Sam tersebut tidak terlalu menyukai pembelajaran jarak jauh.

Para mahasiswa ingin kembali ke kampus mereka karena menginginkan proses pendidikan berlangsung dengan tatap muka.

"Karena sebenarnya pendidikan itu jarak dekat, bukan jarak jauh. Pembelajaran jarak jauh hanyalah alternatif belajar saat situasi normal belum bisa dilaksanakan. Kalau sudah normal, pendidikan itu akan efektif lewat perjumpaan langsung," kata Doni.

Menurut Doni, pendidikan secara tatap muka tidak akan dihapuskan karena sudah terbukti efektivitasnya.

Dengan memaksakan semua sekolah dan perguruan tinggi belajar dengan pembelajaran jarak jauh, menurut dia, akan mendiskriminasi kelompok-kelompok tertentu yang tidak memiliki kemampuan dan akses pada sarana teknologi digital.

"Kalau pembelajaran jarak jauh nantinya dilakukan sebagai satu-satunya metode belajar, ini justru akan mempermiskin berbagai macam metode belajar yg selama ini sudah terbukti efektif membentuk karakter siswa," kata Doni.

Doni menyebutkan, hidup adalah tanggapan terhadap realitas. Bila semua dilakukan secara daring atau online, akan ada hal fundamental yang hilang dalam pembelajaran.

Sesuatu yang hilang itu adalah sentuhan pengalaman pada realitas melalui interaksi dalam pembelajaran.

Tak bisa diterapkan untuk semua jenjang

Sementara itu, pengamat pendidikan Darmaningtyas menilai, pernyataan Nadiem menyatakan bahwa pembelajaran jarak jauh itu bisa dilakukan dengan hybrid model.

Model ini dianggapnya hanya cocok bagi sekolah kategori tertentu.

"Kalau seperti itu yang dimaksudkan dengan hybrid model, maka itu cocok untuk murid-murid SMA yang masa lalu masuk kategori favorit sehingga fasilitas sekolah cukup, fasilitas pribadi (laptop, WIFI) pun ada," kata Darmaningtyas, saat dihubungi secara terpisah, Jumat.

"Tapi kalau untuk semua jenjang pendidikan, tentu Mas Nadiem ini tidak mengerti pendidikan," lanjut dia.

Darmaningtyas mengatakan, dunia pendidikan bukan hanya transfer pengetahuan semata, tetapi juga keterampilan dan nilai atau value yang diwujudkan dalam bentuk pendidikan karakter.

Hybrid model, menurut Darmaningtyas, hanya cocok untuk transfer pengetahuan, tetapi tidak cocok untuk transfer keterampilan dan transfer nilai.

"Pendidikan karakter itu bukan hanya pengetahuan saja, tapi teladan perilaku. Gerak tubuh murid saat diterangkan oleh guru, bagaimana cara murid menyapa guru, bergaul dengan sesamanya, pilihan kata-katanya dalam pergaulan. Semua itu dapat dipakai sebagai sarana melihat murid itu memiliki karakter tidak," papar dia.

Relasi sosial ini sangat penting untuk meniti karier maupun usaha setelah tamat dari sekolah.

"Kalau anak-anak sejak kecil sudah dikungkung di rumah dan belajar mandiri, selain akan melahirkan sikap yang individualis, juga akan melahirkan keterasingan di masa mendatang karena anak-anak tidak memiliki relasi sosial yang mereka butuhkan. Inilah sebetulnya bahaya dari pembelajaran jarak jauh secara permanen," kata Darmaningtyas.

Artikel Asli